<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>MentariPagi</title>
	<atom:link href="http://narinawati.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://narinawati.wordpress.com</link>
	<description>&#34;dan gerakkan tanganmu&#34;</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 01:54:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='narinawati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/a3428b60855c90d66a114eeee92f9498?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>MentariPagi</title>
		<link>http://narinawati.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://narinawati.wordpress.com/osd.xml" title="MentariPagi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://narinawati.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KANA 5</title>
		<link>http://narinawati.wordpress.com/2012/01/12/kana-5/</link>
		<comments>http://narinawati.wordpress.com/2012/01/12/kana-5/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 11:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>narinawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://narinawati.wordpress.com/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[KANA 5.. Desember 2011 (tulisan ini adalah hadiah. Saya baru saja selesai mengepak 40 paket untuk responden penelitian saya dulu, he. Masih kurang nempeli alamat saya, dan ke kantor pos,tapi saya rehat dulu -,-) Kana 5 adalah rumah kos saya selama hampir 3,5tahun ini. Ini adalah rumah kos ke-4 sejak saya mulai indekos. Kana 5 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=175&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>KANA 5..</p>
<p>Desember 2011</p>
<p>(tulisan ini adalah hadiah. Saya baru saja selesai mengepak 40 paket untuk responden penelitian saya dulu, he. Masih kurang nempeli alamat saya, dan ke kantor pos,tapi saya rehat dulu -,-)</p>
<p>Kana 5 adalah rumah kos saya selama hampir 3,5tahun ini. Ini adalah rumah kos ke-4 sejak saya mulai indekos. Kana 5 berlokasi si jl Flamboyan, Gg Kana 5, Karangasem Baru, CT/X, Depok, Sleman. Gg Kana adalah gang yang sempit, beberapa teman saya sering lupa kalau mau mampir. Gang ini pas banget untuk lewat mobil, dan setelahnya akan terasa “kok gang ini kerasa lebih luas”, haha, yakin Cuma saya kok yang ngerasa gitu <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  Rumah kos saya ini bertetanggaan dengan guru Sejarah saya waktu SMA, beliau adalah Bapak Didik Paranto. Rumah beliau pas banget depan rumah kos saya.</p>
<p>Kana 5 adalah sebuah rumah sederhana, amat sederhana, sebuah rumah induk (yang kecil), dan 9 kamar kos yang disewakan. Rumah ini tidak memiliki garasi, tetapi menyediakan fasilitas dapur, mushola, dan ruang tamu, yaiyalah, wajib kali itu..hehe. lantainya sudah berkeramik putih bermotif sedikit, teman saya pernah berkomentar ,”kos kok keramiknya bagus”, oh iya ya, saya malah gak nyadar. Fasilitas untuk anak kos, sebuah kamar, satu dipan lengkap dengan kasur, bantal, dan guling, dan satu set meja kursi sekaligus rak. Ukuran kamarnya sekitar 3,3. Sewa kamar 180k/bulan, yang dibayarkan tiap 3 bulan. Biaya sewa ini meliputi sewa kamar, alat listrik standar (hp, setrika, laptop, kipas), dan air. Alat-alat elektronik yang berat seperti computer, magic com, dikenakan biaya tambahan, saya tidak tahu pasti berapa. Biaya sewa kos saya mengalami kenaikan pada tahun 2011 ini menjadi 190k. percayalah ini sebuah rumah kos yang sederhana, tetapi semua teman dekat saya suka, kata mereka “suasana kosmu ki rumah banget”. Alhamdulillah =)</p>
<p>Saat ini (kondisi terbaru 5-12-2011, he), kana 5 dihuni oleh 14 penduduk, dengan komposisi 13 cewek, 1 cowok (bapak kos saya), he.. kasihan si Bapak ini, mesti jaga pandangan setiap waktu, karena kami agak kurang ajar akhir-akhir ini, apalagi kalau kumat gejenya. Kenalan yaa, sama penghuni kana 5. Salah satu keluarga saya di Jogja yang menemani kehidupan saya 3,5 tahun terakhir ini (merasa berat mau pindahan).. he..</p>
<p><strong>Keluarga ibu kos. </strong>Rumah induk kana 5 dihuni oleh 3 orang, yaitu Mbak Evi, Mas Adi, dan Keyla (3,5 tahun). Iya Keyla lahir sebulan sebelum saya datang. Suara tangisnya adalah <em>backsound</em> ketika kami mulai menepi di kamar masing-masing. Alarm pagi hari juga terkadang. Lebih menyeramkan ketika sampai tengah malam Keyla masih terbahak-bahak sedangkan suara papa-mamanya tak lagi terdengar, haduuh rasanya gak karuan, he..</p>
