This user hasn't shared any biographical information
Jadi Pingin ke Panti Jompo :)
Posted in Uncategorized on April 16, 2012
JADI PINGIN KE PANTI JOMPO =)
Saptosari, 7 April 2012
Hari ini saya didaulat ibu untuk mengumpulkan sampah daun di belakang rumah. Daun jambu dan daun bambu, gatel poll. Saya pikir sampahnya sedikit dan mudah dikumpulkan, tetapi tanahnya masih basah sisa hujan kemarin, jadi agak sulit gitu. Dan ternyata banyak lagi sampahnya, huff. Baru saja saya memulai menyapu, seorang Mbah, yang berprofesi sebagai penjual tempe keliling menyapa saya.
“ngersakake tempe boten mbak?” –mau tempe nggak mbak?
Saya teriak “Mak, arep tumbas tempe ra?” – mau beli tempe tidak
Ibu saya teriak juga dari dapur “oh iyo, njaluk” – oh iya, minta
Jawaban saya teruskan “nggih Mbah, nyuwun” – iya Mbah, mau
Simbah tersenyum dan segera berbalik menuju rumah saya. Tadinya dah pamitan dari rumah tetangga di belakang rumah saya. Entah apa yang beliau perbincangkan dengan ibu saya, hingga akhirnya terdengar doa yang begitu tulus dari beliau “oh nggih moga-moga lancar anggene ngopeni lare-lare” – oh iya, semoga lancar menjaga anak-anak.
Entah itu ditujukan ke anak kandung ibu saya atau ke murid-murid ibu saya. Sebelumnya simbah ini terdengar kaget kalau ternyata ibu saya seorang Guru, dan hari ini sedang izin tidak mengajar.
Setelah urusan selesai, simbah ini segera berpamitan. Di jalan sebelah rumah, beliau berpapasan dengan tetangga saya yang lain, dan kayaknya rekan sejawatan. Mengobrol lah beliau berdua. Daaan, simbah penjual tempe bercerita lagi tentang ibu saya, dengan suara ringan. Maksud saya begini, ketika kita senang atau bahagia, kita bisa bercerita dengan ringan dan santai, penuh syukur. Nah, intonasi sedemikian itulah yang saya tangkap dari pembicaraan simbah penjual tempe. Saya yang masih menyapu, hanya senyum-senyum dan mbatin, jadi pingin ke panti jompo. Doa tulus dari simbah-simbah yang memaknai kebahagiaan dengan sederhana. Apa coba bahagianya simbah penjual tempe hari ini? Tempe dagangan beliau habis, dan kebetulan ibu saya sebagai pembeli terakhir. =)
Tampaknya saya sangat sepakat dengan kata bijak “Luxury can be very simple”
*oh iya, simbah penjual tempe ini jalan kaki lho dari kampung beliau di daerah Sodo, sekitar 10 menit dengan motor. Beliau menuju kampung kami melewati persawahan dan perbukitan. Istilah para penjual tempe adalah munggah, karena kampung kami terltak di daerah yang lebih tinggi dari kampung Sodo.
#ada yang tahu dimana panti jompo yang ada di Gunungkidul atau Yogyakarta?
*belakang saya tahu kenapa beliau mendoakan ibu saya dengan tulus. sebenarnya simbah ini meminta dibayar dengan jagung agar dapat beliau goreng sebagai camilan. Ibu saya menolak dan tetap membayar dengan uang, sambil berkata “jagungnya saya kasih saja, asal tidak banyak, saya masih punya”
Benih : Pertama dan Utama
Posted in Uncategorized on April 13, 2012
BENIH : PERTAMA DAN UTAMA
Suatu siang di musim tanam
Saya membantu Ibu menanam jagung ketika tetangga kami lewat, Pakdhe Sumadi namanya. Beliau menyempatkan cerita “aku iseh nduwe bonggol sak bongkok, e malah wis di pruput wong, mbuh ki meh nandur opo” (aku masih punya satu ikat batang singkong, tetapi sudah duluan diambil orang. Entah mau menanam apa sekarang). Saya dan Ibu turut berduka akan kejadian yang menimpa beliau itu. Kami tidak bisa menawari batang singkong, karena yang ada di kebun sebagai sudah tidak bisa dijadikan benih, hedeh.
Suatu pagi di perjalanan menuju Jogja
Saya lupa sebabnya apa hingga saya teringat tentang halal dan haram. Lalu teringat cerita Pakdhe Sumadi. Barang curian itu haram. Benih curian itu haram. Berarti jika benihnya haram, hasil panennya, hasil penjualannya, makanan yang dibeli dari hasil penjualan, setidaknya ada asal haram. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Inikah salah satu penyebab anak-anak sekarang banyak yang nakal tak terkira dan sulit diatur? Astaghfirullah, jika asalnya haram, bagaimana nasib generasi mendatang?
Menurut saya, hentikan memikirkan diri anda saat ini. Sejenak pikirkanlah nasib generasi mendatang. Anak-anak anda kelak. Pikirkan mereka ketika anda mengambil keputusan. Ingat-ingat wajah bapak ibu anda atau orang di sekitar anda.
Mari bumikan kebaikan, hal kecil dari sekarang. =)
Hexagonal Pencil Tower
Posted in Uncategorized on April 10, 2012
HEXAGONAL PENCIL TOWER
Ini cerita saat saya masih SMA. Kemarin, entah awalnya mengingat apa, saya jadi teringat potongan kejadian ini.
Kebiasaan bulan puasa di SMA Teladan adalah mengadakan Pesantren Kilat. Saya benar-benar lupa ini pesantren kilat saat kelas berapa, tetapi tempatnya di SKB Bantul. Salah satu sesi yang diadakan adalah permainan dalam bentuk tim. Teman satu tim yang saya ingat ada Ifa Ochi’, Leyna, dan Agil. Tugas waktu itu adalah membuat bangunan setinggi-tingginya dengan bahan baku berupa sedotan plastic. Alat tambahan yang diberikan (kalau tidak salah), korek, dan gunting/cutter. Saya tidak ingat bahan baku itu diberikan langsung atau kami boleh memilih sendiri. Waktu itu sedotannya warna warni, ada hijau, ungu, dan kuning. Kayaknya ada warna lain juga yang saya tidak ingat. Hehe..
