Oleh : M. Lili Nur Aulia
dalam majalah Tarbawi edisi 240, Desember 2010.
Seharusnya kita mengerti adanya perbedaan mendasar, antara bekerja dan menerima upah bekerja antara sesama manusia, dengan bekerja lalu menerima pahala antara manusia dan Allah Swt. Sebagian orang rancu menganggap beramal atau bekerja dalam hubungan antar manusia, sama dengan beramal dalam hubungan dirinya dengan Allah Swt.
Contohnya begini. Bila ada salah seorang dari kita bekerja dan berhak mendapat upah sebuah kebun. Apakah sama kondisinya, bila salah seorang kita beramal dan berhak mendapat balasan dari Allah Swt berupa surga? Atau ungkapan sederhananya, apakah kita berhak mendapatkan balasan surga dari Allah swt karena amal-amal yang kita lakukan? Seperti kita berhak mendapatkan upah dari manusia karena pekerjaan yang kita lakukan.
Saudaraku,
Jika itu bagian dari anggapan kita, berarti kita ungkapan dalam pikiran kita adalah “Allah akan membalas pahala kepadaku, karena aku telah melakukan amal shalih sesuai perintah-Nya.” Dan bila itu yang terjadi itulah yang dikatakan mengandalkan amal, bukan mengedepankan Allah swt saat kita beramal.
Mari kita kaji lebih jauh masalah ini. Para salafusshalih memiliki pandangan yang begitu dalam tentang hubungan amal seseorang dengan harapan penuh kepada pahala yang akan Allah berikan kepadanya. Dalam kitab Al Hikam tulisan Ibnu Athaillah misalnya, ia mengatakan “Termasuk tanda seorang bersandar kepada amalnya, adalah sikap kurang memiliki harapan saat terpeleset dan melakukan dosa.” Ungkapan Ibnu Athaillah ini adalah anjuran agar kita benar-benar bersandar pada ridha Allah, bukan kepada pahala dan ganjaran yang Allah akan berikan atas amal yang kita lakukan itu. Shalat, puasa, shadaqah, beragam amal shalih. Kita benar-benar berharap atas kelembutan, kasih saying dan kemurahan Allah swt pada amal-amal itu sendiri.
Bagaimana mendudukkan logika ini secara lebih terang?
Syaikh Al Buthi, saat menjelaskan ungkapan Ibnu Athaillah itu menguraikan “Ketika Allah swt memerintahkan kita dengan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya, Allah swt menolong, membantu, memfasilitasi kita melakukan itu semua. Siapa yang menjadikan kita mampu mendirikan shalat? Siapa yang menjadikan kita kuat menahan lapar dan haus saat puasa? Siapa yang melapangkan hati kita untuk bisa menerima keimanan? Siapa yang menjadikan kita mau dan sanggup melangkah lalu mendatangi masjid untuk melakukan shalat berjamaah? Allah swt. Itulah sebabnya, Allah swt berfirman “Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah:”Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Q.S Al Hujuraat : 17).
Amal saja, bukan jaminan untuk masuk surga. Jadi, yang diminta dari kita adalah melakukan ketaatan dengan perasaan ingin mendapatkan ridha Allah dan pahala dari Allah. Mengharap kemurahan Allah, ampunan-Nya, kelembutan Allah kepada kita melaluui amal-amal shalih yang dilakukan. Ada sandaran hadits yang paling tepat untuk masalah ini. Rasulullah saw bersabda,” Amal takkan memasukkan seseorang kalian ke dalam surga.” Sahabat bertanya,”Apakah termasuk engkau ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab,”Termasuk aku kecuali Allah meliputiku dengan Kasih Sayang-Nya.”
Saudaraku,
Salah satu ciri orang yang mengandalkan amal dalam mengerjakan ketaatan, adalah ketika ia sedikit harapannya untuk bisa mendapatkan ampunan Allah swt saat melakukan kesalahan. Itu sambungan perkataan Ibnu Athaillah ra. Artinya, ketika amal-amal yang kita lakukan sedikit, sementara kita juga melakukan dosa, hendaknya kita tetap memohon, meminta dan berharap kepada Allah swt untuk terus memberi ampunan. Tidak pesimis atas rahmat Allah swt.