<p><strong>Lantai 1 blok A</strong> adalah lantai 1 ruas pertama, yang dekat jalan, hanya ada 2 kamar. Kamar di blok A adalah kamar yang paling luas diantara kamar-kamar yang lain. Kamar 1 dihuni oleh <strong>Ludi (PT ’09). </strong>Ludi akan bermigrasi ke kamar saya ketika nanti saya pulang. Ludi belum lama tinggal di kos ini, seingat saya dia datang waktu saya pulang KKN, sekitar Juli 2010 lalu. Ludi suka bernyanyi, asli Serang, kandidat “yang betah ngamar”. Awal dia datang dulu, benar-benar ndak ada suaranya, sekali ngamar ya udah, paling keluar untuk mandi, wudhu, beli makan, selebihnya, di kamar aja. Sekarang, keadaan sudah berubah. Haha. Aslinya sudah ketahuan. kamar berikutnya dihuni oleh <strong>Mbak Evi (Biologi UNY ’05) dan Nita (FBS ’10). </strong>Sekamar berdua. Aturan sebenarnya untuk 1 orang saja, tetapi mereka berdua ikhlas dan rela untuk tinggal bersama, he jadi ibu kos rela juga. Duo Ngawi ni. Mbak Evi adalah tetua di kos, karena yang paling lama menghuni kos ini. Sejak 2005 tentunya. Nita datang tahun 2010 kemarin, sekitar Juli. Nita suka bermain teater, menurut saya dia mirip Qhachan, he. Ceria, banyak yang suka, ihiiy. Suka ngamar juga. Ah saya baruu tersadar, anak-anak blok A, suka ngamar semua. Di blok A tersedia mushola, ruang tamu, dan 1 kamar mandi.</p>
<p><strong>Lantai 1 blok B, </strong>blok yang menghadap jalan, setiap hari panen debu, terutama kamar saya, yang kelihatan dari jalan, dan paling dekat tangga. Oh ada fakta cukup lucu, 3 dari 4 rumah kos yang pernah saya tinggali selalu memiliki tangga curam. Mesakke tenan. Untung aja yang ketiga ini, kamar saya di bawah. Di blok ini terdapat 2 kamar mandi, dapur, 4 kamar. Kamar yang paling dekat dapur dihuni oleh <strong>Mbak Kiki (PBI UGM ’10)</strong>. Penghuni paling rajin. Mbak Kiki adalah partner curcol saya, he, karena nasehatnya yang super bijak dan tidak menghakimi membuat saya selalu kembali bercerita ketika menghadapi masa sulit dan butuh pertimbangan. Kamar sebelahnya ditempati <strong>Wulan (PT ’09).</strong> <em>The silence one</em>. Paling nggak ada suara. Kalau dah masuk kamar ya udah. Berangkat pagi pulang malam. Sebelahnya lagi ditempati oleh <strong>mbak Hani (PT ’05) dan Rani (FEB ’11). </strong>Mbak Hani pindah ke kos ini awal tahun 2009, Rani datang Juli 2011. Mereka berdua adalah kakak adik yang bertolak belakang. Kamar mbak hani adalah salah satu kamar favorit untuk <em>merapat</em>, lihat film atau sekedar bergosip. Hal ini dikarenakan kamar mbak hani paling banyak stok makanannya, wkwk. Dan saya adalah salah satu anak kos yang paling aktif merapat, antara kamar mbak kiki dan mbak hani, he. Saya pernah selama satu semester kalau tidak salah, tidur di kamar mbak kiki, he. Kamar yang paling dekat dengan rumah induk adalah kamar <strong>saya. </strong> Kamar saya paling ndak ada isinya daripada kamar yang lain.</p>
<p><strong>Lantai 2. </strong>Lantai 2 terkenal dengan kamar yang maksa, maksa di bentuk kamar. Apalagi kamar <strong>mbak Erly</strong> <strong>(PT ’04)</strong>, bentuknya L. mbak Erly sering pulang karena harus menemani ibunya yang tinggal sendiri. Kamar sebelahnya dihuni oleh <strong>Anisa (PT ’09). </strong>Anisa adalah teman SMA Ludi, jadi ya dah super kompak begitulah. Kalau tidak salah Anisa datang kesini karena Ludi, hehe. Penghuni terakhir adalah <strong>Rahma (PT ’09). </strong>Ini ni cs-an Wulan. Pergi awal pulang yang terakhir, maklum aktifis BEM Fapet.</p>
<p><strong>Kamar saya.</strong> Kamar saya biasa aja, he. Apa yang mau diceritakan ya? sebenarnya kamar saya ini paling kotor diantara kamar lainnya, tetapi Alhamdulillah teman yang berkunjung selalu saja memuji ,kamarmu rapi rin, :’) sebenarnya pengen ngakak juga, tapi ya sudah lah. Dipuji ini, disyukuri saja. Kamar saya fasilitasnya standar, dan saya tidak menambahkan banyak hal. Kecuali di dinding saya tempelkan timetable, asmaul husna, dan kalender 2010, 2011. Di kamar ini saya menghabiskan masa hampir 3,5 tahun. Menjadi saksi bisu ketika saya meratapi IPK yang turun di semester ganjil, marah karena disukai kakak angkatan, menangis tergugu saat tahu orang yang disuka sudah tidak ada, meratapi skripsi yang tidak jua selesai. Kamar yang menjadi saksi ketika saya kecentilan saat menerima telepon tengah malam, terbahak ketika mendapat sms lucu. Menjadi saksi ketika saya menulis diary, haiss, <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Salah satu sudut eternit kamar saya pernah jebol. Hal ini menyebabkan kotoran yang tersimpan di eternit tumpleg ke kamar saya. Hari itu saya baru saja dari rumah, lelah dan mendapati kamar begitu kotor karena jebolnya eternit, saya labil sekali saking jengkelnya saya membatalkan puasa. T,T</p>
<p>Kamarku, walau aku tidak memiliki nama khusus untukmu, terimakasih telah membantuku membuat kenangan yang tidak akan terlupakan. Aku akan berpindah, memperkaya diri lagi, menambah banyak jejakku di kamar-kamar yang lain. Ya, meninggalkan jejak.</p>
<p>Sebentar lagi Ludi akan berpindah, bersahabatlah dengannya. Jadilah hunian yang nyaman untuknya yang akan membantu dia mewujudkan segala citanya. =)</p>
