Archive for January, 2012

KANA 5

KANA 5..

Desember 2011

(tulisan ini adalah hadiah. Saya baru saja selesai mengepak 40 paket untuk responden penelitian saya dulu, he. Masih kurang nempeli alamat saya, dan ke kantor pos,tapi saya rehat dulu -,-)

Kana 5 adalah rumah kos saya selama hampir 3,5tahun ini. Ini adalah rumah kos ke-4 sejak saya mulai indekos. Kana 5 berlokasi si jl Flamboyan, Gg Kana 5, Karangasem Baru, CT/X, Depok, Sleman. Gg Kana adalah gang yang sempit, beberapa teman saya sering lupa kalau mau mampir. Gang ini pas banget untuk lewat mobil, dan setelahnya akan terasa “kok gang ini kerasa lebih luas”, haha, yakin Cuma saya kok yang ngerasa gitu :P Rumah kos saya ini bertetanggaan dengan guru Sejarah saya waktu SMA, beliau adalah Bapak Didik Paranto. Rumah beliau pas banget depan rumah kos saya.

Kana 5 adalah sebuah rumah sederhana, amat sederhana, sebuah rumah induk (yang kecil), dan 9 kamar kos yang disewakan. Rumah ini tidak memiliki garasi, tetapi menyediakan fasilitas dapur, mushola, dan ruang tamu, yaiyalah, wajib kali itu..hehe. lantainya sudah berkeramik putih bermotif sedikit, teman saya pernah berkomentar ,”kos kok keramiknya bagus”, oh iya ya, saya malah gak nyadar. Fasilitas untuk anak kos, sebuah kamar, satu dipan lengkap dengan kasur, bantal, dan guling, dan satu set meja kursi sekaligus rak. Ukuran kamarnya sekitar 3,3. Sewa kamar 180k/bulan, yang dibayarkan tiap 3 bulan. Biaya sewa ini meliputi sewa kamar, alat listrik standar (hp, setrika, laptop, kipas), dan air. Alat-alat elektronik yang berat seperti computer, magic com, dikenakan biaya tambahan, saya tidak tahu pasti berapa. Biaya sewa kos saya mengalami kenaikan pada tahun 2011 ini menjadi 190k. percayalah ini sebuah rumah kos yang sederhana, tetapi semua teman dekat saya suka, kata mereka “suasana kosmu ki rumah banget”. Alhamdulillah =)

Saat ini (kondisi terbaru 5-12-2011, he), kana 5 dihuni oleh 14 penduduk, dengan komposisi 13 cewek, 1 cowok (bapak kos saya), he.. kasihan si Bapak ini, mesti jaga pandangan setiap waktu, karena kami agak kurang ajar akhir-akhir ini, apalagi kalau kumat gejenya. Kenalan yaa, sama penghuni kana 5. Salah satu keluarga saya di Jogja yang menemani kehidupan saya 3,5 tahun terakhir ini (merasa berat mau pindahan).. he..

Keluarga ibu kos. Rumah induk kana 5 dihuni oleh 3 orang, yaitu Mbak Evi, Mas Adi, dan Keyla (3,5 tahun). Iya Keyla lahir sebulan sebelum saya datang. Suara tangisnya adalah backsound ketika kami mulai menepi di kamar masing-masing. Alarm pagi hari juga terkadang. Lebih menyeramkan ketika sampai tengah malam Keyla masih terbahak-bahak sedangkan suara papa-mamanya tak lagi terdengar, haduuh rasanya gak karuan, he..