Mari merenung saudaraku,
Jangan sampai kita berkhayal dengan modal amal-amal shalih yang kita lakukan di dunia ini, lalu kita berarti telah menebus harga untuk berhak masuk surga. Sebab ketika kita bersyukur secara lisan atas karunia Allah kepada kita, kita juga harus bersyukur atas nikmat Allah yang menggerakkan lisan dan hati ini untuk bersyukur. Jika kita berdiri salat malam, maka kita harus bersyukur memuji Allah yang telah menolong dan membantu kita untuk berdiri di hadapan-Nya, di tengah malam. Andai bukan karena kecintaan Allah kepada kita, andai bukan karena pertolongan Allah dan bantuan Allah kepada kita, andai bukan karena kebaikan dan keMaha-Lembutan Allah kepada kita, kita takkan bisa melakukan itu semua.
Saudaraku,
Ada kisah seorang istri shalihat di zaman salafushalih. Suatu malam, sang suami bangun tengah malam dan melihat istrinya sedang salat di salah satu sudut rumahnya. Dalam salat itu, ia mendengar ungkapan yang diucapkan istrinya saat sujud. “Ya Allah sungguh aku memohon cinta-Mu kepadaku untuk bisa membahagiakanku, menjadikan aku sehat dan menjadikan aku mulia di hadapan-Mu.. dan seterusnya.
Sang suami heran mendengar doa ini. Ia menunggu sampai istrinya selesai salat dan memanggilnya,”mengapa engkau meminta seperti itu kepada Allah. Katakanlah “Ya Allah dengan cintaku kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu agar membahagiakan aku, memuliakan aku, … dan seterusnya. Istrinya menjawab,” suamiku, andai bukan karena cinta-Nya kepadaku, maka aku takkan sanggup bangun di waktu seperti sekarang ini. Andai bukan karena-Nya kepadaku, aku takkan bisa berdiri di hadapan-Nya sekarang. Andai bukan karena cinta-Nya kepadaku, akupun takkan bisa berucap doa seperti tadi..”
Saudaraku,
Seperti itulah ruh dari doa yang dikisahkan Syaikh Al Buthi, bahwa salah satu yang diajarkan ayahnya dalam doa adalah dengan mengatakan, “Ya Rabb, aku bersyukur kepada-Mu, akan tetapi Engkaulah yang menginspirasikan aku untuk bersyukur kepada-Mu. Maka syukurku kepada-Mu mengharuskan aku bersyukur pula karena Engkau telah membantuku untuk bisa bersyukur kepada-Mu. Engkaulah Pencipta segala sesuatu. Engkaulah Yang Maha Lembut kepadaku di setiap keadaan..”
Rin, aku pernah nanya soal ini ke Andi Eko Saputra temen kita FEB tentang beramal dengan mengharapkan surga… dan jawabannya seperti ini…
“Saya juga belum pernah mendengar atau membaca hadist
semacam itu. Kalaupun ada hadist yang secara dhohir (redaksional) mengatakan demikian tadi, mungkin penafsiran yang dikehendaki bukanlah sebagaimana yang dikatakan oleh penanya. Karena apabila dimaknai dengan penafsiran yang demikian tadi,
maka akan bertentangan dengan begitu banyak dalil shohih yang ada kaitannya dengan keikhlasan.
Sejauh yang saya tahu, perkataan yang demikian tadi,
hanyalah merupakan perkataan dari sebagaian ulama yang berpemahaman sufi / tasawuf
Hadist yang secara nyata membantah perkataan tersebut,
salah satu di antaranya (yang sering kita dengar): “man shouma romadhona imanan wah tisaban ghufiro lahu ma taqoddama min dambih” (barangsiapa berpuasa Romadhon karena iman dan menghitung-hitung pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya di masa lalu). HR Mutafaqqun ‘alaih (Bukhari-Muslim)
Kita diperintahkan untuk berpuasa romadhon (beramal sholih) dengan iman dan mengharap pahala. Sehingga tidaklah salah apabila amal sholih diniatkan untuk menggapai surga/pahala. Bahkan, demikian inilah “konsep keikhlasan” yang difahami oleh para Nabi, Rosul, dan orang2 sholih di masa itu. Bukannya seperti yang mereka (orang2 sufi ) katakan itu.