<p>#saat saya post tulisan ini, saya sudah pindahan dari Kana 5, namun saya masih beberapa kali mampir dan menginap ketika ada keperluan di Jogja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/narinawati.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/narinawati.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/narinawati.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/narinawati.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/narinawati.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/narinawati.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/narinawati.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/narinawati.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/narinawati.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/narinawati.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/narinawati.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/narinawati.wordpress.com/175/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/narinawati.wordpress.com/175/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/narinawati.wordpress.com/175/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=175&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://narinawati.wordpress.com/2012/01/12/kana-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7ffa6f7b82deb5bb2f75e22eb29d9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">narinawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mau Cantik?</title>
		<link>http://narinawati.wordpress.com/2012/01/12/mau-cantik/</link>
		<comments>http://narinawati.wordpress.com/2012/01/12/mau-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 11:03:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>narinawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://narinawati.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Mau Cantik? Jadilah Ramah Ada satu cara mudah dan sederhana untuk menjadi cantik. Jadilah ramah.  Senyum tulus keramahan sungguh-sungguh akan memancarkan kecantikan. **********                 Selama ini saya memang sering berinteraksi dengan bank tetapi belum pernah memperhatikan sikap CS dan Teller nya seperti sepekan terakhir ini. Dalam sepekan, saya mengunjungi dua bank yang berbeda. Di bank [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=173&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mau Cantik? Jadilah Ramah</strong></p>
<p>Ada satu cara mudah dan sederhana untuk menjadi cantik. Jadilah ramah.  Senyum tulus keramahan sungguh-sungguh akan memancarkan kecantikan.</p>
<p align="center">**********</p>
<p>                Selama ini saya memang sering berinteraksi dengan bank tetapi belum pernah memperhatikan sikap CS dan Teller nya seperti sepekan terakhir ini. Dalam sepekan, saya mengunjungi dua bank yang berbeda. Di bank X saya berinteraksi dengan CS (Customer Service), sedangkan di bank Y saya berinteraksi dengan Teller.</p>
<p><strong>Cerita di Bank X</strong></p>
<p>Mbak CS yang melayani saya tersenyum ramah dan terasa tulus. Entah mbaknya sudah mengalami training ketulusan senyum berapa kali, he, namun senyumnya sore itu terasa nyaman. Menenangkan hati saya yang dag-dig-dug karena pertama kali berurusan dengan bank X. Saya disambut uluran tangan dipersilakan duduk dan ditanya keperluannya apa. Pembicaraan mengalir lancar, seiring kepolosan dan kebodohan saya yang kadang suka nyeletuk aneh-aneh. Sebagai tambahan informasi, saya datang jam 3 kurang, dan saya bertransaksi hingga jam 3.45. Mestinya itu sudah jam pulang, tetapi si mbak masih melayani saya dengan ramah.</p>
<p><strong>Ramah. Adalah harga mati jika anda bekerja pada posisi yang berhubungan langsung dengan customer anda.</strong></p>
<p><strong>Cerita di Bank Y</strong></p>
<p>Lagi-lagi saya harus ke bank. Kali ini saya berurusan dengan Teller. Si mbak tersenyum dan menanyakan keperluan saya. Dia kurang tanggap bagi saya. Mungkin masih dalam masa training. Hehe. Saya ditanya apakah membawa KTM atau tidak, saya jawab tidak (kan udah lulus). Mbaknya kaget karena saya sudah lulus dan menyarankan sesuatu berkaitan dengan buku tabungan saya. Sekalian saya mencari tahu bagaimana dan dimana saya bisa melakukan sesuatu itu. Entah kenapa saya malah banyak memperhatikan raut muka si mbak. Cantik, putih. Saya beralih ke bibirnya. Tidak ada senyum ketika memberikan penjelasan, berbeda dengan teller di sebelahnya. Saya mencoba memancing tersenyum, tetapi tidak berhasil. Ya sudahlah. Transaksi saya selesai, saya langsung bergegas setelah mengucapkan terimakasih.</p>
