Archive for November 16th, 2011

RINDU SIMBAH

Malam ini saya terjangkit sindrom “kerinduan”. Sebelum ramadhan saya menyempatkan ziarah ke makam simbah, minggu pertama kakak almarhum simbah berpulang, kemarin sore salah satu teman bercerita tentang rindunya pada simbahnya, saya ikut-ikutan kangen simbah. Simbah dari Bapak sudah berpulang dua-duanya. Simbah putri meninggal awal tahun 2007, lalu simbah kakung menyusul pada November 2008. Hanya satu tahun berselang, itu cukup menunjukkan bahwa simbah kakung tidak bisa hidup tanpa simbah putri. Akan tetapi, sungguh bukan itu yang akan saya paparkan. Saya rindu sosok beliau berdua.

Simbah putri, adalah salah satu pembela saya ketika saya bertengkar dengan ibu. Beliau selalu ada di pihak saya walau tahu sebenarnya mungkin sayalah yang bersalah. Beliau yang membersihkan rambut saya dari “getah” nangka, yang mendengarkan saya curhat tentang teman sekelas saya ketika saya masih SD, yang tehnya saya serobot ketika saya masih kecil entah usia berapa. Beliau yang rajin menyisihkan makanan dan uang untuk cucu-cucunya walau tak seberapa. Beliau yang melupakan saya ketika saudara dari jauh datang. Ah tapi itu tak jadi soal ketika saya mengingat lagi banyak hal yang beliau lakukan semasa hidupnya. “janganku seger tho? (sayurku segar kan?)” kata beliau dulu tiap kali saya makan di rumahnya. Rumah simbah hanya di belakang rumah saya, tapi itu jadi pelarian paling manjur kalau saya ada perdebatan dengan bapak ibu.

Simbah kakung memiliki cerita yang lain lagi. Beliau adalah sosok yang lebih banyak diam dengan pembawaan yang tenang. Simbah kakung selalu menyempatkan menyapa setiap tamu yang datang ke rumah kami, entah itu tamu bapak, atau teman-teman saya. Semenjak simbah putri sakit, simbah kakung tidak pernah jauh dari sisi simbah putri. Menemani beliau siang malam, menyuapi simbah putri makan, mengajak bercerita, dan membantu dalam banyak hal. Ketika simbah putri berpulang, simbah kakung terlihat tabah di depan anak-anaknya, namun dalam hati beliau, hanya beliau yang tahu. Hari-hari setelahnya simbah kakung tidak banyak beraktivitas, hanya di rumah menunggu rumah dan mengerjakan hal di rumah yang masih mampu beliau lakukan. Tempat favorit beliau adalah pojok timur teras depan rumah. Beliau sering duduk di sana, dan menyapa tetangga yang lewat di jalan depan rumah. Salah satu tetangga saya bahkan tidak berani lagi lewat depan rumah kami sendirian karena trauma dan terbayang-bayang simbah kakung. Pagi hari sebelum beliau meninggal, simbah kakung sempat menyapanya. Tujuh hari setelah simbah kakung meninggal, ketika saya melihat teras depan, saya merasa masih menemukan simbah duduk disana, melepas keberangkatan saya untuk ke jogja.

16 agustus besok adalah 1000 hari meninggalnya simbah kakung. Mungkin ini berkontribusi dalam muncul rindu ini.

Leave a Comment

Bau Tanah

Sebelum tahun 2007, masjid  al Fattah kampung kami hanyalah sebuah masjid mungil. Untuk tarawih harian saja tidak memadai untuk menampung jama’ah, apalagi ketika hari raya tiba, sampai harus menutup jalan raya (wajarlah ya, dimana-mana juga gitu, he). Pada tarawih harian, paling tidak, ada satu shaf yang di halaman. Halaman yang masih belum rata. Halaman tanah beserta batu dan kerikil yang menonjol. Dan bisa dipastikan, saya adalah salah satu penghuni shaf yang berada di halaman itu, he. Salah seorang kakak pernah mengkhawatirkan keadaan tersebut,”bagaimana kalau tidak rata tanahnya? Jadinya tidak sama dong posisi sujudmu?” wallahua’lam,, lha halaman masjid kami seperti itu kondisinya.

Ceritanya, saya tidak lagi memiliki “teman” di rumah, salah satunya karena jarang pulang, ditambah faktor lain, teman-teman saya sudah berkeluarga atau ada juga yang merantau ke luar kota. Untuk menyiasati hal tersebut, maka saya sering berangkat terakhir ke masjid. Ketika adzan selesai dikumandangkan, saya baru beranjak. Walhasil, serambi masjid sudah penuh (ruang utama digunakan untuk jama’ah laki-laki). Jadilah saya menggenapkan shaf yang di halaman.

Salat di shaf halaman memang memiliki banyak resiko. Suara imam yang terkadang tidak terdengar, suara kultum yang tidak tertangkap, dan dingin angin malam yang terkadang sampai menyibakkan sajadah. Namun bagi saya itu tidak terlalu jadi masalah. Masih banyak hal lain yang membahagiakan dan patut untuk disyukuri. J

  1. Bau tanah; karena salat di halaman langsung beralaskan sajadah di atas tanah, maka bau tanah jelas tercium ketika sujud. Ada sensasi dingin, harum, dan semacam haru ketika melakukan sujud. Hari ini saya merindukan itu.
  2. Beratapkan langit penuh bintang; kesulitan mendengarkan imam yang kultum, saya manfaatkan dengan menatap bintang dan menikmati angin dingin yang berhembus semilir. Terkadang saya sertakan perenungan tertentu. Dan lagi-lagi saya rindu itu. (menulis ini, saya hampir mbrebes mengingat itu)

Saat ini, Alhamdulillah serambi masjid kami sudah mampu menampung jama’ah putri, sudah beratap genteng, dan berlantai keramik. Dinginnya lain, dingin keramik dan dingin angin malam (masjid kami terletak di atas bukit). Saya sangat mensyukuri keadaan masjid kami saat ini. Namun saya rindu, saya rindu masjid mungil kami dahulu, saya rindu bau tanahnya, saya rindu dingin angin malamnya, saya rindu syahdunya malam (jiahh mulai lebay). Ya Allah terimakasih atas anugerah rasa rindu ini.