Dalil aqli dalam masalah itu (hanya sebagai penguat
saja, bukan dalil utama):
Apabila dikatakan bahwa: “saya beramal sholih adalah
karena cinta kepada Alloh, bukan karena mengharap surga dan takut pada neraka” (*sepintas, bagi sebagian orang, kata2 semacam ini mungkin terdengar indah, inilah salah satu wujud tipu daya syaithon. Dia menjadikan kesesatan terdengar indah oleh sebagian orang)
Maka, berarti secara tersirat dia mengatakan:
1 1. Dia
tidak butuh pada surga Alloh dan tidak pula butuh pada perlindungan Alloh dari api neraka. Dan ini adalah suatu kesombongan.
2. Apabila
tidak ada surga dan tidak ada pula neraka, dia akan tetap beramal sholih. à sepintas mungkin ini terdengar bagus. Namun, coba perhatikan. Dia seolah memunculkan alternative ketiadaan surga dan neraka. Padahal keduanya sudah jelas tentu ada.
3. 3. Jika
dia benar2 cinta kepada Alloh, maka seharusnya dia mengikuti jalannya
Rasulullah SAW, bukan dengan mencari2 jalan (konsep keikhlasan) sendiri. Bukankah Alloh
telah berfirman dalam QS Ali Imron 31: “qul in kuntum tuhibbunalloha fattabi’uni, yuhbib kumullohu wayaghfirlakum dzunubakum” (arti: katakanlah, jika kamu mencintai Alloh, maka ikutilah aku (Muhammad SAW); niscaya Alloh akan mencintaimu dan mengampuni dosa2mu). Sesungguhnya
konsep keikhlash-an Rasulullah SAW adalah dengan mengharap surga dan takut pada neraka.
Adapun hadits tentang
ancaman atas orang yang tidak ikhlash dalam beramal, salah satunya:
Dalam Kitab al-Imarah Imam Muslim meriwayatkan
hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang sekiranya akan dia peroleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu sampai akhirnya aku mati syahid.’ Allah berkata, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu berperang demi mendapatkan julukan sebagai orang yang gagah berani, dan hal itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian, ada seorang lelaki yang suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta pandai membaca al-Qur’an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Di menjawab, ‘Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur’an untuk-Mu.’ Allah mengatakan, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi
mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur’an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya, seorang
lelaki yang Allah lapangkan untuknya harta dan Allah berikan kepadanya berbagai jenis kekayaan. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh dengan sebab amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah
bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Tidak pernah aku lewatkan satu perkara pun yang Engkau sukai untuk aku berinfak kepadanya, melainkan aku pasti telah menginfakkan hartaku padanya karena-Mu.’ Allah berkata, ‘Dusta
kamu. Sebenarnya kamu lakukan itu
agar kamu disebut sebagai dermawan, dan hal itu telah kamu dapatkan. Kemudian orang itu pun diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim [1905], lihat Syarh Muslim [6/531-532]) Hadist saya
copas dari: http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/
Sebagaimana
dapat kita pahami, hadist tersebut tidaklah semakna dengan yang dinyatakan oleh penanya.
Untuk pembahasan lain
mengenai keikhlas-an silakan baca: http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2867-apakah-ikhlas-berarti-tidak-boleh-mengharap-pahala-dan-surga-.html
Tambahan:
Pembahasan mengenai hal ini, mungkin akan
mengingatkan kita pada salah satu lagu grup band “Dewa”:
Jika surga dan neraka tak pernah ada…
Masih kah kau sujud kepadanya…
*ini seolah menyindir orang yang beribadah karena
mengharap surga (pahala) dan takut neraka (dosa)..
Faham inipun akhirnya menularkan pada lirik lagu grup
band lainnya (Padi):
“Meskipun
aku di surga mungkin aku tak bahagia, bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu”
Ini menunjukkan betapa kesesatan telah menjadi wabah nyata, yang dilantunkan secara terselubung ke telinga2 kaum muslimin.. dan bahkan terkadang sebagian kaum muslimin pun (entah sadar/tidak) melantunkannya pula..
Wallohu ta’ala a’lam…”
Secara pribadi jujur aku jauh lebih bersemangat ketika benar2 termotivasi oleh surga rin, membayangkan detail surga dengan segala kenikmatannya, itu bener2 energi yang kuat buat mendorong kalo kita lagi jatuh atau ga semangat… Bener2 luar biasa, menggantungkan surga tepat 5cm di depan kening kita…
walaupun tentu kita juga harus yakin bahwa amal memang bukan satu2nya yang berperan memasukkan kita ke surga, tetapi atas ridho dan cinta-Nya…
mungkin komenku bisa jadi pembanding ya… ^^