<p><strong>Ketidakramahan. Ibarat api yang membakar habis kayu bakar kecantikan anda.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/narinawati.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/narinawati.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/narinawati.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/narinawati.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/narinawati.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/narinawati.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/narinawati.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/narinawati.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/narinawati.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/narinawati.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/narinawati.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/narinawati.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/narinawati.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/narinawati.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=173&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://narinawati.wordpress.com/2012/01/12/mau-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7ffa6f7b82deb5bb2f75e22eb29d9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">narinawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tiga Kesesatan</title>
		<link>http://narinawati.wordpress.com/2012/01/12/tiga-kesesatan/</link>
		<comments>http://narinawati.wordpress.com/2012/01/12/tiga-kesesatan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Jan 2012 10:43:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>narinawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://narinawati.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[TIGA KESESATAN Hidup adalah rangkaian perjalanan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Disebutkan bahwa hidup ini ibarat berjalan di hutan dalam suatu rangkaian pohon yang berjajar. Kita memulai dari satu pohon, begitu selesai kita beralih ke pohon yang lain, hingga akhirnya kita bisa keluar dari hutan tersebut. Jika hutan adalah kehidupan, maka keluar dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=168&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>TIGA KESESATAN</p>
<p>Hidup adalah rangkaian perjalanan untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Disebutkan bahwa hidup ini ibarat berjalan di hutan dalam suatu rangkaian pohon yang berjajar. Kita memulai dari satu pohon, begitu selesai kita beralih ke pohon yang lain, hingga akhirnya kita bisa keluar dari hutan tersebut. <strong>Jika hutan adalah kehidupan, maka keluar dari hutan adalah kematian. Misi tertunaikan. </strong></p>
<p>Ada jarak, antara pohon satu dengan yang lain. Dalam jarak itu, terkadang kita berkreasi menetapkan tujuan-tujuan lain dalam jangkauan waktu jarak tempuh antarpohon. Jarak itu tidak selalu sama, bervariasi dan beraneka rupa (sama aja kayaknya <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ). Diantara jarak itupun terkadang terdapat pohon ilusi, pohon lain yang bukan merupakan tujuan kita. Pohon ilusi bisa membuat kita bergeser sejenak dari track yang sudah direncanakan. Tidak bisa dipastikan apakah pohon ilusi ini bisa mempercepat atau memperlambat pencapaian tujuan. Yang jelas, pohon ilusi tidak diciptakan tanpa makna. Ketika kita memilih pohon ilusi, atau setidaknya terpana hingga terlena dan lupa pada tujuan kita, bisa dikatakan itu adalah kesesatan.</p>
<p>Pohon perkuliahan, penempaan diri untuk memperoleh perbekalan menjajaki dunia persilatan kerja sudah kami tunaikan. November 2011 adalah masa kami panen aka wisuda. Jarak itu berbeda, semua tak sama. Ada yang bahkan tak sempat beristirahat sudah diharuskan memanjat pohon selanjutnya. Akan tetapi kami, digariskan untuk beristirahat sejenak. semoga. Karena sebenarnya kami masih menunggu, mana jatah pohon yang harus kami panjat selanjutnya. Dalam masa penantian itu, banyak pilihan untuk memanfaatkan waktu ‘luang’. Kami (Rina, Rizka, Ike, dan Nova) membuat suatu tujuan kecil, belajar fotografi di Candi Ratu Boko. Ahad, 18 Desember 2011. Sebenarnya Nova yang akan belajar fotografi, katanya tidak asik kalau tidak ada objek. Diajaklah kami bertiga untuk menjadi objek, hehe. Dengan perjanjian bayar sendiri-sendiri, ndak kuat kalau nanggung biaya tiga orang, he.</p>
<p>Di dunia ini diciptakan banyak sekali pohon ilusi dengan berbagai variannya. Pohon-pohon ilusi tersebut akan lebih sering kita temui ketika kita memulai perjalanan tanpa persiapan. Nah begitulah kisah kami di hari Ahad tersebut. Banyak kesesatan karena tanpa persiapan.</p>
<p>Kesesatan retribusi</p>
<p><strong>“Ada harga yang harus dibayar atas suatu pilihan. Ada retribusi yang harus dibayar untuk menikmati tempat wisata. Ada tambahan yang mesti dikeluarkan untuk menggunakan kamera di tempat wisata.”</strong></p>
<p>Berjalan perlahan sembari bercanda, kami menuju loket. Mengingat-ingat ada uang berapa ya di dompet, cukup gak ya. Tanpa ditanya petugasnya bilang,”<em>semua 86 ribu”</em>. Saya berpikir dan mengeja dulu, DELAPAN PULUH ENAM RIBU??!! Berarti seorang 20rb??! Haah??! Aduh mahal sekali. Dulu kayaknya 10 ribu saja. Maka saya bertanya, <em>yang 10ribu itu gimana?</em> Petugas ,”<em>oh itu untuk anak-anak</em>”. Jleb. Ya sudahlah. Jujur saja, muka kami berempat sudah kecut saat itu. Apalagi Ike<em>, “yaa sama aja tadi kita makan di Sendang Ayu itu bayar, hu”</em> (sebelum ke Boko, kami makan traktiran di Sendang Ayu Jl. Solo).</p>