(Kamar kolong tangga kana 5, 10.08.11)

Leave a Comment

AFTER SABATICAL PERIOD

Lama sekali saya tidak memposting sesuatu di blog ini. Beberapa hal cukup menyita perhatian dan salah satunya, saya tidak lagi di perpustakaan, jadi tidak bisa online sesuka hati, hehe. Padahal harga modem dah murah kan ya, :P saya tidak mengisi pulsa modem kecuali terpaksa harus buka email mendadak, so ekonomis sekalii.

Penyelesaian Tugas Akhir

Alhamdulillah tugas akhir saya akhirnya terselesaikan. Alhamdulillah, bantuan, doa, dukungan dari banyak pihak pastinya, semoga Allah membalas setiap kebaikan mereka dengan kebaikan yang lebih baik dan lebih kekal, aamiin.

Gara-gara tugas akhir, saya jalan-jalan keliling Jogja, berangkat dari sudut mana pulang dari sudut mana, menjelajah jalan-jalan baru di gang-gang kampong, yang jujur saja itu membuat saya ketagihan untuk mengulanginya lagi. Gara-gara tugas akhir, tiap kali lewan suatu daerah yang mungkin disana ada responden saya, dengan bangga saya bilang “di sana ada respondenku lho”. Penolakan, alamat yang tidak ketemu, telepon konfirmasi yang tidak dijawab, dan berbagai macam lika-likunya. Sebenarnya bukan hasil, tetapi prosesnya. Seperti saya mendoa, semoga seiring selesainya tugas akhir ini, tidak hanya tugas akhir saya yang hasilnya baik, semoga saya juga berproses untuk menjadi lebih baik. Apakah sekarang saya lebih baik? insyaAllah.

Hanya perlu “Kun” untuk menjadi Sarjana

Semoga saya tidak berlebihan. Benar-benar atas kuasa Allah saya bisa lulus sidang pendadaran dan ujian komprehensif. Hanya dengan kata “kun” dari Allah itu semua terjadi. Salah satu dosen penguji saya diganti, 2 jam menjelang ujian. Alhamdulillah diganti jadi dosen yang berhati malaikat.  =)

Pelajaran berharga adalah, berdoalah dengan benar, usaha dengan maksimal, dan setelahnya pasrahkan kepada Allah. Selama itu berprasangka baiklah. Karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya.

Satu Galau Berlalu, Disambut Galau Berikutnya

Galau tugas akhir telah usai, disambutlah galau berikutnya. Pasca kuliah. Mau kemana? Rencana setelah ini apa? Ah ya, itu pertanyaan yang familiar. Kerja, sekolah lagi, atau menikah? Hmm,. Saya pengen tiga-tiganya, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan keadaan, haha.

Saat ini saya masih memetakan perjalanan berikutnya sekaligus strateginya, mohon doanya semoga saya dimudahkan dan dikuatkan untuk mewujudkan apa yang saya citakan. Begitu juga dengan anda.

Mari Menggelora

“Kekhawatiran itu seperti kursi goyang, dia memberimu kesibukan tetapi tidak membawamu kemana-mana” –Zen Al-Habsyi-

Yakinlah bahwa kegalauan itu sama saja dengan kegalauan. Menyibukkan kita, menyita pikiran dan perhatian kita, tetapi tidak membawa kita kemana-mana, terutama ketika kita tidak mengambil tindakan. Mengutip dari buku “Tuesdays with Morrie” karya Mitch Albom, lakukanlah detachment. Saya memahaminya sebagai lakukanlah pelepasan terhadap masalahmu, perasaanmu. Sebagai contoh demikian, ketika anda sakit hati (oopss, curcol :P ), rasanya perih teriris, makan ndak enak, aduh macam-macam lah itu. Anda tahu itu rasa sakit hati, rasakan secara mendalam, dan menangis selama anda perlukan. Akan tetapi setelah itu, melangkahlah kembali. Lakukan hal-hal yang bermanfaat. Beranilah untuk mengatakan “cukup” atas perasaan sakit hati anda.

Setelahnya marilah kita menggelora,, menebarkan semangat. Saya bahagia sekali ketika suatu ketika teman saya mengapresiasi semangat saya dengan berkata “aku suka sama semangatmu”. (bersyukurlah dia tidak ada ketika saya tidak bersemangat, haha).

Boleh saja galau, daripada tenang tetapi tidak bertumbuh sama sekali. Jadikan galaumu sebagai pemicu bahwa kita bisa untuk lebih baik lagi. Mari menggelora, getarkan dunia dengan semangat kita. Tidak ada yang salah dari bersemangat, karena hidup tidak didesain tanpa halangan dan rintangan. Meskipun banyak jalan menuju Roma, yakinlah ada satu jalan yang paling efektif dan efisien diantara pilihan jalan yang lain.

Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.