Lantai 1 blok A adalah lantai 1 ruas pertama, yang dekat jalan, hanya ada 2 kamar. Kamar di blok A adalah kamar yang paling luas diantara kamar-kamar yang lain. Kamar 1 dihuni oleh Ludi (PT ’09). Ludi akan bermigrasi ke kamar saya ketika nanti saya pulang. Ludi belum lama tinggal di kos ini, seingat saya dia datang waktu saya pulang KKN, sekitar Juli 2010 lalu. Ludi suka bernyanyi, asli Serang, kandidat “yang betah ngamar”. Awal dia datang dulu, benar-benar ndak ada suaranya, sekali ngamar ya udah, paling keluar untuk mandi, wudhu, beli makan, selebihnya, di kamar aja. Sekarang, keadaan sudah berubah. Haha. Aslinya sudah ketahuan. kamar berikutnya dihuni oleh Mbak Evi (Biologi UNY ’05) dan Nita (FBS ’10). Sekamar berdua. Aturan sebenarnya untuk 1 orang saja, tetapi mereka berdua ikhlas dan rela untuk tinggal bersama, he jadi ibu kos rela juga. Duo Ngawi ni. Mbak Evi adalah tetua di kos, karena yang paling lama menghuni kos ini. Sejak 2005 tentunya. Nita datang tahun 2010 kemarin, sekitar Juli. Nita suka bermain teater, menurut saya dia mirip Qhachan, he. Ceria, banyak yang suka, ihiiy. Suka ngamar juga. Ah saya baruu tersadar, anak-anak blok A, suka ngamar semua. Di blok A tersedia mushola, ruang tamu, dan 1 kamar mandi.

Lantai 1 blok B, blok yang menghadap jalan, setiap hari panen debu, terutama kamar saya, yang kelihatan dari jalan, dan paling dekat tangga. Oh ada fakta cukup lucu, 3 dari 4 rumah kos yang pernah saya tinggali selalu memiliki tangga curam. Mesakke tenan. Untung aja yang ketiga ini, kamar saya di bawah. Di blok ini terdapat 2 kamar mandi, dapur, 4 kamar. Kamar yang paling dekat dapur dihuni oleh Mbak Kiki (PBI UGM ’10). Penghuni paling rajin. Mbak Kiki adalah partner curcol saya, he, karena nasehatnya yang super bijak dan tidak menghakimi membuat saya selalu kembali bercerita ketika menghadapi masa sulit dan butuh pertimbangan. Kamar sebelahnya ditempati Wulan (PT ’09). The silence one. Paling nggak ada suara. Kalau dah masuk kamar ya udah. Berangkat pagi pulang malam. Sebelahnya lagi ditempati oleh mbak Hani (PT ’05) dan Rani (FEB ’11). Mbak Hani pindah ke kos ini awal tahun 2009, Rani datang Juli 2011. Mereka berdua adalah kakak adik yang bertolak belakang. Kamar mbak hani adalah salah satu kamar favorit untuk merapat, lihat film atau sekedar bergosip. Hal ini dikarenakan kamar mbak hani paling banyak stok makanannya, wkwk. Dan saya adalah salah satu anak kos yang paling aktif merapat, antara kamar mbak kiki dan mbak hani, he. Saya pernah selama satu semester kalau tidak salah, tidur di kamar mbak kiki, he. Kamar yang paling dekat dengan rumah induk adalah kamar saya.  Kamar saya paling ndak ada isinya daripada kamar yang lain.

Lantai 2. Lantai 2 terkenal dengan kamar yang maksa, maksa di bentuk kamar. Apalagi kamar mbak Erly (PT ’04), bentuknya L. mbak Erly sering pulang karena harus menemani ibunya yang tinggal sendiri. Kamar sebelahnya dihuni oleh Anisa (PT ’09). Anisa adalah teman SMA Ludi, jadi ya dah super kompak begitulah. Kalau tidak salah Anisa datang kesini karena Ludi, hehe. Penghuni terakhir adalah Rahma (PT ’09). Ini ni cs-an Wulan. Pergi awal pulang yang terakhir, maklum aktifis BEM Fapet.

Kamar saya. Kamar saya biasa aja, he. Apa yang mau diceritakan ya? sebenarnya kamar saya ini paling kotor diantara kamar lainnya, tetapi Alhamdulillah teman yang berkunjung selalu saja memuji ,kamarmu rapi rin, :’) sebenarnya pengen ngakak juga, tapi ya sudah lah. Dipuji ini, disyukuri saja. Kamar saya fasilitasnya standar, dan saya tidak menambahkan banyak hal. Kecuali di dinding saya tempelkan timetable, asmaul husna, dan kalender 2010, 2011. Di kamar ini saya menghabiskan masa hampir 3,5 tahun. Menjadi saksi bisu ketika saya meratapi IPK yang turun di semester ganjil, marah karena disukai kakak angkatan, menangis tergugu saat tahu orang yang disuka sudah tidak ada, meratapi skripsi yang tidak jua selesai. Kamar yang menjadi saksi ketika saya kecentilan saat menerima telepon tengah malam, terbahak ketika mendapat sms lucu. Menjadi saksi ketika saya menulis diary, haiss, :P