<p>Berjalan lagi dengan gontai ke petugas tiket, tanya lagi. <em>Sejak kapan tiketnya jadi 20ribu?</em> Petugas ,”<em>lha mbaknya kesini hari apa ini? Kalau weekend tiketnya memang 20ribu, kalau hari biasa itu yang 10ribu</em>”. Tepok jidat. Oiyaa, ini hari Ahad. Doeeng. Ahhh Novaaa, kami kompak teriak. Yang diteriaki Cuma bisa bilang maaf – maaf. Udah gitu masih kena charge kamera Rp 5000. Heuu.</p>
<p>Untuk mengobati duka, “pokoknya ntar kita keliling semua ya, SEMANGAT 20 RIBU”.</p>
<p>Kesesatan jalan pintas</p>
<p>Bagi yang sudah pernah mengunjungi Candi Ratu Boko semestinya mengetahui bahwa situs tersebut super luas. Masya Allah. Peradaban nenek moyang. Jaman dulu aja sudah mampu membuat bangunan semacam itu. Dengan peralatan sederhana dan apa adanya, mampu membuat sesuatu yang luar biasa. <strong>Hikmah : jagalah kesederhanaan. </strong>Kami mengelilingi hampir semua sisi, Gapura Utama, Pendopo, Pool Complex (:P), Keputren, Goa. Saya ingat di Candi Ratu Boko ada suatu gardu pandang, anggap saja demikian. Di sebelahnya ada hutan dan jalan setapak. Dulu saya penasaran itu jalan kemana, tetapi teman main saya dulu nggak mau ambil resiko nyoba jalan setapak tanpa tujuan. Ceritanya dari kami berempat baru saya yang sudah pernah menjelajah Boko. Berbekal itu saya usul, <em>kalau dari Goa ini ada semacam bekas jalan, kita coba itu aja ya, disana ada semacam gardu pandang</em>. Mereka bertiga bermuka tidak percaya dan ragu gitu, tapi kaki mereka melangkah mengikuti saya. Mungkin motifnya adalah mesakke, cah cilik, haha.</p>
<p>Ini dadakan dan tanpa persiapan. Saya  juga hanya berbekal penasaran dan melihat tanah yang tampaknya bekas dilewati orang. Ikuti aja. Awalnya bekas jalan itu terlihat jelas, lama-lama hilang, heuu. Kami mulai was-was, mendung dan belum ashar pula. Paling was-was saya, karena saya yang ngajakin ambil ni jalan pintas. Tapi <em>aku nggak mau kalau balik, udah sejauh ini</em>, kata siapa entah saya tidak memperhatikan. Menenangkan diri, <em>mestinya ada jalan kesana, nggak mungkin berhenti disini, ini ada bekasnya. Ntar ta liat dulu di sebelah sini</em>. Dan taraaa,, Alhamdulillah,, memang jalannya agak belok dulu baru ada jalan yang seperti dulu saya penasaran. Ada turunan curam dengan batu yang licin, Alhamdulillah kami selamat. Satu yang membuat lega, mereka bertiga berkomentar,” <em>oh ada ya tempat ini, harus lewat mana kalau dari bawah tadi?”</em></p>
<p>Kesesatan lupa agenda</p>
<p>Kami pulang lepas maghrib. <em>Nggak ada agenda kok, jadi nyante aja mau pulang jam berapa, he.</em> Sesampainya di kos saya baru ingat, <em>saya belum piket kamar mandi</em>. Ouch, tepok jidat. Segera sms Nova, mengabarkan berita duka tersebut. Dan dia bilang, <em>aku juga lupa nek malam ini jadwal liqo’</em>. Astaghfirullah. Tak lama kemudian Rizka sms <em>“maksud hati sampai rumah mau istirahat, e ternyata hari ini jadwal kumpulan, arisan pula. Huhu duitku</em>” (kira-kira seperti itu smsnya). Hahaa, saya mah ngakak aja, kesesatan ketiga batin saya. Sms ike, kesesatan dia adalah kehujanan yang berdampak pada flu yang tambah parah.</p>
<p>Pohon ilusi tidak diciptakan tanpa makna. Begitulah kesesatan yang kami alami, tidak sampai membuat kami terlena pada tujuan akhir memang, tetapi cukup membuat kami terhenti dari menikmati perjalanan. <strong>Semenarik apapun perjalanan jika kita berfokus pada hal yang tidak sengaja tidak nyaman, maka perjalanan itu akan terasa biasa saja.</strong></p>
<p>Saya bahagia mengingat perjalanan hari itu. Saya dan Nova sudah menempuh jarak 2 bulan dari kelulusan, Rizka dan Ike 4 bulan dari kelulusan, tetapi kami belum dipertemukan dengan jatah pohon kami selanjutnya. Ada bagian yang mengesankan, yaitu kesesatan jalan pintas. Saya bersyukur hari itu saya jalan bareng mereka bertiga, kalau bukan mereka, belum tentu rasa penasaran saya akan jalan setapak itu terpenuhi.</p>
<p>#Nova Ike Rizka, terimakasih. Akan menjadi kenangan indah, tahun depan pada tanggal yang sama ketika kita sudah berada entah dimana, di tempat yang lebih baik pastinya, aamiin.<br />
<strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/narinawati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/narinawati.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/narinawati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/narinawati.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/narinawati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/narinawati.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/narinawati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/narinawati.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/narinawati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/narinawati.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/narinawati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/narinawati.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/narinawati.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/narinawati.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=168&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://narinawati.wordpress.com/2012/01/12/tiga-kesesatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7ffa6f7b82deb5bb2f75e22eb29d9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">narinawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari KENDHIL sampai PINDUL</title>
