RINDU SIMBAH

Malam ini saya terjangkit sindrom “kerinduan”. Sebelum ramadhan saya menyempatkan ziarah ke makam simbah, minggu pertama kakak almarhum simbah berpulang, kemarin sore salah satu teman bercerita tentang rindunya pada simbahnya, saya ikut-ikutan kangen simbah. Simbah dari Bapak sudah berpulang dua-duanya. Simbah putri meninggal awal tahun 2007, lalu simbah kakung menyusul pada November 2008. Hanya satu tahun berselang, itu cukup menunjukkan bahwa simbah kakung tidak bisa hidup tanpa simbah putri. Akan tetapi, sungguh bukan itu yang akan saya paparkan. Saya rindu sosok beliau berdua.

Simbah putri, adalah salah satu pembela saya ketika saya bertengkar dengan ibu. Beliau selalu ada di pihak saya walau tahu sebenarnya mungkin sayalah yang bersalah. Beliau yang membersihkan rambut saya dari “getah” nangka, yang mendengarkan saya curhat tentang teman sekelas saya ketika saya masih SD, yang tehnya saya serobot ketika saya masih kecil entah usia berapa. Beliau yang rajin menyisihkan makanan dan uang untuk cucu-cucunya walau tak seberapa. Beliau yang melupakan saya ketika saudara dari jauh datang. Ah tapi itu tak jadi soal ketika saya mengingat lagi banyak hal yang beliau lakukan semasa hidupnya. “janganku seger tho? (sayurku segar kan?)” kata beliau dulu tiap kali saya makan di rumahnya. Rumah simbah hanya di belakang rumah saya, tapi itu jadi pelarian paling manjur kalau saya ada perdebatan dengan bapak ibu.

Simbah kakung memiliki cerita yang lain lagi. Beliau adalah sosok yang lebih banyak diam dengan pembawaan yang tenang. Simbah kakung selalu menyempatkan menyapa setiap tamu yang datang ke rumah kami, entah itu tamu bapak, atau teman-teman saya. Semenjak simbah putri sakit, simbah kakung tidak pernah jauh dari sisi simbah putri. Menemani beliau siang malam, menyuapi simbah putri makan, mengajak bercerita, dan membantu dalam banyak hal. Ketika simbah putri berpulang, simbah kakung terlihat tabah di depan anak-anaknya, namun dalam hati beliau, hanya beliau yang tahu. Hari-hari setelahnya simbah kakung tidak banyak beraktivitas, hanya di rumah menunggu rumah dan mengerjakan hal di rumah yang masih mampu beliau lakukan. Tempat favorit beliau adalah pojok timur teras depan rumah. Beliau sering duduk di sana, dan menyapa tetangga yang lewat di jalan depan rumah. Salah satu tetangga saya bahkan tidak berani lagi lewat depan rumah kami sendirian karena trauma dan terbayang-bayang simbah kakung. Pagi hari sebelum beliau meninggal, simbah kakung sempat menyapanya. Tujuh hari setelah simbah kakung meninggal, ketika saya melihat teras depan, saya merasa masih menemukan simbah duduk disana, melepas keberangkatan saya untuk ke jogja.

16 agustus besok adalah 1000 hari meninggalnya simbah kakung. Mungkin ini berkontribusi dalam muncul rindu ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.