Salah satu sudut eternit kamar saya pernah jebol. Hal ini menyebabkan kotoran yang tersimpan di eternit tumpleg ke kamar saya. Hari itu saya baru saja dari rumah, lelah dan mendapati kamar begitu kotor karena jebolnya eternit, saya labil sekali saking jengkelnya saya membatalkan puasa. T,T

Kamarku, walau aku tidak memiliki nama khusus untukmu, terimakasih telah membantuku membuat kenangan yang tidak akan terlupakan. Aku akan berpindah, memperkaya diri lagi, menambah banyak jejakku di kamar-kamar yang lain. Ya, meninggalkan jejak.

Sebentar lagi Ludi akan berpindah, bersahabatlah dengannya. Jadilah hunian yang nyaman untuknya yang akan membantu dia mewujudkan segala citanya. =)

#saat saya post tulisan ini, saya sudah pindahan dari Kana 5, namun saya masih beberapa kali mampir dan menginap ketika ada keperluan di Jogja.

 

Leave a Comment

Mau Cantik?

Mau Cantik? Jadilah Ramah

Ada satu cara mudah dan sederhana untuk menjadi cantik. Jadilah ramah.  Senyum tulus keramahan sungguh-sungguh akan memancarkan kecantikan.

**********

                Selama ini saya memang sering berinteraksi dengan bank tetapi belum pernah memperhatikan sikap CS dan Teller nya seperti sepekan terakhir ini. Dalam sepekan, saya mengunjungi dua bank yang berbeda. Di bank X saya berinteraksi dengan CS (Customer Service), sedangkan di bank Y saya berinteraksi dengan Teller.

Cerita di Bank X

Mbak CS yang melayani saya tersenyum ramah dan terasa tulus. Entah mbaknya sudah mengalami training ketulusan senyum berapa kali, he, namun senyumnya sore itu terasa nyaman. Menenangkan hati saya yang dag-dig-dug karena pertama kali berurusan dengan bank X. Saya disambut uluran tangan dipersilakan duduk dan ditanya keperluannya apa. Pembicaraan mengalir lancar, seiring kepolosan dan kebodohan saya yang kadang suka nyeletuk aneh-aneh. Sebagai tambahan informasi, saya datang jam 3 kurang, dan saya bertransaksi hingga jam 3.45. Mestinya itu sudah jam pulang, tetapi si mbak masih melayani saya dengan ramah.

Ramah. Adalah harga mati jika anda bekerja pada posisi yang berhubungan langsung dengan customer anda.

Cerita di Bank Y

Lagi-lagi saya harus ke bank. Kali ini saya berurusan dengan Teller. Si mbak tersenyum dan menanyakan keperluan saya. Dia kurang tanggap bagi saya. Mungkin masih dalam masa training. Hehe. Saya ditanya apakah membawa KTM atau tidak, saya jawab tidak (kan udah lulus). Mbaknya kaget karena saya sudah lulus dan menyarankan sesuatu berkaitan dengan buku tabungan saya. Sekalian saya mencari tahu bagaimana dan dimana saya bisa melakukan sesuatu itu. Entah kenapa saya malah banyak memperhatikan raut muka si mbak. Cantik, putih. Saya beralih ke bibirnya. Tidak ada senyum ketika memberikan penjelasan, berbeda dengan teller di sebelahnya. Saya mencoba memancing tersenyum, tetapi tidak berhasil. Ya sudahlah. Transaksi saya selesai, saya langsung bergegas setelah mengucapkan terimakasih.

Ketidakramahan. Ibarat api yang membakar habis kayu bakar kecantikan anda.

Leave a Comment

Tiga Kesesatan

TIGA KESESATAN

Hidup adalah rangkaian perjalanan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Disebutkan bahwa hidup ini ibarat berjalan di hutan dalam suatu rangkaian pohon yang berjajar. Kita memulai dari satu pohon, begitu selesai kita beralih ke pohon yang lain, hingga akhirnya kita bisa keluar dari hutan tersebut. Jika hutan adalah kehidupan, maka keluar dari hutan adalah kematian. Misi tertunaikan.

