Archive for July, 2011
tambahan pengetahuan
Posted by narinawati in Uncategorized on July 18, 2011
ini adalah komen dari teman saya, Nova Kurniawan, atas post saya sebelum ini, disini.
Rin, aku pernah nanya soal ini ke Andi Eko Saputra temen kita FEB tentang beramal dengan mengharapkan surga… dan jawabannya seperti ini…
“Saya juga belum pernah mendengar atau membaca hadist semacam itu. Kalaupun ada hadist yang secara dhohir (redaksional) mengatakan demikian tadi, mungkin penafsiran yang dikehendaki bukanlah sebagaimana yang dikatakan oleh penanya. Karena apabila dimaknai dengan penafsiran yang demikian tadi,
maka akan bertentangan dengan begitu banyak dalil shohih yang ada kaitannya dengan keikhlasan.
Sejauh yang saya tahu, perkataan yang demikian tadi,
hanyalah merupakan perkataan dari sebagaian ulama yang berpemahaman sufi / tasawufHadist yang secara nyata membantah perkataan tersebut,
salah satu di antaranya (yang sering kita dengar): “man shouma romadhona imanan wah tisaban ghufiro lahu ma taqoddama min dambih” (barangsiapa berpuasa Romadhon karena iman dan menghitung-hitung pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya di masa lalu). HR Mutafaqqun ‘alaih (Bukhari-Muslim)
Kita diperintahkan untuk berpuasa romadhon (beramal sholih) dengan iman dan mengharap pahala. Sehingga tidaklah salah apabila amal sholih diniatkan untuk menggapai surga/pahala. Bahkan, demikian inilah “konsep keikhlasan” yang difahami oleh para Nabi, Rosul, dan orang2 sholih di masa itu. Bukannya seperti yang mereka (orang2 sufi ) katakan itu.Dalil aqli dalam masalah itu (hanya sebagai penguat
saja, bukan dalil utama):Apabila dikatakan bahwa: “saya beramal sholih adalah
karena cinta kepada Alloh, bukan karena mengharap surga dan takut pada neraka” (*sepintas, bagi sebagian orang, kata2 semacam ini mungkin terdengar indah, inilah salah satu wujud tipu daya syaithon. Dia menjadikan kesesatan terdengar indah oleh sebagian orang)
Maka, berarti secara tersirat dia mengatakan:
1 1. Dia
tidak butuh pada surga Alloh dan tidak pula butuh pada perlindungan Alloh dari api neraka. Dan ini adalah suatu kesombongan.2. Apabila
tidak ada surga dan tidak ada pula neraka, dia akan tetap beramal sholih. à sepintas mungkin ini terdengar bagus. Namun, coba perhatikan. Dia seolah memunculkan alternative ketiadaan surga dan neraka. Padahal keduanya sudah jelas tentu ada.
3. 3. Jika
dia benar2 cinta kepada Alloh, maka seharusnya dia mengikuti jalannya
Rasulullah SAW, bukan dengan mencari2 jalan (konsep keikhlasan) sendiri. Bukankah Alloh
telah berfirman dalam QS Ali Imron 31: “qul in kuntum tuhibbunalloha fattabi’uni, yuhbib kumullohu wayaghfirlakum dzunubakum” (arti: katakanlah, jika kamu mencintai Alloh, maka ikutilah aku (Muhammad SAW); niscaya Alloh akan mencintaimu dan mengampuni dosa2mu). Sesungguhnya
konsep keikhlash-an Rasulullah SAW adalah dengan mengharap surga dan takut pada neraka.Adapun hadits tentang
ancaman atas orang yang tidak ikhlash dalam beramal, salah satunya:Dalam Kitab al-Imarah Imam Muslim meriwayatkan
hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang sekiranya akan dia peroleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu sampai akhirnya aku mati syahid.’ Allah berkata, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu berperang demi mendapatkan julukan sebagai orang yang gagah berani, dan hal itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian, ada seorang lelaki yang suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta pandai membaca al-Qur’an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Di menjawab, ‘Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur’an untuk-Mu.’ Allah mengatakan, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi
mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur’an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya, seorang
lelaki yang Allah lapangkan untuknya harta dan Allah berikan kepadanya berbagai jenis kekayaan. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh dengan sebab amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah
bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Tidak pernah aku lewatkan satu perkara pun yang Engkau sukai untuk aku berinfak kepadanya, melainkan aku pasti telah menginfakkan hartaku padanya karena-Mu.’ Allah berkata, ‘Dusta
kamu. Sebenarnya kamu lakukan itu
agar kamu disebut sebagai dermawan, dan hal itu telah kamu dapatkan. Kemudian orang itu pun diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim [1905], lihat Syarh Muslim [6/531-532]) Hadist saya
copas dari: http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/
Sebagaimana
dapat kita pahami, hadist tersebut tidaklah semakna dengan yang dinyatakan oleh penanya.Untuk pembahasan lain
mengenai keikhlas-an silakan baca: http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2867-apakah-ikhlas-berarti-tidak-boleh-mengharap-pahala-dan-surga-.html
Tambahan:
Pembahasan mengenai hal ini, mungkin akan
mengingatkan kita pada salah satu lagu grup band “Dewa”:Jika surga dan neraka tak pernah ada…
Masih kah kau sujud kepadanya…*ini seolah menyindir orang yang beribadah karena
mengharap surga (pahala) dan takut neraka (dosa)..Faham inipun akhirnya menularkan pada lirik lagu grup
band lainnya (Padi):
“Meskipun
aku di surga mungkin aku tak bahagia, bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu”
Ini menunjukkan betapa kesesatan telah menjadi wabah nyata, yang dilantunkan secara terselubung ke telinga2 kaum muslimin.. dan bahkan terkadang sebagian kaum muslimin pun (entah sadar/tidak) melantunkannya pula..Wallohu ta’ala a’lam…”
Secara pribadi jujur aku jauh lebih bersemangat ketika benar2 termotivasi oleh surga rin, membayangkan detail surga dengan segala kenikmatannya, itu bener2 energi yang kuat buat mendorong kalo kita lagi jatuh atau ga semangat… Bener2 luar biasa, menggantungkan surga tepat 5cm di depan kening kita…
walaupun tentu kita juga harus yakin bahwa amal memang bukan satu2nya yang berperan memasukkan kita ke surga, tetapi atas ridho dan cinta-Nya…
mungkin komenku bisa jadi pembanding ya… ^^
Andai bukan karena cinta-Nya kepadaku
Posted by narinawati in Uncategorized on July 15, 2011
Oleh : M. Lili Nur Aulia
dalam majalah Tarbawi edisi 240, Desember 2010.
Seharusnya kita mengerti adanya perbedaan mendasar, antara bekerja dan menerima upah bekerja antara sesama manusia, dengan bekerja lalu menerima pahala antara manusia dan Allah Swt. Sebagian orang rancu menganggap beramal atau bekerja dalam hubungan antar manusia, sama dengan beramal dalam hubungan dirinya dengan Allah Swt.
Contohnya begini. Bila ada salah seorang dari kita bekerja dan berhak mendapat upah sebuah kebun. Apakah sama kondisinya, bila salah seorang kita beramal dan berhak mendapat balasan dari Allah Swt berupa surga? Atau ungkapan sederhananya, apakah kita berhak mendapatkan balasan surga dari Allah swt karena amal-amal yang kita lakukan? Seperti kita berhak mendapatkan upah dari manusia karena pekerjaan yang kita lakukan.
Saudaraku,
Jika itu bagian dari anggapan kita, berarti kita ungkapan dalam pikiran kita adalah “Allah akan membalas pahala kepadaku, karena aku telah melakukan amal shalih sesuai perintah-Nya.” Dan bila itu yang terjadi itulah yang dikatakan mengandalkan amal, bukan mengedepankan Allah swt saat kita beramal.