Bangunan yang kami buat, kami beri nama “Hexagonal Pencil Tower”. Bangunan ini berupa menara berbentuk pensil, yang dasar dan badan bangunan itu berbentuk segienam. Kenapa memilih segienam? Hal itu disesuaikan dengan Rukun Iman, sebagai landasan kita sebagai umat islam. Ingat sekali, dasarnya menggunakan sedotan warna hijau, warna kesukaan Rasulullah. Tiang-tiangnya menggunakan aneka warna, tetapi kami buat seragam untuk setiap blok. Ada semacam tangga yang dibuat, menggunakan sedotan warna kuning. Salah satu perintah tambahan adalah semua bahan harus habis, tidak boleh bersisa. Waktu itu tersisa tiga potong kecil-kecil yang akhirnya kami satukan menjadi sebentuk kurva, dan kami maknai kurva iman seseorang itu tidak selalu datar, terkadang naik turun.
Bangunan buatan kami ini kalah tinggi dibandingkan bangunan kelompok lain. Akan tetapi, kami masuk final, haha. Sebagai tim terbaik dari kelompok putri. Dari kelompok putra diwakili oleh Maulvi. Hadiah yang diperebutkan adalah, Voucher makan di Murni senilai Rp 25.000,-. Jaman dulu tu worthed banget, hehe.
Penilaian akhir dilakukan oleh Mas Krisna (tld 05). Beliau membuka sesi dengan bercerita sesuatu, lalu bertanya, tinggi yang mana? Jelas tinggi bangunan yang dibuat Maulvi dkk. Tetapi kokoh yang mana? Hexagonal Pencil Tower dong, he. Mas Krisna menambahkan pemaknaan yang kami buat, keseragaman warna di setiap jenis bagian yang kami bangun (misal tiang pakai warna ungu semua, alas pakai hijau) mencerminkan sikap konsisten.
Ahaa, saya jadi ingin melihat bangunan itu lagi, atau malah membuatnya lagi. Kenangan masa lalu yang berkesan. =)
Saptosari, 7 April 2012 *berusaha meredam kegalauan malam minggu, hhaa
Mengejar Tukang Sayur
Posted in Uncategorized on April 10, 2012
MENGEJAR TUKANG SAYUR
“tiiin tiiin tiin” suara klakson motor terdengar dari dapur. Waduh pak Ngadino datang, batin saya. Saat itu saya sedang mencuci gelas di dapur. Langsung saja saya bergegas, agak berlari menuju kamar, ambil jilbab, uang dan keluar. Sebelumnya sandal saya sempat selip.
Alhamdulillah masih ada pembeli. “pak, bumbu dapur?” kata saya. Beliau menjawab “waduh neng ndi yo mbak. Enthek e”. “nggih pun, benjang mawon” jawab saya sambil berjalan balik menuju rumah. Pak Ngadino tampak tidak rela saya berlalu begitu saja, lalu beliau menawarkan “jahe kencur enek mbak. Golek nopo tho?”, saya membalikkan badan, sambil senyum, “daun salam”. “oh mau enek, sik neng ndi yo”, beliau berusaha mencari,dan ujungnya “wooo entek e mbak”. Lagi-lagi saya menjawab “nggih pun, benjang mawon nggih pak”. Saya benar-benar berbalik menuju rumah sekarang. Sempat terdengar Bulik yang sedang membeli menawarkan sayuran dan bertanya saya akan memasak apa. Saya hanya tersenyum, masakan saya sudah matang, itu daun salam pesanan ibu saya.
Dalam perjalanan menuju rumah, saya menggumam “udah lari-lari tapi yang dicari ndak ada. Tapi kalo ndak lari-lari gak bakalan tau ada pa gak yang dicari, hmm”
Saya melanjutkan mencuci gelas. Ketika kaki saya terpercik air, kelingking saya terasa perih, saya perhatikan ada merah-merah sedikit, oalah ternyata ketika sandal saya selip tadi, meninggalkan lecet di jari kelingking saya.
Lagi-lagi saya menggumam “udah lari-lari, lecet pula, tapi yang dicari ndak ada. Oh ini ya yang namanya usaha. Dalam hidup tu juga kayak gini ya.”
Ps: saya hobi amat ya menggumam
### #### #####
Kejadian “mengejar tukang sayur” itu membuat saya mengingat-ingat lagi perjalanan hidup saya. Berapa kali sudah saya “berlari”, berusaha mewujudkan apa yang menjadi cita dan harap saya. Ada larian yang benar-benar membuahkan senyum kebahagiaan, namun banyak juga yang berakhir seperti kejadian “mengejar tukang sayur” dan kadang berbonus tangisan tak karuan,
.
Banyak sekali harap-harap saya, ehhee,, prinsip saya selagi berharap itu tidak dilarang dan tidak perlu berbayar, tak apalah kita berharap, karena saya yakin, kita merasa hampa tanpa harapan dan juga kepada siapa kita berharap. Bahkan tokoh Oma dalam novel Senja Bersama Rosie –Tere-Liye- menyebutkan bahwa “wanita itu bisa kuat dengan adanya harapan di hatinya”. Yaa, walaupun ini sempit dalam hal percintaan, tetapi hal positifnya adalah “harapan itu menghidupkan”. Akan tetapi yang tak boleh terlupa adalah, iringi harapan anda dengan seluas-luasnya kelapangan hati dan kata pak Hasanain “bayarlah keinginan-keinginan anda dengan kerja keras”. Jangan sampai harapan anda yang terpupus mematikan semangat anda untuk terus melangkah dan menatap dunia, na’udzubillah.
Tempat berlabuh selanjutnya
Hari itu saya sudah lulus kuliah, masih stay dirumah dengan status “Anak Rumah Tangga”,
kalau istilah dari sahabat saya “membayar utang setelah 7 tahun tidak di rumah”, hehe, dia cerdik untuk membangkitkan semangat saya, jazakillah khoir Ukhti Rizka J harapan saya setelah lulus adalah mengaplikasikan ilmu yang sudah saya peroleh di bangku kuliah ini, salah satunya berjudul dunia kerja. Betapa saya pengen merasakan kehidupan kejam ibukota, ngrasain aja berangkat pagi pulang pagi itu kayak apa, macetnya, bersahabat dengan angkot debu antri, tetapi saya cukup pesimis bahwa saya tidak akan tahan dengan itu semua, he. Lalu harapan itu berganti, kerja di mana aja asal jangan Jakarta, mendingan dibuang ke Luar Jawa deh gak apa2. Idealisme saya menguat, ciehh, saya pengen kerja dimana saya masih memiliki waktu luang untuk saya mengembangkan diri saya, dan juga masih cukup me time at least buat ngumpul sama sahabat-sahabat saya, dan travelling entah kemana.
