Tiga Kesesatan

TIGA KESESATAN

Hidup adalah rangkaian perjalanan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Disebutkan bahwa hidup ini ibarat berjalan di hutan dalam suatu rangkaian pohon yang berjajar. Kita memulai dari satu pohon, begitu selesai kita beralih ke pohon yang lain, hingga akhirnya kita bisa keluar dari hutan tersebut. Jika hutan adalah kehidupan, maka keluar dari hutan adalah kematian. Misi tertunaikan.

Ada jarak, antara pohon satu dengan yang lain. Dalam jarak itu, terkadang kita berkreasi menetapkan tujuan-tujuan lain dalam jangkauan waktu jarak tempuh antarpohon. Jarak itu tidak selalu sama, bervariasi dan beraneka rupa (sama aja kayaknya :P ). Diantara jarak itupun terkadang terdapat pohon ilusi, pohon lain yang bukan merupakan tujuan kita. Pohon ilusi bisa membuat kita bergeser sejenak dari track yang sudah direncanakan. Tidak bisa dipastikan apakah pohon ilusi ini bisa mempercepat atau memperlambat pencapaian tujuan. Yang jelas, pohon ilusi tidak diciptakan tanpa makna. Ketika kita memilih pohon ilusi, atau setidaknya terpana hingga terlena dan lupa pada tujuan kita, bisa dikatakan itu adalah kesesatan.

Pohon perkuliahan, penempaan diri untuk memperoleh perbekalan menjajaki dunia persilatan kerja sudah kami tunaikan. November 2011 adalah masa kami panen aka wisuda. Jarak itu berbeda, semua tak sama. Ada yang bahkan tak sempat beristirahat sudah diharuskan memanjat pohon selanjutnya. Akan tetapi kami, digariskan untuk beristirahat sejenak. semoga. Karena sebenarnya kami masih menunggu, mana jatah pohon yang harus kami panjat selanjutnya. Dalam masa penantian itu, banyak pilihan untuk memanfaatkan waktu ‘luang’. Kami (Rina, Rizka, Ike, dan Nova) membuat suatu tujuan kecil, belajar fotografi di Candi Ratu Boko. Ahad, 18 Desember 2011. Sebenarnya Nova yang akan belajar fotografi, katanya tidak asik kalau tidak ada objek. Diajaklah kami bertiga untuk menjadi objek, hehe. Dengan perjanjian bayar sendiri-sendiri, ndak kuat kalau nanggung biaya tiga orang, he.

Di dunia ini diciptakan banyak sekali pohon ilusi dengan berbagai variannya. Pohon-pohon ilusi tersebut akan lebih sering kita temui ketika kita memulai perjalanan tanpa persiapan. Nah begitulah kisah kami di hari Ahad tersebut. Banyak kesesatan karena tanpa persiapan.

Kesesatan retribusi

“Ada harga yang harus dibayar atas suatu pilihan. Ada retribusi yang harus dibayar untuk menikmati tempat wisata. Ada tambahan yang mesti dikeluarkan untuk menggunakan kamera di tempat wisata.”

Berjalan perlahan sembari bercanda, kami menuju loket. Mengingat-ingat ada uang berapa ya di dompet, cukup gak ya. Tanpa ditanya petugasnya bilang,”semua 86 ribu”. Saya berpikir dan mengeja dulu, DELAPAN PULUH ENAM RIBU??!! Berarti seorang 20rb??! Haah??! Aduh mahal sekali. Dulu kayaknya 10 ribu saja. Maka saya bertanya, yang 10ribu itu gimana? Petugas ,”oh itu untuk anak-anak”. Jleb. Ya sudahlah. Jujur saja, muka kami berempat sudah kecut saat itu. Apalagi Ike, “yaa sama aja tadi kita makan di Sendang Ayu itu bayar, hu” (sebelum ke Boko, kami makan traktiran di Sendang Ayu Jl. Solo).

Berjalan lagi dengan gontai ke petugas tiket, tanya lagi. Sejak kapan tiketnya jadi 20ribu? Petugas ,”lha mbaknya kesini hari apa ini? Kalau weekend tiketnya memang 20ribu, kalau hari biasa itu yang 10ribu”. Tepok jidat. Oiyaa, ini hari Ahad. Doeeng. Ahhh Novaaa, kami kompak teriak. Yang diteriaki Cuma bisa bilang maaf – maaf. Udah gitu masih kena charge kamera Rp 5000. Heuu.

Untuk mengobati duka, “pokoknya ntar kita keliling semua ya, SEMANGAT 20 RIBU”.