Mari kita kaji lebih jauh masalah ini. Para salafusshalih memiliki pandangan yang begitu dalam tentang hubungan amal seseorang dengan harapan penuh kepada pahala yang akan Allah berikan kepadanya. Dalam kitab Al Hikam tulisan Ibnu Athaillah misalnya, ia mengatakan “Termasuk tanda seorang bersandar kepada amalnya, adalah sikap kurang memiliki harapan saat terpeleset dan melakukan dosa.” Ungkapan Ibnu Athaillah ini adalah anjuran agar kita benar-benar bersandar pada ridha Allah, bukan kepada pahala dan ganjaran yang Allah akan berikan atas amal yang kita lakukan itu. Shalat, puasa, shadaqah, beragam amal shalih. Kita benar-benar berharap atas kelembutan, kasih saying dan kemurahan Allah swt pada amal-amal itu sendiri.
Bagaimana mendudukkan logika ini secara lebih terang?
Syaikh Al Buthi, saat menjelaskan ungkapan Ibnu Athaillah itu menguraikan “Ketika Allah swt memerintahkan kita dengan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya, Allah swt menolong, membantu, memfasilitasi kita melakukan itu semua. Siapa yang menjadikan kita mampu mendirikan shalat? Siapa yang menjadikan kita kuat menahan lapar dan haus saat puasa? Siapa yang melapangkan hati kita untuk bisa menerima keimanan? Siapa yang menjadikan kita mau dan sanggup melangkah lalu mendatangi masjid untuk melakukan shalat berjamaah? Allah swt. Itulah sebabnya, Allah swt berfirman “Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah:”Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Q.S Al Hujuraat : 17).
Amal saja, bukan jaminan untuk masuk surga. Jadi, yang diminta dari kita adalah melakukan ketaatan dengan perasaan ingin mendapatkan ridha Allah dan pahala dari Allah. Mengharap kemurahan Allah, ampunan-Nya, kelembutan Allah kepada kita melaluui amal-amal shalih yang dilakukan. Ada sandaran hadits yang paling tepat untuk masalah ini. Rasulullah saw bersabda,” Amal takkan memasukkan seseorang kalian ke dalam surga.” Sahabat bertanya,”Apakah termasuk engkau ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab,”Termasuk aku kecuali Allah meliputiku dengan Kasih Sayang-Nya.”
Saudaraku,
Salah satu ciri orang yang mengandalkan amal dalam mengerjakan ketaatan, adalah ketika ia sedikit harapannya untuk bisa mendapatkan ampunan Allah swt saat melakukan kesalahan. Itu sambungan perkataan Ibnu Athaillah ra. Artinya, ketika amal-amal yang kita lakukan sedikit, sementara kita juga melakukan dosa, hendaknya kita tetap memohon, meminta dan berharap kepada Allah swt untuk terus memberi ampunan. Tidak pesimis atas rahmat Allah swt.
Mari merenung saudaraku,
Jangan sampai kita berkhayal dengan modal amal-amal shalih yang kita lakukan di dunia ini, lalu kita berarti telah menebus harga untuk berhak masuk surga. Sebab ketika kita bersyukur secara lisan atas karunia Allah kepada kita, kita juga harus bersyukur atas nikmat Allah yang menggerakkan lisan dan hati ini untuk bersyukur. Jika kita berdiri salat malam, maka kita harus bersyukur memuji Allah yang telah menolong dan membantu kita untuk berdiri di hadapan-Nya, di tengah malam. Andai bukan karena kecintaan Allah kepada kita, andai bukan karena pertolongan Allah dan bantuan Allah kepada kita, andai bukan karena kebaikan dan keMaha-Lembutan Allah kepada kita, kita takkan bisa melakukan itu semua.
Saudaraku,
Ada kisah seorang istri shalihat di zaman salafushalih. Suatu malam, sang suami bangun tengah malam dan melihat istrinya sedang salat di salah satu sudut rumahnya. Dalam salat itu, ia mendengar ungkapan yang diucapkan istrinya saat sujud. “Ya Allah sungguh aku memohon cinta-Mu kepadaku untuk bisa membahagiakanku, menjadikan aku sehat dan menjadikan aku mulia di hadapan-Mu.. dan seterusnya.