		<link>http://narinawati.wordpress.com/2011/12/14/dari-kendhil-sampai-pindul/</link>
		<comments>http://narinawati.wordpress.com/2011/12/14/dari-kendhil-sampai-pindul/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 01:46:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>narinawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://narinawati.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Ajakan jalan datang dari Paman pada Sabtu sore (oh beruntung sekali saya langsung pulang begitu dari pernikahan Lia di Klaten. Ajakan itu langsung kami iya kan. Alhamdulillah juga mbak Dwi juga masih di rumah, jadi perjalanan akan lebih ramai. Gunung Kendhil Ahad pagi kami berangkat. Paman, bibi, afni, rahma, saya, mbak dwi, rafiq, dan ricky. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=165&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ajakan jalan datang dari Paman pada Sabtu sore (oh beruntung sekali saya langsung pulang begitu dari pernikahan Lia di Klaten. Ajakan itu langsung kami iya kan. Alhamdulillah juga mbak Dwi juga masih di rumah, jadi perjalanan akan lebih ramai.</p>
<p><strong>Gunung Kendhil</strong></p>
<p>Ahad pagi kami berangkat. Paman, bibi, afni, rahma, saya, mbak dwi, rafiq, dan ricky. Tujuan pertama adalah gunung kendhil. Menurut kabar, gunung kendhil menawarkan pemandian air panas dan juga terapi, jadi kami sudah bersiap membawa baju ganti. Oh ya, dan saya sudah memakai baju kotor saya ketika berangkat, haha.</p>
<p>Kami menempuh perjalanan melalui jalan wonosari, lurus ke arah semanu, ketika sampai pertigaan pilih bedoyo atau ponjong tentu saja harus memilih ponjong. Dari situ perjalanan 6 km lagi. Jika ada yang mengetahui kecamatan Ponjong, maka gunung kendhil terletak 150m dari kecamatan Ponjong. Tenang saja, jalur transportasi lancar, dan suguhan pemandangannya cukup menenangkan, persawahan di kanan kiri.</p>
<p>Saya tidak mahir dalam menceritakan sesuatu, maka biarlah foto yang bercerita. Beberapa foto yang saya ambil.</p>
<p>Taman wisata gunung kendhil terbilang masih baru. Terekspose karena program KKN Khusus dari UPN ‘veteran’ Yogyakarta. Tempatnya menyenangkan, saran saya jangan datang di siang hari. Datanglah pagi sekalian atau mendekati ashar sekalian, karena kolam renang yang di sediakan adalah kolam renang outdoor, beratapkan langit. Ada 3 kolam renang, untuk anak-anak, kolam yang kedalamannya paling 50m, dan yang paling dalam adalah 100m (kayaknya, saya nggak tanya ke pemandu dan gak ahli perenangan :p). ada fasilitas lain yaitu kolam kecil untuk terapi, dan satu aula besar untuk beristirahat. Disediakan tikar untuk duduk-duduk dan tidak perlu bayar. Kalau anda kebetulan malas berenang atau berhalangan, anda masih bisa menikmati pemandangan gunung yang hijau karena jati. Sebelah utara gunung kendhil, ada semacam bak PDAM, anda bisa melakukan trekking kesana dan menikmati Ponjong dari atas. Saya belum sempat kesana si, tapi tampaknya asyik. Walaupun gunung kendhil masih baru, namun anda tidak perlu khawatir. Fasilitas lahan parkir yang disediakan cukup luas, dan dekat dengan mushola yang nyaman. Sudah mulai dibangun beberapa rumah yang saya perkirakana kan dijadikan penginapan, he.</p>
<p>Seusai renang, biasanya lapar melanda. Walau di area gunung kendhil belum terdapat rumah makan, anda sungguh tidak perlu khawatir karena Ponjong terkenal dengan wisata kuliner yaitu kompleks pemancingan. Paling jaraknya 15-20 menit dari gunung kendhil. Lokasinya bernama Simo, kampung wisata kuliner si daerah Genjahan Ponjong.</p>
<p><strong>Simo, kampung wisata kuliner</strong></p>
<p>Hari itu kami memutuskan untuk makan di RM Berkah Tirta. Banyak pilihan rumah makan di kampung Simo ini. Tinggal pilih. Suasana yang ditawarkan juga amat ciamik, pemancingan yang di kelilingi persawahan. Harganya juga terjangkau (saya dibayari jadi nggak tahu pastinya, he).</p>
<p><strong>(Akhirnya) Gua Pindul (lagi)</strong></p>
<p>Sebenarnya saya dan mbak dwi lebih mengharap akan dilanjutkan ke Wediombo. Hanya kami berdua yang belum bermain air, pengennya mah di pantai. Akan tetapi mendung sudah menggelayut dan gerimis menyapa, bulik tidak berkenan kami ke pantai. Paklik memiliki usul lain, gua pindul aja, yang searah jalan pulang. Sakjane yo dilewat-lewatke, he..</p>