Harapan itu membuat saya cukup selektif dan terkesan pilih-pilih ketika daftar kerja. Berapa kali sudah mengirimkan lamaran kerja? berapa kali lolos? Sampai di tahapan apa? Terhenti di berkas? Di psikotest? Hmm,, seingat saya rekor terbaik saya nglamar kerja adalah dipanggil interview oleh salah satu perusahaan retail, itupun hanya 2 tahap, psikotest dan begitu lolos interview. Lainnya, seingat saya lagi, saya gagal berkas, gagal tahap awal, gagal psikotest. Galau iya, tapi saya ingat lagi, salah satu teman saya, Fajar Budi Suryawan, yang saat ini bekerja di Schumberger, setidaknya telah melalui 15x penolakan hingga akhirnya diterima di Schumberger. Jadi rasanya tidak pantas saya galau dan murung, apalagi kalau saya ingat kebulatan tekad saya selama ini. Haduh benar-benar tidak pantas saya bergalau. Pertama kali tertolak psikotest, saya galau sangat, Bapak saya bilang,”ya memang kita harus berusaha dan berdoa untuk mencapai cita-cita”. Oh iya, usaha. Itu yang mungkin yang tidak terlihat di saya akhir-akhir ini, hingga beberapa kali kedua orangtua saya menegur saya.
“manusia itu cukup mengusahakan sebab. Hasil adalah ranah Yang Maha Kuasa. Lakukanlah kebaikan-kebaikan dan jadilah sebab yang baik bagi diri anda dan orang lain di sekitar anda”
Indonesia Mengajar
Idealism saya membuat saya mendaftar Indonesia Mengajar. Inilah larian pertama saya yang benar-benar wow. Sejak pertama mengikuti sosialisasi IM, Juni 2010, saya begitu tertarik. Apalagi ketika angkatan 1 resmi diterjunkan, betapa saya selalu menunggu update blog kakak-kakak Pengajar Muda, menanti-nanti cerita apa yang akan mereka tuliskan. Sensasinya macem-macem, ketawa cekikikan, mpe nangis tergugu, heuu. Saya benar-benar bertekad untuk mengikuti program ini ketika saya lulus nanti. Dan saya pernah bilang, saya akan manfaatkan setiap kesempatan hingga akhirnya bisa jadi Pengajar Muda. FYI, beberapa kali saya merevisi rencana hidup termasuk menikah demi mengikuti IM, haha, awalnya rencana nikah saya sekitar usia 23, saya undur hingga antara 2014 – 2016. Rencana saya itu J bukan rencana-Nya.
Pendaftaran angkatan 2 terlewat begitu saja, pun angkatan 3. Awalnya saya ingin daftar yang angkatan 3, tapi saya belum lulus dan data pun belum terkumpul. Saya kejar gimana juga pasti ndak akan tercapai. Akhirnya angkatan 4, saya niati benar-benar untuk mendaftar. Mulailah program kebut mengerjakan skripsi, mulai buat-buat jawaban dari pertanyaan yang diberikan di form. Dan sebenarnya saya sudah membuat akun sejak pendaftaran PM angkatan 3. Ceritanya, pendaftaran PM angkatan 4, hampir bersamaan dengan kepulangan PM angkatan 1 dari daerah penugasan. Hampir tiap hari mereka muncul di TV, talkshow, berita, sampai reality show. Bagus dong, jadi gampang ijin ke ortu. Bukan, bukan itu, tapi saya semakin minder, emang saya pantes ya di sana. Orang-orang hebat semua tu yang jadi PM, pengalaman banyak, sementara saya, haduh. Galau segalau-galaunya. Ndaftar enggak, tapi kalau ndak ndaftar bisa nyesal sesisa hidup.
Saking galaunya, saya menyembunyikan rapat-rapat harapan saya untuk menjadi PM, saya hanya cerita ke mereka yang saya rasa memiliki harapan yang sama dengan saya. Yoga, menambah kegalauan saya, ketika dia bilang “katanya mau ikut IM? Ngapain jauh-jauh, kampungmu itu aja butuh di –IM-I” Jleb. Banget. Huff. Saya Cuma bisa senyum waktu itu, ya sudah, apalagi yang bisa diharapkan, teman dekat saja tidak mendukung batin saya. Akan tetapi, Ike, yang memiliki harapan yang sama dengan saya memotivasi dengan kalimat “dua puluh tahun dari sekarang kita akan lebih menyesal terhadap apa-apa yang tidak kita lakukan. Ayo ndaftar”. Akhirnya, di hari terakhir pendaftaran, saya kirim formulir saya. Jam 4 sore, tanggal 17 Desember 2011. Habis ngirim tambah galau, saya sudah menjawab dengan benar belum ya. Doa saya setelah hari itu, semoga da bagian yang menarik dari esay saya sehingga paling nggak saya lolos berkas, dan mengikuti Direct Assesment.
