Archive for July 18th, 2011
tambahan pengetahuan
Posted by narinawati in Uncategorized on July 18, 2011
ini adalah komen dari teman saya, Nova Kurniawan, atas post saya sebelum ini, disini.
Rin, aku pernah nanya soal ini ke Andi Eko Saputra temen kita FEB tentang beramal dengan mengharapkan surga… dan jawabannya seperti ini…
“Saya juga belum pernah mendengar atau membaca hadist semacam itu. Kalaupun ada hadist yang secara dhohir (redaksional) mengatakan demikian tadi, mungkin penafsiran yang dikehendaki bukanlah sebagaimana yang dikatakan oleh penanya. Karena apabila dimaknai dengan penafsiran yang demikian tadi,
maka akan bertentangan dengan begitu banyak dalil shohih yang ada kaitannya dengan keikhlasan.
Sejauh yang saya tahu, perkataan yang demikian tadi,
hanyalah merupakan perkataan dari sebagaian ulama yang berpemahaman sufi / tasawufHadist yang secara nyata membantah perkataan tersebut,
salah satu di antaranya (yang sering kita dengar): “man shouma romadhona imanan wah tisaban ghufiro lahu ma taqoddama min dambih” (barangsiapa berpuasa Romadhon karena iman dan menghitung-hitung pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya di masa lalu). HR Mutafaqqun ‘alaih (Bukhari-Muslim)
Kita diperintahkan untuk berpuasa romadhon (beramal sholih) dengan iman dan mengharap pahala. Sehingga tidaklah salah apabila amal sholih diniatkan untuk menggapai surga/pahala. Bahkan, demikian inilah “konsep keikhlasan” yang difahami oleh para Nabi, Rosul, dan orang2 sholih di masa itu. Bukannya seperti yang mereka (orang2 sufi ) katakan itu.Dalil aqli dalam masalah itu (hanya sebagai penguat
saja, bukan dalil utama):Apabila dikatakan bahwa: “saya beramal sholih adalah
karena cinta kepada Alloh, bukan karena mengharap surga dan takut pada neraka” (*sepintas, bagi sebagian orang, kata2 semacam ini mungkin terdengar indah, inilah salah satu wujud tipu daya syaithon. Dia menjadikan kesesatan terdengar indah oleh sebagian orang)
Maka, berarti secara tersirat dia mengatakan:
1 1. Dia
tidak butuh pada surga Alloh dan tidak pula butuh pada perlindungan Alloh dari api neraka. Dan ini adalah suatu kesombongan.2. Apabila
tidak ada surga dan tidak ada pula neraka, dia akan tetap beramal sholih. à sepintas mungkin ini terdengar bagus. Namun, coba perhatikan. Dia seolah memunculkan alternative ketiadaan surga dan neraka. Padahal keduanya sudah jelas tentu ada.
3. 3. Jika
dia benar2 cinta kepada Alloh, maka seharusnya dia mengikuti jalannya
Rasulullah SAW, bukan dengan mencari2 jalan (konsep keikhlasan) sendiri. Bukankah Alloh
telah berfirman dalam QS Ali Imron 31: “qul in kuntum tuhibbunalloha fattabi’uni, yuhbib kumullohu wayaghfirlakum dzunubakum” (arti: katakanlah, jika kamu mencintai Alloh, maka ikutilah aku (Muhammad SAW); niscaya Alloh akan mencintaimu dan mengampuni dosa2mu). Sesungguhnya
konsep keikhlash-an Rasulullah SAW adalah dengan mengharap surga dan takut pada neraka.Adapun hadits tentang
ancaman atas orang yang tidak ikhlash dalam beramal, salah satunya:Dalam Kitab al-Imarah Imam Muslim meriwayatkan
hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang sekiranya akan dia peroleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu sampai akhirnya aku mati syahid.’ Allah berkata, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu berperang demi mendapatkan julukan sebagai orang yang gagah berani, dan hal itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian, ada seorang lelaki yang suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta pandai membaca al-Qur’an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Di menjawab, ‘Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur’an untuk-Mu.’ Allah mengatakan, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi
mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur’an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya, seorang
lelaki yang Allah lapangkan untuknya harta dan Allah berikan kepadanya berbagai jenis kekayaan. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh dengan sebab amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah
bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Tidak pernah aku lewatkan satu perkara pun yang Engkau sukai untuk aku berinfak kepadanya, melainkan aku pasti telah menginfakkan hartaku padanya karena-Mu.’ Allah berkata, ‘Dusta
kamu. Sebenarnya kamu lakukan itu
agar kamu disebut sebagai dermawan, dan hal itu telah kamu dapatkan. Kemudian orang itu pun diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim [1905], lihat Syarh Muslim [6/531-532]) Hadist saya
copas dari: http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/
Sebagaimana
dapat kita pahami, hadist tersebut tidaklah semakna dengan yang dinyatakan oleh penanya.Untuk pembahasan lain
mengenai keikhlas-an silakan baca: http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2867-apakah-ikhlas-berarti-tidak-boleh-mengharap-pahala-dan-surga-.html
Tambahan:
Pembahasan mengenai hal ini, mungkin akan
mengingatkan kita pada salah satu lagu grup band “Dewa”:Jika surga dan neraka tak pernah ada…
Masih kah kau sujud kepadanya…*ini seolah menyindir orang yang beribadah karena
mengharap surga (pahala) dan takut neraka (dosa)..Faham inipun akhirnya menularkan pada lirik lagu grup
band lainnya (Padi):
“Meskipun
aku di surga mungkin aku tak bahagia, bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu”
Ini menunjukkan betapa kesesatan telah menjadi wabah nyata, yang dilantunkan secara terselubung ke telinga2 kaum muslimin.. dan bahkan terkadang sebagian kaum muslimin pun (entah sadar/tidak) melantunkannya pula..Wallohu ta’ala a’lam…”
Secara pribadi jujur aku jauh lebih bersemangat ketika benar2 termotivasi oleh surga rin, membayangkan detail surga dengan segala kenikmatannya, itu bener2 energi yang kuat buat mendorong kalo kita lagi jatuh atau ga semangat… Bener2 luar biasa, menggantungkan surga tepat 5cm di depan kening kita…
walaupun tentu kita juga harus yakin bahwa amal memang bukan satu2nya yang berperan memasukkan kita ke surga, tetapi atas ridho dan cinta-Nya…
mungkin komenku bisa jadi pembanding ya… ^^
Recent Comments