<p>Gua Pindul, saya tidak terlalu antusias karena sebelumnya sudah ke sana. Saya dan bulik yang paling nggak antusias, rafiq ikut-ikutan nggak antusias karena pusing, mesakke. Beberapa foto di gua pindul.</p>
<p>Tidak perlu banyak bercerita tentang tempat wisata ini, karena sudah diekspose oleh pengelola melalui website wisata gunungkidul, dan beberapa teman saya juga mengelola pembuatan souvenirnya. Cukup ke sana dan nikmati, banyak pilihannya, caving, rafting gua, rafting oya, monumen perjuangan, situs sokoliman, dan persawahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>BONUS PERJALANAN</strong></p>
<p>Dalam suatu perjalanan, tentu kita akan diberikan bonus perjalanan. Beberapa bonus perjalanan saya kemarin,</p>
<p># Bulik dan Paklik saya adalah orang birokrasi, beliau berdua bekerja di kecamatan. Selama perjalanan beliau memperhatikan rumah di sekitar jalan. Kebanyakan rumah di kompleks kecamatan Ponjong sudah gedong dan bagus, itu menandakan kecamatan ini sudah maju dan kaya. Selain itu kondisi jalur transportasi juga bagus. Faktor pariwisata turut berperan dalam hal tersebut. Saya iseng bertanya, kecamatan mana yang terbilang kaya di gunungkidul. Bulik menjawab Ponjong karena hasil alam dan pariwisatanya, Tanjungsari karena wisata pantainya. Hmm.</p>
<p># Mas Anas, Tim SAR, dan mimpi masa smp. Bulik memang orang yang gapyak. Beliau mengobrol dengan pemandu yang mendampingi keluarga kami. Salah satunya adalah Mas Anas. Begini, karena ramainya pindul, maka pemandu dibantu oleh tim TAGANA dan tim SAR. Ternyata Mas Anas adalah anggota tim SAR gunungkidul. Waa keren. Sayalalu ingat mimpi saya waktu smp. Saya sering melihat tim berseragam orange lewat halaman, kata mbak itu tim SAR. Pengen deh jadi anggota itu kata saya. Kata mbak, nggak mungkin banget lah. Saya sms ikko tentang hal ini, kata dia, renang aja nggak bisa. Mimpi yang benar2 hanya mimpi.</p>
<p># rekreasi dan kekayaan diri. Sesibuk apapun anda, luangkanlah untuk bepergian. Bagi kami bepergian seperti ini amat mengkayakan diri, selain berbagi cerita bersama, hal ini juga ajang untuk saling sapa setelah sekian lama tidak berjumpa. Kadang di sela percakapan, Paklik menyelipkan nilai moral yang mesti kami pegang dalam menjalani kehidupan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/narinawati.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/narinawati.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/narinawati.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/narinawati.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/narinawati.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/narinawati.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/narinawati.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/narinawati.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/narinawati.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/narinawati.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/narinawati.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/narinawati.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/narinawati.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/narinawati.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=165&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://narinawati.wordpress.com/2011/12/14/dari-kendhil-sampai-pindul/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7ffa6f7b82deb5bb2f75e22eb29d9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">narinawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>pernikahan kesepuluh</title>
		<link>http://narinawati.wordpress.com/2011/12/14/pernikahan-kesepuluh/</link>
		<comments>http://narinawati.wordpress.com/2011/12/14/pernikahan-kesepuluh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 01:44:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>narinawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://narinawati.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu, 10 Desember 2011, digelar walimatul ‘ursy pernikahan kesepuluh dalam teladan07, yaitu pernikahan Marlia Rahmawati Renaningtyas dengan Randi Abdullah. Pernikahan diselenggarakan di rumah mempelai wanita di Ds. Gatak, Kujon, Klaten. Pagi itu Alhamdulillah cukup cerah, berangkatlah kami dari POM bensin Maguwo, spot kumpul, menuju Klaten. Kami dipandu oleh seorang adik yang katanya adalah temannya adiknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=163&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sabtu, 10 Desember 2011, digelar walimatul ‘ursy pernikahan kesepuluh dalam teladan07, yaitu pernikahan Marlia Rahmawati Renaningtyas dengan Randi Abdullah. Pernikahan diselenggarakan di rumah mempelai wanita di Ds. Gatak, Kujon, Klaten.</p>