Ada jarak, antara pohon satu dengan yang lain. Dalam jarak itu, terkadang kita berkreasi menetapkan tujuan-tujuan lain dalam jangkauan waktu jarak tempuh antarpohon. Jarak itu tidak selalu sama, bervariasi dan beraneka rupa (sama aja kayaknya :P ). Diantara jarak itupun terkadang terdapat pohon ilusi, pohon lain yang bukan merupakan tujuan kita. Pohon ilusi bisa membuat kita bergeser sejenak dari track yang sudah direncanakan. Tidak bisa dipastikan apakah pohon ilusi ini bisa mempercepat atau memperlambat pencapaian tujuan. Yang jelas, pohon ilusi tidak diciptakan tanpa makna. Ketika kita memilih pohon ilusi, atau setidaknya terpana hingga terlena dan lupa pada tujuan kita, bisa dikatakan itu adalah kesesatan.

Pohon perkuliahan, penempaan diri untuk memperoleh perbekalan menjajaki dunia persilatan kerja sudah kami tunaikan. November 2011 adalah masa kami panen aka wisuda. Jarak itu berbeda, semua tak sama. Ada yang bahkan tak sempat beristirahat sudah diharuskan memanjat pohon selanjutnya. Akan tetapi kami, digariskan untuk beristirahat sejenak. semoga. Karena sebenarnya kami masih menunggu, mana jatah pohon yang harus kami panjat selanjutnya. Dalam masa penantian itu, banyak pilihan untuk memanfaatkan waktu ‘luang’. Kami (Rina, Rizka, Ike, dan Nova) membuat suatu tujuan kecil, belajar fotografi di Candi Ratu Boko. Ahad, 18 Desember 2011. Sebenarnya Nova yang akan belajar fotografi, katanya tidak asik kalau tidak ada objek. Diajaklah kami bertiga untuk menjadi objek, hehe. Dengan perjanjian bayar sendiri-sendiri, ndak kuat kalau nanggung biaya tiga orang, he.

Di dunia ini diciptakan banyak sekali pohon ilusi dengan berbagai variannya. Pohon-pohon ilusi tersebut akan lebih sering kita temui ketika kita memulai perjalanan tanpa persiapan. Nah begitulah kisah kami di hari Ahad tersebut. Banyak kesesatan karena tanpa persiapan.

Kesesatan retribusi

“Ada harga yang harus dibayar atas suatu pilihan. Ada retribusi yang harus dibayar untuk menikmati tempat wisata. Ada tambahan yang mesti dikeluarkan untuk menggunakan kamera di tempat wisata.”

Berjalan perlahan sembari bercanda, kami menuju loket. Mengingat-ingat ada uang berapa ya di dompet, cukup gak ya. Tanpa ditanya petugasnya bilang,”semua 86 ribu”. Saya berpikir dan mengeja dulu, DELAPAN PULUH ENAM RIBU??!! Berarti seorang 20rb??! Haah??! Aduh mahal sekali. Dulu kayaknya 10 ribu saja. Maka saya bertanya, yang 10ribu itu gimana? Petugas ,”oh itu untuk anak-anak”. Jleb. Ya sudahlah. Jujur saja, muka kami berempat sudah kecut saat itu. Apalagi Ike, “yaa sama aja tadi kita makan di Sendang Ayu itu bayar, hu” (sebelum ke Boko, kami makan traktiran di Sendang Ayu Jl. Solo).

Berjalan lagi dengan gontai ke petugas tiket, tanya lagi. Sejak kapan tiketnya jadi 20ribu? Petugas ,”lha mbaknya kesini hari apa ini? Kalau weekend tiketnya memang 20ribu, kalau hari biasa itu yang 10ribu”. Tepok jidat. Oiyaa, ini hari Ahad. Doeeng. Ahhh Novaaa, kami kompak teriak. Yang diteriaki Cuma bisa bilang maaf – maaf. Udah gitu masih kena charge kamera Rp 5000. Heuu.

Untuk mengobati duka, “pokoknya ntar kita keliling semua ya, SEMANGAT 20 RIBU”.