IM ini prosesnya lama, dan buat saya pengorbanannya gila-gilaan. Selama nunggu pengumuman, hati saya over focus di IM, ndoa IM, ngliat apa berharap tahun depan ngliat itu dari belahan lain bumi-Nya, rasanya gila. Ndaftar dan ikut tes kerja aja ndak sepenuh hati, semua demi IM. Benar-benar saya kebangetan kayake, he. 10 Januari 2012, pengumuman seleksi berkas, dan Alhamdulillah saya lolos. 26 Januari 2012 saya mengikuti Direct Assessment dan berkesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, pak Hikmat, Bu Evi, Mas Icus, Bu Yundrie, dan kawan-kawan DA. Salah satu hari terwoow, tes seleksi yang gak kayak seleksi. Hari itu saya nothing to lose. Pesan panitia begini, pengumuman akhir tanggal 15 Maret. Kalau belum tanggal itu dan belum dapet email, masih ada harapan berarti. Teruslah berdoa. Dan saya mengikuti nasehat itu, he. Dan akhirnya 6 Maret 2012, diumumkan bahwa saya belum berhasil menjadi bagian dari Pengajar Muda angkatan 4. Inilah bagian lecet-nya. Allah sungguh berbaik hati, hari itu saya sedang bersama sahabat saya, jadi galau saya langsung terobati, Alhamdulillah. J
Rethinking
Hmm, sebenarnya saya tidak sepenuhnya mengikuti nasehat itu. Sembari menunggu, dan super galau, saya memikirkan ulang niatan saya untuk ikut IM. Benarkah ini yang terbaik buat saya, keluarga dan orang-orang di sekitar saya. Kata-kata Yoga membayangi saya. Kampungmu iku butuh di-IM-i. Lalu ingatan akan harap-harap sederhana saya waktu dulu muncul satu per satu, diantaranya, pengen di rumah agak lama jadi bisa bantu bapak ibu (istilah saya Anak Rumah Tangga), kerja yang dekat saja jadi bisa sering pulang dan menghidupkan kampung. Sampai saat itu, saya sempat berpikir “ya aku gak boleh egois. Kayaknya lebih baik aku gak ketrima IM”
Hingga akhirnya teman saya, Rizka, mengirimi sms
“sometimes we get so ahead of ourselves triying to chase the ‘extra-curricular’ things that we neglect what we should be actually prioritizing in our lives. Take a moment to reflect today. *islamicthinking.tumblr”
Terjemahan ala Ikko “kadang kita terlalu terpaku untuk mencapai hal yang tidak biasa sampai2 kita mengabaikan apa yang sebenarnya kita prioritaskan dalam hidup”
Sms ini benar-benar mengena di saya. Apa yang sebenarnya saya prioritaskan selama ini? Ketika ndaftar kerja, ketika mengambil keputusan. Jawabannya saya temukan, “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya”. Lhah itu intinya bermanfaat.
ü apa iya cuma dengan gabung di IM saya bisa bermanfaat?
ü Apa iya Cuma lewat IM saya bisa ke luar jawa? Menjadi guru? Keliling Indonesia?
ü Jangan-jangan ini Cuma alibi saya untuk lari dari ‘tanggungjawab’ menghidupkan kampung halaman saya
ü Jangan-jangan, dan jangan-jangan yang lainnya,,
Dan kalau memang prioritas saya adalah kebermanfaatan, maka tak harus IM. Banyak cara lain. Banyak ladang untuk bercocok tanam, hanya kita mau berusaha atau tidak. Kalau semangatmu seperti sungai, maka kelapangan hati mestinya seperti samudera. Saya lebih banyak melapangkan hati ketika saya menunggu pengumuman IM, sejak akhir Januari hingga 6 Maret 2012.
Berbekal kelapangan hati yang saya bangun dan pupuk itu, saya mengambil keputusan, merelakan rangkaian kejadian, dan berpikir jernih dengan apa yang menjadi prioritas saya. Hasilnya, saya merasa lebih hidup, walau kesibukan saya sementara ini, adalah menjadi Anak Rumah Tangga, mengajar TPA, menemani tetangga belajar, dan berkunjung kesana-kesini (bahasa halus dari dolan). Hehee. Bahkan saya berpikir mungkin kayak gini rasanya jadi PM, dikerubuti anak-anak ketika TPA, membantu ibu di sawah, ke kota butuh waktu 30 menit lewat hutan juga, dan saya sadar tidak harus ke Luar Jawa, asal kita mau membuka mata, dimana-mana banyak lahan untuk berbuat amal, untuk berbuat kebermanfaatan. J
Seindah apapun rencana yang saya buat, saya yakin Allah memiliki rencana yang lebih indah. Walau terkadang melalui sesuatu yang saya sebut lecet. Karena Allah lebih memahami diri saya daripada saya sendiri. =)
Saptosari, 6 April 2012
gara-gara Dini
Posted in Uncategorized on April 10, 2012
Tiba-tiba saya pengen banget nulis tentang ini. Apa ya, sebagai rasa syukur, terimakasih, haru, campur aduk, sampai saya bilang “rasanya sesek, pengen nangis”. Gara-gara Dini, saya jadi menyalakan komputer di saat yang lain sudah pulas beristirahat, dan menyelesaikan separuh tulisan yang saya buat kemarin. Haha, emang apa si ya yang dilakukan Dini ini? Hehee
Yang dilakukan Dini
Ceritanya malam ini saya menyempatkan membuka fb, setelah sekian hari tidak mengunjunginya. Hmm kok kotak masuknya ada 11, dari siapa ya? Batin saya. Mungkin Dewi. Ternyata waktu saya cek, salah satunya dari Dini. Isinya begini “ ………….. aku abis baca blog kamu loh, ……………………. Kamu terus nulis ya! J” #ealah jahat bgt, Cuma dikutipin dikit
Baca pesan itu saya jadi keinget draft saya yang terbengkalai dan entah dimana. Saya benar-benar malu, akhir-akhir ini banyak luang tapi satu tulisan pun tidak saya hasilkan. Terimakasih Din, sudah mengingatkan ;’)
Ternyata Dini habis blogwalking dan menemukan blog saya. Speechless baca komentarnya. Kalau saja aku menyediakan payung cantik untuk komentar yang membuat speechless, pasti langsung aku kirim satu buatmu Di, walau ke Tangerang, he. Sayangnya aku tidak menyediakan.
# terimakasih ya Din, jazakillah khoir, arigatou, danke, gara-gara pesan yang kau tulis aku jadi inget lagi ma draft yang belum aku selesaikan, he, jadi mulai nulis lagi. Pesanmu itu semacam sentilan juga buatku, yang akhir-akhir ini banyak diam terpaku, haha. Sukses selalu untukmu Din, jangan lupa undang aku di ‘acara’mu ama si Abang \(^0^)/ hehe..
Saptosari, 6 April 2012 23:59pm
Anak Rumah Tangga
Posted in Uncategorized on April 10, 2012
ANAK RUMAH TANGGA
Syndrome pascalulus kuliah adalah saatnya diserang pertanyaan, “Rina, sibuk apa sekarang? Dimana?”, hmmm.. pertanyaan yang penuh perhatian. =) awalnya saya agak bingung juga mau jawab apa, akhirnya saya nemu sebuah frasa yang bagus (menurut saya), dan pas menggambarkan apa yang menjadi kesibukan saya sejak lulus kuliah hingga tulisan ini dibuat, Anak Rumah Tangga.
