Sebelum tahun 2007, masjid al Fattah kampung kami hanyalah sebuah masjid mungil. Untuk tarawih harian saja tidak memadai untuk menampung jama’ah, apalagi ketika hari raya tiba, sampai harus menutup jalan raya (wajarlah ya, dimana-mana juga gitu, he). Pada tarawih harian, paling tidak, ada satu shaf yang di halaman. Halaman yang masih belum rata. Halaman tanah beserta batu dan kerikil yang menonjol. Dan bisa dipastikan, saya adalah salah satu penghuni shaf yang berada di halaman itu, he. Salah seorang kakak pernah mengkhawatirkan keadaan tersebut,”bagaimana kalau tidak rata tanahnya? Jadinya tidak sama dong posisi sujudmu?” wallahua’lam,, lha halaman masjid kami seperti itu kondisinya.
Ceritanya, saya tidak lagi memiliki “teman” di rumah, salah satunya karena jarang pulang, ditambah faktor lain, teman-teman saya sudah berkeluarga atau ada juga yang merantau ke luar kota. Untuk menyiasati hal tersebut, maka saya sering berangkat terakhir ke masjid. Ketika adzan selesai dikumandangkan, saya baru beranjak. Walhasil, serambi masjid sudah penuh (ruang utama digunakan untuk jama’ah laki-laki). Jadilah saya menggenapkan shaf yang di halaman.
Salat di shaf halaman memang memiliki banyak resiko. Suara imam yang terkadang tidak terdengar, suara kultum yang tidak tertangkap, dan dingin angin malam yang terkadang sampai menyibakkan sajadah. Namun bagi saya itu tidak terlalu jadi masalah. Masih banyak hal lain yang membahagiakan dan patut untuk disyukuri. J
- Bau tanah; karena salat di halaman langsung beralaskan sajadah di atas tanah, maka bau tanah jelas tercium ketika sujud. Ada sensasi dingin, harum, dan semacam haru ketika melakukan sujud. Hari ini saya merindukan itu.
- Beratapkan langit penuh bintang; kesulitan mendengarkan imam yang kultum, saya manfaatkan dengan menatap bintang dan menikmati angin dingin yang berhembus semilir. Terkadang saya sertakan perenungan tertentu. Dan lagi-lagi saya rindu itu. (menulis ini, saya hampir mbrebes mengingat itu)
Saat ini, Alhamdulillah serambi masjid kami sudah mampu menampung jama’ah putri, sudah beratap genteng, dan berlantai keramik. Dinginnya lain, dingin keramik dan dingin angin malam (masjid kami terletak di atas bukit). Saya sangat mensyukuri keadaan masjid kami saat ini. Namun saya rindu, saya rindu masjid mungil kami dahulu, saya rindu bau tanahnya, saya rindu dingin angin malamnya, saya rindu syahdunya malam (jiahh mulai lebay). Ya Allah terimakasih atas anugerah rasa rindu ini.
(Kamar kolong tangga kana 5, 10.08.11)