Kesesatan jalan pintas

Bagi yang sudah pernah mengunjungi Candi Ratu Boko semestinya mengetahui bahwa situs tersebut super luas. Masya Allah. Peradaban nenek moyang. Jaman dulu aja sudah mampu membuat bangunan semacam itu. Dengan peralatan sederhana dan apa adanya, mampu membuat sesuatu yang luar biasa. Hikmah : jagalah kesederhanaan. Kami mengelilingi hampir semua sisi, Gapura Utama, Pendopo, Pool Complex (:P), Keputren, Goa. Saya ingat di Candi Ratu Boko ada suatu gardu pandang, anggap saja demikian. Di sebelahnya ada hutan dan jalan setapak. Dulu saya penasaran itu jalan kemana, tetapi teman main saya dulu nggak mau ambil resiko nyoba jalan setapak tanpa tujuan. Ceritanya dari kami berempat baru saya yang sudah pernah menjelajah Boko. Berbekal itu saya usul, kalau dari Goa ini ada semacam bekas jalan, kita coba itu aja ya, disana ada semacam gardu pandang. Mereka bertiga bermuka tidak percaya dan ragu gitu, tapi kaki mereka melangkah mengikuti saya. Mungkin motifnya adalah mesakke, cah cilik, haha.

Ini dadakan dan tanpa persiapan. Saya  juga hanya berbekal penasaran dan melihat tanah yang tampaknya bekas dilewati orang. Ikuti aja. Awalnya bekas jalan itu terlihat jelas, lama-lama hilang, heuu. Kami mulai was-was, mendung dan belum ashar pula. Paling was-was saya, karena saya yang ngajakin ambil ni jalan pintas. Tapi aku nggak mau kalau balik, udah sejauh ini, kata siapa entah saya tidak memperhatikan. Menenangkan diri, mestinya ada jalan kesana, nggak mungkin berhenti disini, ini ada bekasnya. Ntar ta liat dulu di sebelah sini. Dan taraaa,, Alhamdulillah,, memang jalannya agak belok dulu baru ada jalan yang seperti dulu saya penasaran. Ada turunan curam dengan batu yang licin, Alhamdulillah kami selamat. Satu yang membuat lega, mereka bertiga berkomentar,” oh ada ya tempat ini, harus lewat mana kalau dari bawah tadi?”

Kesesatan lupa agenda

Kami pulang lepas maghrib. Nggak ada agenda kok, jadi nyante aja mau pulang jam berapa, he. Sesampainya di kos saya baru ingat, saya belum piket kamar mandi. Ouch, tepok jidat. Segera sms Nova, mengabarkan berita duka tersebut. Dan dia bilang, aku juga lupa nek malam ini jadwal liqo’. Astaghfirullah. Tak lama kemudian Rizka sms “maksud hati sampai rumah mau istirahat, e ternyata hari ini jadwal kumpulan, arisan pula. Huhu duitku” (kira-kira seperti itu smsnya). Hahaa, saya mah ngakak aja, kesesatan ketiga batin saya. Sms ike, kesesatan dia adalah kehujanan yang berdampak pada flu yang tambah parah.

Pohon ilusi tidak diciptakan tanpa makna. Begitulah kesesatan yang kami alami, tidak sampai membuat kami terlena pada tujuan akhir memang, tetapi cukup membuat kami terhenti dari menikmati perjalanan. Semenarik apapun perjalanan jika kita berfokus pada hal yang tidak sengaja tidak nyaman, maka perjalanan itu akan terasa biasa saja.

Saya bahagia mengingat perjalanan hari itu. Saya dan Nova sudah menempuh jarak 2 bulan dari kelulusan, Rizka dan Ike 4 bulan dari kelulusan, tetapi kami belum dipertemukan dengan jatah pohon kami selanjutnya. Ada bagian yang mengesankan, yaitu kesesatan jalan pintas. Saya bersyukur hari itu saya jalan bareng mereka bertiga, kalau bukan mereka, belum tentu rasa penasaran saya akan jalan setapak itu terpenuhi.

#Nova Ike Rizka, terimakasih. Akan menjadi kenangan indah, tahun depan pada tanggal yang sama ketika kita sudah berada entah dimana, di tempat yang lebih baik pastinya, aamiin.
 

1 Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.