Posisi : Anak Rumah Tangga
Deskripsi Tugas : Mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan
Gaji : Boleh pesan apa saja ketika bapak ibu bepergian, doa tulus dari ortu =)
Bonus : belajar sebagai persiapan bekal naik level menjadi “ibu rumah tangga”
Simple kan apa yang menjadi kesibukan saya, pun juga deskripsi tugasnya, he. Mengerjakan apa saja yang bisa dikerjakan. Gambaran yang saya kerjakan di rumah, pagi-pagi beres-beres dan masak, tidur-tiduran, sorenya ke sawah atau mengajar TPA, hahaha,, habis maghrib menemani tetangga belajar.
Alhamdulillah setelah saya sibuk semacam itu, kedua orang tua saya tidak banyak bertanya lagi, hehe.
Saya dan Menunggu
Posted in Uncategorized on February 28, 2012
=Saya dan suatu aktifitas bernama menunggu=
Manusia sesungguhnya adalah orang-orang yang menunggu. Menunggu hari akhir. Akan tetapi, itu terasa jauh dan kadang tidak merasa. Mari membicarakan menunggu yang lebih singkat, nunggu pengumuman, nunggu kereta, dan yang saya banget adalah nunggu jemputan
lain tempat, lain cerita. Kalau sebagian orang belajar dari balik jendela kereta, saya dari pinggir jalan raya. Ini cerita saya.. =)
Membaca sekitar dan mengikat makna
Saya biasa menunggu jemputan di Siyono, tepatnya di sekitar kios pasar hewan lama (saat ini sedang dibangun gedung serbaguna). Di tempat ini saya biasanya juga menunggu bis AKDP untuk ke Yogyakarta. Saya telah merasakan beraneka waktu, entah itu pagi, siang, sore, hingga agak malam. Beda-beda pengalamannya. Pagi hari biasanya identik dengan jam keberangkatan orang-orang ke tempat kerja atau ke sekolah. Siang hari identik dengan pulang kerja atau pulang sekolah. Sore hari, nah itu waktu paling galau. Wajah-wajah was-was menanti masihkah akan ada bis yang berangkat menuju Jogja?
Kesepian menunggu membuat saya terkadang mengamati apa yang berjalan dan bergerak di sekitar. Ujung-ujungnya saya lebih sering senyum-senyum sendiri, haha tanda-tanda mesti di GRHASIA-kan
. Ini pengalaman dalam bis. Hari itu bis ngetem sejenak di Piyungan. Kemudian seorang laki-laki masuk meletakkan tas kecil di bawah jok, disusul oleh seorang wanita yang menggendong bayi. Laki-laki tadi berkata kepada kondektur bis ,”nitip yo”. Yang dititipi mengiyakan. Ceritanya laki-laki itu mengantarkan istri dan anaknya ke dalam bis. Istri dan anaknya akan menjenguk ibu mertua di Gunungkidul. Selama bis belum berjalan, laki-laki itu mencium kening anaknya, berkali-kali dan berpesan kepada istrinya. Laki-laki itu sempat turun untuk menemui temannya. Akan tetapi, tak berapa lama kemudian dia kembali ke dalam bis dan mencium anaknya. masyaAllah, keren, batin saya, terkagum-kagum dengan apa yang diperbuatnya. Saya lalu teringat artikel bahwa sikap pria akan berubah ketika telah memiliki anak. Apakah benar demikian? Buktikan saja sendiri
Mengamati keramaian ketika saya terdiam menunggu membuat saya menyadari bahwa hal-hal yang berjalan di sekitar itu unik. Memiliki cerita dan perannya masing-masing.
Mengasah kreatifitas
Menunggu itu membuat bosan. Saya sudah mengalami tunggu menunggu, terutama jemputan sejak SMP, bervariasi mulai dari 1 jam, hingga 3 jam. Beuh,, bosannya gak karuan. Apalagi ya, jaman smp dulu belum ada HP, buku bacaan boro-boro bawa, mau buka buku pelajaran maluu, haha, walhasil kebanyakan waktu menunggu saya terlewat begitu saja.
Mengatasi kebosanan juga bagian dari seni, hhe. Mudah jika kita mengeluh saja, apalagi jika yang ditunggu tak jua datang. Tetapi mengeluh itu tidak membawa kita kemana-kemana, hanya menambah lelah. Jadi, mari temukan cara yang kita banget untuk menemani menunggu. J
Menunggu & Galau
Salah satu respon teman saya –Dida- , “dan ada beberapa hal menunggu yang membuat galau. Menunggu acc TA bagi yang ingin pendadaran. Menunggu kabar beriTA bagi yang melamar kerja. Dan menunggu cinTA bagi yang mencari belahan jiwa. Aseek. Galau kabeh”
Pernahkah anda duduk di ruang tunggu? Dimana pun itu, rumah sakit, terminal, stasiun, atau halte. Pernahkah anda memperhatikan raut wajah mereka yang juga sedang menunggu? Sedikit dari mereka yang memiliki wajah tetap ceria. Dari pengalaman saya, sebagian besar wajahnya diliputi was-was, kadang ada yang diam saja, kadang ada yang tidur. Sedikit yang wajahnya tetap ceria itu lebih banyak karena mereka memiliki teman. Teman duduk, teman bercerita. So, find your partner.
Find your partner and enjoy your waiting time
Partner menunggu bisa benda hidup atau benda mati. Benda hidup, maka carilah kenalan. Tebar senyum dan tanyakan kabar. Kalau di bis pertanyaan yang pertama-tama muncul seringnya adalah “tindak pundi?” atau “mandap pundi?” dari dua pertanyaan sederhana ini, nanti akan berlanjut ke pertanyaan lain, cerita kemana-mana, kadang juga berbonus digratisi bayar bis, atau dibagi permen. Alhamdulillah.