Kesesatan jalan pintas

Bagi yang sudah pernah mengunjungi Candi Ratu Boko semestinya mengetahui bahwa situs tersebut super luas. Masya Allah. Peradaban nenek moyang. Jaman dulu aja sudah mampu membuat bangunan semacam itu. Dengan peralatan sederhana dan apa adanya, mampu membuat sesuatu yang luar biasa. Hikmah : jagalah kesederhanaan. Kami mengelilingi hampir semua sisi, Gapura Utama, Pendopo, Pool Complex (:P), Keputren, Goa. Saya ingat di Candi Ratu Boko ada suatu gardu pandang, anggap saja demikian. Di sebelahnya ada hutan dan jalan setapak. Dulu saya penasaran itu jalan kemana, tetapi teman main saya dulu nggak mau ambil resiko nyoba jalan setapak tanpa tujuan. Ceritanya dari kami berempat baru saya yang sudah pernah menjelajah Boko. Berbekal itu saya usul, kalau dari Goa ini ada semacam bekas jalan, kita coba itu aja ya, disana ada semacam gardu pandang. Mereka bertiga bermuka tidak percaya dan ragu gitu, tapi kaki mereka melangkah mengikuti saya. Mungkin motifnya adalah mesakke, cah cilik, haha.

Ini dadakan dan tanpa persiapan. Saya  juga hanya berbekal penasaran dan melihat tanah yang tampaknya bekas dilewati orang. Ikuti aja. Awalnya bekas jalan itu terlihat jelas, lama-lama hilang, heuu. Kami mulai was-was, mendung dan belum ashar pula. Paling was-was saya, karena saya yang ngajakin ambil ni jalan pintas. Tapi aku nggak mau kalau balik, udah sejauh ini, kata siapa entah saya tidak memperhatikan. Menenangkan diri, mestinya ada jalan kesana, nggak mungkin berhenti disini, ini ada bekasnya. Ntar ta liat dulu di sebelah sini. Dan taraaa,, Alhamdulillah,, memang jalannya agak belok dulu baru ada jalan yang seperti dulu saya penasaran. Ada turunan curam dengan batu yang licin, Alhamdulillah kami selamat. Satu yang membuat lega, mereka bertiga berkomentar,” oh ada ya tempat ini, harus lewat mana kalau dari bawah tadi?”

Kesesatan lupa agenda

Kami pulang lepas maghrib. Nggak ada agenda kok, jadi nyante aja mau pulang jam berapa, he. Sesampainya di kos saya baru ingat, saya belum piket kamar mandi. Ouch, tepok jidat. Segera sms Nova, mengabarkan berita duka tersebut. Dan dia bilang, aku juga lupa nek malam ini jadwal liqo’. Astaghfirullah. Tak lama kemudian Rizka sms “maksud hati sampai rumah mau istirahat, e ternyata hari ini jadwal kumpulan, arisan pula. Huhu duitku” (kira-kira seperti itu smsnya). Hahaa, saya mah ngakak aja, kesesatan ketiga batin saya. Sms ike, kesesatan dia adalah kehujanan yang berdampak pada flu yang tambah parah.

Pohon ilusi tidak diciptakan tanpa makna. Begitulah kesesatan yang kami alami, tidak sampai membuat kami terlena pada tujuan akhir memang, tetapi cukup membuat kami terhenti dari menikmati perjalanan. Semenarik apapun perjalanan jika kita berfokus pada hal yang tidak sengaja tidak nyaman, maka perjalanan itu akan terasa biasa saja.

Saya bahagia mengingat perjalanan hari itu. Saya dan Nova sudah menempuh jarak 2 bulan dari kelulusan, Rizka dan Ike 4 bulan dari kelulusan, tetapi kami belum dipertemukan dengan jatah pohon kami selanjutnya. Ada bagian yang mengesankan, yaitu kesesatan jalan pintas. Saya bersyukur hari itu saya jalan bareng mereka bertiga, kalau bukan mereka, belum tentu rasa penasaran saya akan jalan setapak itu terpenuhi.

#Nova Ike Rizka, terimakasih. Akan menjadi kenangan indah, tahun depan pada tanggal yang sama ketika kita sudah berada entah dimana, di tempat yang lebih baik pastinya, aamiin.
 

One thought on “Tiga Kesesatan

  1. storyofika says:

    Sayangnya aku hanya menjadi bayangan dari pohon itu… Pikiranku berada di sana, tapi badanku tidak :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.