Sang suami heran mendengar doa ini. Ia menunggu sampai istrinya selesai salat dan memanggilnya,”mengapa engkau meminta seperti itu kepada Allah. Katakanlah “Ya Allah dengan cintaku kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu agar membahagiakan aku, memuliakan aku, … dan seterusnya. Istrinya menjawab,” suamiku, andai bukan karena cinta-Nya kepadaku, maka aku takkan sanggup bangun di waktu seperti sekarang ini. Andai bukan karena-Nya kepadaku, aku takkan bisa berdiri di hadapan-Nya sekarang. Andai bukan karena cinta-Nya kepadaku, akupun takkan bisa berucap doa seperti tadi..”
Saudaraku,
Seperti itulah ruh dari doa yang dikisahkan Syaikh Al Buthi, bahwa salah satu yang diajarkan ayahnya dalam doa adalah dengan mengatakan, “Ya Rabb, aku bersyukur kepada-Mu, akan tetapi Engkaulah yang menginspirasikan aku untuk bersyukur kepada-Mu. Maka syukurku kepada-Mu mengharuskan aku bersyukur pula karena Engkau telah membantuku untuk bisa bersyukur kepada-Mu. Engkaulah Pencipta segala sesuatu. Engkaulah Yang Maha Lembut kepadaku di setiap keadaan..”
Renungan Senja
Posted by narinawati in Uncategorized on July 13, 2011
(sebenarnya ini tulisan beberapa waktu lalu, baru sempat post. Spesial buat ibuku yang biasa aku panggil “mamak” yang hari ini berulang tahun. Selamat ulang tahun, barakallah ummi ^^)
Aku duduk di tepian gubuk di ladang kami. Pule begitu warga kampung biasa menyebutnya. Ibuku, menuruni sedikit batu, menuju ngoro-oro (daerah yang lapang semacam lereng gunung) untuk memeriksa pisang yang terlihat menguning dari tempatku duduk. Saat itu ngoro-oro ladang kami penuh tanaman singkong dan kacang. Tanaman singkong tingginya sekitar tinggiku, kurang lebih 150cm. Tinggi tanaman kacang sudah mencapai lututku. Daunnya masih hijau rimbun. Ibuku, yang tidak lebih tinggi dariku, tenggelam di antara tanaman kacang dan singkong. Aku melamun. Menikmati pemandangan dari tempatku duduk. Sekelilingku adalah bukit, penuh dengan tanaman jati. Sore itu langit cerah dan beberapa burung tampak beterbangan. Alhamdulillah. Sesuatu yang selalu aku rindukan bila aku jauh dari kampung ini.
Aku teringat adikku. Aku membatin. Sore ini, ketika ibuku sedang sibuk di ladang, entah mencari rumput untuk sapi, atau mengurusi semua tanaman yang ada, adikku pasti sedang menikmati pelajaran di ruang kelas tempat dia les. Di tempat dulu aku juga les. Aku mengingat keadaanku ketika aku di Jogja. Bagaimana aku melewatkan soreku. Ya Allah, aku ingin menangis. Sore dimana ibuku membanting tulangnya untuk mengusahakan segala cara agar kebutuhan kami terpenuhi, aku malah melakukan hal yang terkadang sangat tidak manfaat.
Usai memetik pisang, ibu memanggilku, meminta bantuan untuk membawa pisang itu ke gubuk. Berat memang. Pisang ambon satu tandan itu sudah matang sebagian. Ibu menyembunyikannya di bawah rendheng (pohon kacang yang telah kering) agar tidak dimakan monyet. Ladang kampung kami sering didatangi monyet akhir-akhir ini. Kata simbah, karena monyet itu sudah kehilangan habitat aslinya, di daerah Sodhong, selatan Puslatpur Paliyan. Aku ditugaskan untuk membawa kacang yang telah kering. Diikat cukup kuat oleh ibu, dan aku ingat aku sempat protes, mesti abot kui (pasti itu berat), tapi ibu bilang wis garing iki ki, ora nek abot (ini sudah kering, tidak berat). Aku hanya mengangguk dan membungkukkan badan ketika ibu meletakkan satu ikat kacang itu dipunggungku. Dan memang tidak berat, hehe.