Partner lain yang bisa dimanfaatkan adalah buku bacaan, smsan (ini yang paling sering, haha), sampai ngegame. Kalau lagi tobat, tilawah juga boleh J
“menunggu harus kita isi dengan kebermanfaatan. Menunggu itu latihan sabar. Dan menuggu itu begitu lekat dan dekat dengan kehidupan kita”
Saptosari, 15 Februari 2012
He Did It
Posted in Uncategorized on February 28, 2012
He did it
Bagaimana rasanya ketika anda berhasil? Apalagi ketika telah melakukan usaha berlelah-lelah sampai merasa kepayahan untuk mencapainya. Woow bisalah saya membayangkan betapa bahagianya. Akan tetapi, bagaimana perasaan anda ketika mengetahui teman anda yang berhasil? Semoga tetap bahagia, seperti anda merasakan sendiri bahwa andalah yang berhasil.
Ahad 5 Februari 2012 lalu, sepulang dari pernikahan Yulfa, saya diminta menemani adik sepupu membeli sepatu. TKP nya adalah sisi utara lantai 1 pasar Argosari Wonosari. Saya sibuk smsan, jadi tidak begitu memperhatikan. Sampai ketika adik saya sedang memilih-milih, seseorang memanggil saya, Rin. Saya menengok, ternyataaa,, dia. Wahaaa, saya langsung senyum. Senang ketemu dia. Kemarin sebenarnya saya sempat berpikir untuk sms bertanya mungkin dia akan datang ke nikahan Yulfa dan bertemu di sana, e malah ketemunya di pasar. Kami mengobrol sejenak. Yang membuat kaget adalah ketika dia bertanya,”kamu apa kabar? Dah nikah ya? (sambil nunjuk sepupu saya)” dengan polosnya saja njawab,”belum. Itu adikku” hahaha, asli konyol banget.
Sekilas saya memperhatikan dia. Dia mengenakan seragam Akabri Udara. Akhirnya kata saya pelan, kayaknya dia ndak dengar. Adik saya berpindah kios, saya pun berpamitan. Sepanjang perjalanan pulang rasanya saya tidak berhenti senyum, antara haru, seneng. Ya Allah, Alhamdulillah dia berseragam AAU juga. Saya tahu itu cita-cita dia. Saya ingat bagaimana dulu waktu SMA dia sering jogging sore dari rumah hingga alun-alun wonosari, pulang pergi. Saya pernah mendengar bahwa setelah lulus SMA dia mencoba ikut tes AAU tetapi gagal. Saya tidak tahu berapa kali dia mencoba, dan bagaimana detil dia mengusahakan mewujudkan mimpi itu, tetapi saya benar-benar kagum. Ini sudah 4 tahun berlalu dari kelulusan SMA.
Saking senengnya, saya sampai tidak bertanya no hp dia, haha. Tidak apa lah, semoga lain kali ketemu lagi. Selamat yaa teman, akhirnya impianmu terwujud. Sukses selalu, dan semoga berkah. =)
Pernikahan Yulfa
Posted in Uncategorized on February 28, 2012
Pernikahan Yulfa
Ahad, 5 Februari 2012 lalu, saya menghadiri pernikahan teman saya, Yulfa. Pernikahan dilaksanakan di Plembon Lor, Logandeng, Playen. Mudahnya, ini daerah di depan SMA 2 Playen. Ceritanya saya dikasihtahu Erlyn kalau Yulfa akan segera menikah. Tanggalnya sudah dipublish lewat Broadcast BB katanya 5 Februari. Yaa,, mana mungkin saya dapet, BB aja kagak punya, he. Lalu saya mengirimkan sms singkat untuknya, mengucapkan selamat dan mendoakan yang terbaik, ujung2nya saya diundang berkunjung ke rumahnya pas Hari H nikahan, Alhamdulillah.
Saya berangkat ke nikahan bareng Erlyn dan beberapa teman. Saya bersemangat karena mungkin ini akan menjadi semacam reuni SMP, hehe ngarep. Dan memang benar, disana saya bertemu Sita, Devi, Galuh, Ika, Indra, Mia, Nindya, Dida, Edo, Yessy, Dewi, dan beberapa yang lain. Kami datang agak awal dan menyempatkan menemui pengantin sebelum ke pelaminan. Cantik dan cakep, pas banget. Wajah sumringah, senyum menebar dimana-mana, wakaka lebay. Warna pakaiannya coklat keemasan. Pernikahan kemarin diacarani lengkap, dan menggunakan bahasa jawa alus. Hiburannya campur sari, satu lagu yang masih saya ingat adalah layang kangen. Mantap banget, nambah galau,
Saya menyukai acara pernikahan Yulfa, hehe. Tarub yang digunakan adalah ketepe, semacam daun kelapa gitu. Ini pas banget, karena waktu itu matahari bersinar cerah, jadi tidak terasa panas menyengat, bahkan kerasa adem walau tanpa kipas angin. Periasnya adalah Ary Suganda (barat POM Bensin Siyono), temannya mas Andi. Mas Andi itu suami Yulfa. Beliau memiliki salon juga di daerah Gupakan, dan saat ini menyambi mengajar. Kalau Yulfa adalah Ahli Madya di Dirjen Perbendaharaan yang ditempatkan di Watampone, Sulsel. Beruntung untuk menyelenggarakan pernikahan ini Yulfa mendapatkan masa cuti 2 pekan.
Selama acara berlangsung, MC sering menceritakan tentang mereka berdua, tetapi karena menggunakan bahasa jawa alus saya tidak begitu paham. Ditambah teman-teman saya sibuk bereuni ria, ramai. Untungnya duduk paling belakang dan dekat sound system. Hha. Ada beberapa sambutan yang disampaikan, yang saya perhatikan hanya sambutan dari pihak laki-laki, ketika menyebutkan sanggan. Salah satu sanggan yang dibawa adalah bed cover yang dibentuk buaya. Cerita di baliknya adalah, waktu awal Yulfa pindahan ke Watampone, bed covernya ketinggalan. Selama beberapa hari di sana, tidur hanya berselimutkan sarung. Hmm so sweet. Sanggan lain yang menghebohkan adalah seekor sapi. Subhanallah. Yang ditunggu datang, makan-makan, semua langsung tenang. Makanannya disajikan dengan piring terbang (emang UFO?).
Saya merasa agak kesepian di tengah keramaian, karena kalau mau nggabung ngobrol saya ndak paham. Beda SMA, he. Saya malah mengingat bagaimana saya bertemu dengan Yulfa.
