Sabtu, 10 Desember 2011, digelar walimatul ‘ursy pernikahan kesepuluh dalam teladan07, yaitu pernikahan Marlia Rahmawati Renaningtyas dengan Randi Abdullah. Pernikahan diselenggarakan di rumah mempelai wanita di Ds. Gatak, Kujon, Klaten.
Pagi itu Alhamdulillah cukup cerah, berangkatlah kami dari POM bensin Maguwo, spot kumpul, menuju Klaten. Kami dipandu oleh seorang adik yang katanya adalah temannya adiknya Lia (panjang bgt silsilahnya, he). Saya tidak tahu namanya, tapi makasih sekali ya dek. Perjalanan Alhamdulillah lancar, hanya mendekati pertigaan menuju rumah Lia, ada perbaikan jalan, jadi agak macet. Sebenarnya saya sudah sering mendengar kata Klaten, tapi belum pernah menjelajahinya secara utuh, hanya beberapa kali lewat, karenanya perjalanan kali ini sangat saya nikmati. Maaf ya fa, aku tidak datang ke wisudamu T,T
1,5 jam dibonceng ikko, akhirnya kami sampai di lokasi pernikahan, di rumah Lia tentunya. Di sana kami bertemu Oka, yang ternyata menjawab sebagai pendamping pengantin sepertinya, he. Lia amat cantik, dan masnya cukup ganteng (kata Felis dan Esti
). Lia sempat update status fb menjelang acara resepsi, yang kira-kira kata-katanya begini “its my day”. Haiii masih sempat ya update status, #dengan muka mupeng :p
Hal yang menarik adalah bagian khutbah nikah. Hehe. Salut untuk bapak yang menyampaikan khutbah nikah. Ringkasan khutbah yang sempat saya catat (niat banget ya,he);
“Modal utama dalam berumah tangga adalah tauhid kepada Allah. Bukan cinta. Cinta hanyalah bungkusnya saja. Tauhid kepada Allah kuat, cinta akan datang dengan sendirinya. Karena Allah yang memiliki cinta. Keadaan Sakinah Mawaddah wa Rahmah akan mengikuti.
Kewajiban suami kepada istri: 1) Memberikan Mahar 2) Mendidik istri ilmu untuk mengenal Allah 3) Memberikan nafkah lahir batin 4) Bergaul dengan cara yang baik.
Kewajiban istri kepada suami: 1)Taat, patuh, tunduk kepada suami selama suami masih dalam ketaatan kepada Allah 2)bergaul dengan penampilan yang terbaik. Segalanya hanya untuk suami”
Tidak bisa dipungkiri saya cekikikan mendengar khutbah itu. Ahh, betapa mulianya pernikahan, dan betapa besarnya tanggung jawab yang mengikuti. Saya cekikikan memandang diri saya, mampukah saya untuk itu? Biar Allah yang memampukan, dengan scenario indahNya.
Selesai acara kami mampir makan di Bakso Bendo Arab. Di sela makan maulvi bertanya kepada saya, Ikko, dan Felis, kalian kapan? Tidakkah kalian merasa khawatir? Kan teman-teman yang lain sudah menikah?. Kami mah ngakak ditanya begituan, belum ada calon, belum dapat kerjaan, belum ditanya ma orangtua, nyantai aja, kenapa khawatir terhadap sesuatu yang datangnya pasti, hanya belum tahu kapan. Mestinya khawatir tentang perbekalan menuju kehidupan pernikahan, kesiapan lahir batin kita.
Barakallah Lia =)
Salam kenal, senang sekali saya membaca artikel anda. Sangat informatif dan mudah dipahami. Pemaparan yang rinci dan enak dibaca. Terus berbagi ya…. saya akan sering mampir