Kami beranjak ke petak ladang yang lain. Ibu akan mencari rumput. Akhirnya bukan rumput yang dipetik, tapi ibu memotong sebagian pohon singkong yang terlalu rimbun. Ikatan ibuku lebiiih banyak dan itu sangat tidak proporsional dengan ukuran tubuh beliau. Ibuku hanya seukuranku. Bahkan aku lebih tinggi dan lebih berat dari beliau. Aku yang berjalan di belakang beliau kembali berdecak kagum dan sekaligus malu. Ibuku adalah ibu nomor satu bagiku (yaiyalah! Masa aku mbanggain ibunya temanku, hehehe).
Sambil berjalan pulang, aku mengingat hal-hal yang sering ibu lakukan. Saat ibu seusiaku, aku sudah berusia 4 tahun. Ibu yang hanya sempat menyiapkan teh setiap pagi. Ibu yang ketika lelahnya belum juga hilang sudah harus kembali ke ladang untuk mengurus berbagai tanaman. Ya Allah, sayangilah ibuku seperti beliau menyayangi kami, dan berikan yang terbaik untuk beliau sebagaimana beliau selalu mengusahakan yang terbaik untuk kami, anak-anaknya. aamiin
Kakek Mata Biru
Posted by narinawati in Uncategorized on July 8, 2011
(ditulis ulang berdasarkan sebuah buku cerita usang karya Enyd Bliton).
Pada suatu hari Sammy bertemu dengan Kakek Mata Biru. Matanya berwarna biru jernih seperti langit, wajahnya kemerah-merahan dan selalu tersenyum. Semua orang menyukai Kakek Mata Biru. Begitu pula Sammy. Ia menyukai Kakek Mata Biru karena lelaki tua itu selalu riang gembira.
“Halo, halo!” sapa Kakek Mata Biru sambil berhenti di dekat Sammy. “Kau masih saja suka memberengut dan cemberut! Alangkah sayangnya wajahmu akan jadi buruk jika kau tua nanti!”
“Ibuku mengatakan begitu juga,” ucap Sammy. “Katanya wajah seseorang terbentuk ketika ia masih kecil. Tapi itu kan tidak benar, Kakek Mata Biru?”
“Tentu saja benar!” sahut Kakek Mata Biru. “Ikutlah ke rumahku sebentar, Sammy. Aku punya cermin ajaib. Pada cermin itu kau bisa melihat bahwa yang dikatakan ibumu memang benar. Wajah seseorang terbentuk pada masa kanak-kanaknya!”
Cermin ajaib! Menarik sekali kedengarannya. Sammy berjalan di samping Kakek Mata Biru dengan hati berdebar-debar. Kakek Mata Biru mengajak Sammy masuk ke dalam rumahnya yang mungil tetapi rapi dan bersih. Sesampai di dalam, Kakek Mata Biru menunjuk pada dinding yang berwarna gelap. Sebuah cermin bulat berbingkai perak nampak berkilau-kilauan di sana.
“Nah, pandanglah dirimu dalam cermin itu sambil mendengarkan kata-kataku,” ujar Kakek Mata Biru. “Ayo kau akan menyaksikan sesuatu yang aneh.”
Maka Sammy berjalan mendekati cermin itu dan berdiri di depannya. Mula-mula tak nampak sesuatu olehnya, sebab ada semacam kabut yang bergerak-gerak menutupi permukaan cermin itu. Tetapi kemudian kabut itu menghilang, dan Sammy pun melihat pantulan wajahnya disana.
“Lihatlah wajahmu,” kata Kakek Mata Biru. “Sebenarnya wajahmu bisa nampak sangat manis, sebab kau mempunyai sepasang mata yang bagus bentuknya dan berwarna coklat, bentuk bibirmu indah, hidungmu mancung, dan rambutmu bergelombang.”
Yang dikatakan Kakek Mata Biru memang benar. Sammy bisa kelihatan sangat manis dan tampan bila tidak memberengut dan cemberut. Sammy masih terus memperhatikan wajahnya, sementara Kakek Mata Biru terus berbicara dengan perlahan-lahan dan dengan nada sedikit sedih.