Pertama kali ketemu Yulfa
Yulfa memiliki nama lengkap Siti Yulfa Mustafidah. Panggilan akrabnya Yulfa, tetapi mulai SMA sampai kuliah banyak yang memanggil dia Fafa. Pertama kali bertemu Yulfa adalah saat les kelas 5 SD di Bimbingan Belajar Genius, asuhan Ibu Sam. Yulfa menjadi teman duduk selama setahun les kelas 5 SD. Kelas 6, kami masih les di tempat dan kelas yang sama, tetapi tidak lagi sebangku. SMP kami sama-sama melanjutkan ke SMP 1 Wonosari. Yulfa di kelas A, dan saya di kelas F. mulai jarang berkomunikasi, paling sekedar say hai kalau bertemu. Beda kelas, beda geng, kata anak SMP.
SMA kami berpisah sekolah, saat itu saya memutuskan hijrah ke Yogyakarta. Dia melanjutkan di SMA 1 Wonosari. Masa ini tambah2, kami jarang berkomunikasi. Ketika kuliah saya masih di Yogyakarta saja, Yulfa yang tidak keterima UM waktu itu sempat down (cerita teman). Melalui SPMB, Yulfa diterima di UNY. Atas ke-down-annya dulu, Allah menggantinya dengan meluluskan dia di STAN, Akuntansi Pemeritahan. Alhamdulillah dia hijrah lebih jauh dari saya. Tambah jauh lagi ketika penempatan kerja dia mendapatkan daerah tugas di Watampone.
Kemiripan diantara kami
- Suatu hari di kelas 5 SD, Yulfa bercerita bahwa ibunya hamil 2 bulan. Woow senangnya akan punya adik. Beberapa hari kemudian, di rumah saya tidak sengaja tahu bahwa katanya ibu saya hamil juga. Wootsss?? (shock, males punya adik). Adik Yulfa terlahir cewek dengan nama Hasna, dan adik saya cowok.
- Saat SMP, Yulfa punya pacar kakak kelas, namane Rudi. Haduh kok mirip ya, batin saya. Waktu itu saya dekat juga dengan teman bernama yang sama, beda orang tapi. Kebetulan saja.
- Suatu sore saat saya ikut menjemput adik les, saya melihat bapak-bapak yang rasanya familiar. Jangan-jangan bapaknya Yulfa. Langsung sms Yulfa, bertanya ini itu dan ternyata benar, adik kami sama2 les di tempat yang sama dengan kami les dulu, dan mereka bertemu juga ketika kelas 5 SD. Kebetulan ke sekian. Subhanallah.
- Sepulang dari acara nikahan, saya melihat desain undangan pernikahan Yulfa. Mata saya membelalak ketika membaca nama lengkap mas Andi. Senyum-senyum geje. Masya Allah, batin saya. ceritaMu selalu tak terduga =)
Barakallah Yulfa&mas Andi, semoga pernikahannya berkah dan diberkahi. Sukses selalu dunia dan akhirat, aamiin. =)
KANA 5
Posted in Uncategorized on January 12, 2012
KANA 5..
Desember 2011
(tulisan ini adalah hadiah. Saya baru saja selesai mengepak 40 paket untuk responden penelitian saya dulu, he. Masih kurang nempeli alamat saya, dan ke kantor pos,tapi saya rehat dulu -,-)
Kana 5 adalah rumah kos saya selama hampir 3,5tahun ini. Ini adalah rumah kos ke-4 sejak saya mulai indekos. Kana 5 berlokasi si jl Flamboyan, Gg Kana 5, Karangasem Baru, CT/X, Depok, Sleman. Gg Kana adalah gang yang sempit, beberapa teman saya sering lupa kalau mau mampir. Gang ini pas banget untuk lewat mobil, dan setelahnya akan terasa “kok gang ini kerasa lebih luas”, haha, yakin Cuma saya kok yang ngerasa gitu
Rumah kos saya ini bertetanggaan dengan guru Sejarah saya waktu SMA, beliau adalah Bapak Didik Paranto. Rumah beliau pas banget depan rumah kos saya.
Kana 5 adalah sebuah rumah sederhana, amat sederhana, sebuah rumah induk (yang kecil), dan 9 kamar kos yang disewakan. Rumah ini tidak memiliki garasi, tetapi menyediakan fasilitas dapur, mushola, dan ruang tamu, yaiyalah, wajib kali itu..hehe. lantainya sudah berkeramik putih bermotif sedikit, teman saya pernah berkomentar ,”kos kok keramiknya bagus”, oh iya ya, saya malah gak nyadar. Fasilitas untuk anak kos, sebuah kamar, satu dipan lengkap dengan kasur, bantal, dan guling, dan satu set meja kursi sekaligus rak. Ukuran kamarnya sekitar 3,3. Sewa kamar 180k/bulan, yang dibayarkan tiap 3 bulan. Biaya sewa ini meliputi sewa kamar, alat listrik standar (hp, setrika, laptop, kipas), dan air. Alat-alat elektronik yang berat seperti computer, magic com, dikenakan biaya tambahan, saya tidak tahu pasti berapa. Biaya sewa kos saya mengalami kenaikan pada tahun 2011 ini menjadi 190k. percayalah ini sebuah rumah kos yang sederhana, tetapi semua teman dekat saya suka, kata mereka “suasana kosmu ki rumah banget”. Alhamdulillah =)
Saat ini (kondisi terbaru 5-12-2011, he), kana 5 dihuni oleh 14 penduduk, dengan komposisi 13 cewek, 1 cowok (bapak kos saya), he.. kasihan si Bapak ini, mesti jaga pandangan setiap waktu, karena kami agak kurang ajar akhir-akhir ini, apalagi kalau kumat gejenya. Kenalan yaa, sama penghuni kana 5. Salah satu keluarga saya di Jogja yang menemani kehidupan saya 3,5 tahun terakhir ini (merasa berat mau pindahan).. he..
Keluarga ibu kos. Rumah induk kana 5 dihuni oleh 3 orang, yaitu Mbak Evi, Mas Adi, dan Keyla (3,5 tahun). Iya Keyla lahir sebulan sebelum saya datang. Suara tangisnya adalah backsound ketika kami mulai menepi di kamar masing-masing. Alarm pagi hari juga terkadang. Lebih menyeramkan ketika sampai tengah malam Keyla masih terbahak-bahak sedangkan suara papa-mamanya tak lagi terdengar, haduuh rasanya gak karuan, he..