“Tapi lihatlah kerut-kerut pada dahimu, garis-garis yang mengerikan diantara kedua matamu, dan bibirmu yang cemberut, lihatlah betapa suram mata coklatmu yang seharusnya berseri-seri! Perhatikanlah baik-baik!”
Kabut putih datang menutupi permukaan cermin hingga beberapa saat lamanya Sammy tidak bisa melihat apa-apa. Lalu kabut itu hilang. Betapa kagetnya Sammy, sebab nampak olehnya pada cermin itu pantulan wajahnya, tetapi ia kelihatan sudah lebih tua!
“Nah,” tambah Kakek Mata Biru. “Ini gambaran wajahnya sepuluh tahun lagi. Tetapi, kelihatannya sama sekali bukan pemuda yang menyenangkan bukan?”
Benar! Ia kelihatan garang dan sama sekali tidak ramah. Sammy tak suka melihatnya.
“Nampakkah olehmu garis-garis di dahi itu?” tanya Kakek Mata Biru. “Jadi lebih mengerikan daripada dulu, bukan? Garis-garis itu membuatnya kelihatan lebih tua! Lalu, bagaimana mulutnya? Jelek sekali, bukan? Mana ada orang yang mau berteman dengan pemuda seperti itu!”
“Tak mungkin ada yang mau,” ujar Sammy. “Aku tak suka melihat wajahnya. Itu bukan aku, kan?”
“Nah,” lanjut Kakek Mata Biru. “Betapa tidak menyenangkan dan mengerikan wajah orang tua itu! Ia tak punya kawan yang menyayanginya, dan tak seorangpun disayanginya, seekor anjing pun tidak. Kasihan ya?”
“Ya,”sahut Sammy pelan. “Aku tak mau jadi orang seperti dia. Cerminmu membuatku takut! Oh Kakek Mata Biru, orang-orang di cermin tadi bukan aku, kan?”
“Kelihatannya ya,” jawab Kakek Mata Biru. Suaranya sedih. “Orang bisa membentuk wajahnya sendiri, begitu pula hidup kita, bahagia atau tidak itu tergantung pada kita sendiri. Bukankah garis-garis itu dan kerutan-kerutan pada dahi orang-orang tadi persis seperti garis-garis dan kerutan-kerutan yang ada pada dahimu sekarang? Garis-garis dan kerutan-kerutan itu akan terbawa hingga kau dewasa nanti. Sayang sekali, Sammy kalau kau mau, kau bisa menjadi anak yang manis.”
Sammy menyelinap keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia sangat marah dan ketakutan. Ia tak mau jadi orang seperti orang –orang yang dilihatnya di dalam cermin tadi! Tapi, apa yang harus diperbuatnya agar tidak begitu? Sammy memandang wajahnya pada cerminnya sendiri di rumah.
“Akan kucoba tersenyum. Siapa tahu wajahku jadi lain,” pikirnya. Maka ia pun tersenyum. Astaga, betapa manisnya wajah anak laki-laki yang dilihatnya di cermin! Wajahnya kelihatan bersinar-sinar dan kerutan- kerutan di dahinya hilang.
“Orang pasti senang berteman denganku,” pikir Sammy. “Mulai sekarang aku takkan memberengut dan cemberut lagi. Jadi, wajahku takkan buruk kelak. Aku tak mau terlihat buruk dan garang seperti orang-orang di cermin tadi!”
Sejak saat itu Sammy tak pernah memberengut lagi. Ia sering tersenyum dan tertawa, bukannya cemberut dan mengomel. Ia ramah, dan sebentar saja temannya jadi banyak.
Tahukah kalian, bahwa wajah kalian itu sebenarnya kalian bentuk sendiri? Kita bisa memilih sendiri! Pergilah bercermin dan pilihlah sendiri, apakah kau ingin menjadi orang yang ramah dan menyenangkan atau menjadi orang yang garang atau memberengut.
Recent Comments