Lantai 1 blok A adalah lantai 1 ruas pertama, yang dekat jalan, hanya ada 2 kamar. Kamar di blok A adalah kamar yang paling luas diantara kamar-kamar yang lain. Kamar 1 dihuni oleh Ludi (PT ’09). Ludi akan bermigrasi ke kamar saya ketika nanti saya pulang. Ludi belum lama tinggal di kos ini, seingat saya dia datang waktu saya pulang KKN, sekitar Juli 2010 lalu. Ludi suka bernyanyi, asli Serang, kandidat “yang betah ngamar”. Awal dia datang dulu, benar-benar ndak ada suaranya, sekali ngamar ya udah, paling keluar untuk mandi, wudhu, beli makan, selebihnya, di kamar aja. Sekarang, keadaan sudah berubah. Haha. Aslinya sudah ketahuan. kamar berikutnya dihuni oleh Mbak Evi (Biologi UNY ’05) dan Nita (FBS ’10). Sekamar berdua. Aturan sebenarnya untuk 1 orang saja, tetapi mereka berdua ikhlas dan rela untuk tinggal bersama, he jadi ibu kos rela juga. Duo Ngawi ni. Mbak Evi adalah tetua di kos, karena yang paling lama menghuni kos ini. Sejak 2005 tentunya. Nita datang tahun 2010 kemarin, sekitar Juli. Nita suka bermain teater, menurut saya dia mirip Qhachan, he. Ceria, banyak yang suka, ihiiy. Suka ngamar juga. Ah saya baruu tersadar, anak-anak blok A, suka ngamar semua. Di blok A tersedia mushola, ruang tamu, dan 1 kamar mandi.
Lantai 1 blok B, blok yang menghadap jalan, setiap hari panen debu, terutama kamar saya, yang kelihatan dari jalan, dan paling dekat tangga. Oh ada fakta cukup lucu, 3 dari 4 rumah kos yang pernah saya tinggali selalu memiliki tangga curam. Mesakke tenan. Untung aja yang ketiga ini, kamar saya di bawah. Di blok ini terdapat 2 kamar mandi, dapur, 4 kamar. Kamar yang paling dekat dapur dihuni oleh Mbak Kiki (PBI UGM ’10). Penghuni paling rajin. Mbak Kiki adalah partner curcol saya, he, karena nasehatnya yang super bijak dan tidak menghakimi membuat saya selalu kembali bercerita ketika menghadapi masa sulit dan butuh pertimbangan. Kamar sebelahnya ditempati Wulan (PT ’09). The silence one. Paling nggak ada suara. Kalau dah masuk kamar ya udah. Berangkat pagi pulang malam. Sebelahnya lagi ditempati oleh mbak Hani (PT ’05) dan Rani (FEB ’11). Mbak Hani pindah ke kos ini awal tahun 2009, Rani datang Juli 2011. Mereka berdua adalah kakak adik yang bertolak belakang. Kamar mbak hani adalah salah satu kamar favorit untuk merapat, lihat film atau sekedar bergosip. Hal ini dikarenakan kamar mbak hani paling banyak stok makanannya, wkwk. Dan saya adalah salah satu anak kos yang paling aktif merapat, antara kamar mbak kiki dan mbak hani, he. Saya pernah selama satu semester kalau tidak salah, tidur di kamar mbak kiki, he. Kamar yang paling dekat dengan rumah induk adalah kamar saya. Kamar saya paling ndak ada isinya daripada kamar yang lain.
Lantai 2. Lantai 2 terkenal dengan kamar yang maksa, maksa di bentuk kamar. Apalagi kamar mbak Erly (PT ’04), bentuknya L. mbak Erly sering pulang karena harus menemani ibunya yang tinggal sendiri. Kamar sebelahnya dihuni oleh Anisa (PT ’09). Anisa adalah teman SMA Ludi, jadi ya dah super kompak begitulah. Kalau tidak salah Anisa datang kesini karena Ludi, hehe. Penghuni terakhir adalah Rahma (PT ’09). Ini ni cs-an Wulan. Pergi awal pulang yang terakhir, maklum aktifis BEM Fapet.
Kamar saya. Kamar saya biasa aja, he. Apa yang mau diceritakan ya? sebenarnya kamar saya ini paling kotor diantara kamar lainnya, tetapi Alhamdulillah teman yang berkunjung selalu saja memuji ,kamarmu rapi rin, :’) sebenarnya pengen ngakak juga, tapi ya sudah lah. Dipuji ini, disyukuri saja. Kamar saya fasilitasnya standar, dan saya tidak menambahkan banyak hal. Kecuali di dinding saya tempelkan timetable, asmaul husna, dan kalender 2010, 2011. Di kamar ini saya menghabiskan masa hampir 3,5 tahun. Menjadi saksi bisu ketika saya meratapi IPK yang turun di semester ganjil, marah karena disukai kakak angkatan, menangis tergugu saat tahu orang yang disuka sudah tidak ada, meratapi skripsi yang tidak jua selesai. Kamar yang menjadi saksi ketika saya kecentilan saat menerima telepon tengah malam, terbahak ketika mendapat sms lucu. Menjadi saksi ketika saya menulis diary, haiss,
Salah satu sudut eternit kamar saya pernah jebol. Hal ini menyebabkan kotoran yang tersimpan di eternit tumpleg ke kamar saya. Hari itu saya baru saja dari rumah, lelah dan mendapati kamar begitu kotor karena jebolnya eternit, saya labil sekali saking jengkelnya saya membatalkan puasa. T,T
Kamarku, walau aku tidak memiliki nama khusus untukmu, terimakasih telah membantuku membuat kenangan yang tidak akan terlupakan. Aku akan berpindah, memperkaya diri lagi, menambah banyak jejakku di kamar-kamar yang lain. Ya, meninggalkan jejak.
Sebentar lagi Ludi akan berpindah, bersahabatlah dengannya. Jadilah hunian yang nyaman untuknya yang akan membantu dia mewujudkan segala citanya. =)
#saat saya post tulisan ini, saya sudah pindahan dari Kana 5, namun saya masih beberapa kali mampir dan menginap ketika ada keperluan di Jogja.

Recent Comments