<p>Pagi itu Alhamdulillah cukup cerah, berangkatlah kami dari POM bensin Maguwo, spot kumpul, menuju Klaten. Kami dipandu oleh seorang adik yang katanya adalah temannya adiknya Lia (panjang bgt silsilahnya, he). Saya tidak tahu namanya, tapi makasih sekali ya dek. Perjalanan Alhamdulillah lancar, hanya mendekati pertigaan menuju rumah Lia, ada perbaikan jalan, jadi agak macet. Sebenarnya saya sudah sering mendengar kata Klaten, tapi belum pernah menjelajahinya secara utuh, hanya beberapa kali lewat, karenanya perjalanan kali ini sangat saya nikmati. Maaf ya fa, aku tidak datang ke wisudamu T,T</p>
<p>1,5 jam dibonceng ikko, akhirnya kami sampai di lokasi pernikahan, di rumah Lia tentunya. Di sana kami bertemu Oka, yang ternyata menjawab sebagai pendamping pengantin sepertinya, he. Lia amat cantik, dan masnya cukup ganteng (kata Felis dan Esti <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ). Lia sempat update status fb menjelang acara resepsi, yang kira-kira kata-katanya begini “its my day”. Haiii masih sempat ya update status, #dengan muka mupeng :p</p>
<p>Hal yang menarik adalah bagian khutbah nikah. Hehe. Salut untuk bapak yang menyampaikan khutbah nikah. Ringkasan khutbah yang sempat saya catat (niat banget ya,he);</p>
<p><em>“Modal utama dalam berumah tangga adalah tauhid kepada Allah. Bukan cinta. Cinta hanyalah bungkusnya saja. Tauhid kepada Allah kuat, cinta akan datang dengan sendirinya. Karena Allah yang memiliki cinta. Keadaan Sakinah Mawaddah wa Rahmah akan mengikuti. </em></p>
<p><em>Kewajiban suami kepada istri: 1) Memberikan Mahar 2) Mendidik istri ilmu untuk mengenal Allah 3) Memberikan nafkah lahir batin 4) Bergaul dengan cara yang baik.</em></p>
<p><em>Kewajiban istri kepada suami: 1)Taat, patuh, tunduk kepada suami selama suami masih dalam ketaatan kepada Allah 2)bergaul dengan penampilan yang terbaik. Segalanya hanya untuk suami”</em></p>
<p>Tidak bisa dipungkiri saya cekikikan mendengar khutbah itu. Ahh, betapa mulianya pernikahan, dan betapa besarnya tanggung jawab yang mengikuti. Saya cekikikan memandang diri saya, mampukah saya untuk itu? Biar Allah yang memampukan, dengan scenario indahNya.</p>
<p>Selesai acara kami mampir makan di Bakso Bendo Arab. Di sela makan maulvi bertanya kepada saya, Ikko, dan Felis, kalian kapan? Tidakkah kalian merasa khawatir? Kan teman-teman yang lain sudah menikah?. Kami mah ngakak ditanya begituan, belum ada calon, belum dapat kerjaan, belum ditanya ma orangtua, nyantai aja, kenapa khawatir terhadap sesuatu yang datangnya pasti, hanya belum tahu kapan. Mestinya khawatir tentang perbekalan menuju kehidupan pernikahan, kesiapan lahir batin kita.</p>
<p>Barakallah Lia =)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/narinawati.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/narinawati.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/narinawati.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/narinawati.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/narinawati.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/narinawati.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/narinawati.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/narinawati.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/narinawati.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/narinawati.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/narinawati.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/narinawati.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/narinawati.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/narinawati.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=163&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://narinawati.wordpress.com/2011/12/14/pernikahan-kesepuluh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7ffa6f7b82deb5bb2f75e22eb29d9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">narinawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>RINDU SIMBAH</title>
		<link>http://narinawati.wordpress.com/2011/11/16/rindu-simbah/</link>
		<comments>http://narinawati.wordpress.com/2011/11/16/rindu-simbah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 12:08:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>narinawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://narinawati.wordpress.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Malam ini saya terjangkit sindrom “kerinduan”. Sebelum ramadhan saya menyempatkan ziarah ke makam simbah, minggu pertama kakak almarhum simbah berpulang, kemarin sore salah satu teman bercerita tentang rindunya pada simbahnya, saya ikut-ikutan kangen simbah. Simbah dari Bapak sudah berpulang dua-duanya. Simbah putri meninggal awal tahun 2007, lalu simbah kakung menyusul pada November 2008. Hanya satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=161&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam ini saya terjangkit sindrom “kerinduan”. Sebelum ramadhan saya menyempatkan ziarah ke makam simbah, minggu pertama kakak almarhum simbah berpulang, kemarin sore salah satu teman bercerita tentang rindunya pada simbahnya, saya ikut-ikutan kangen simbah. Simbah dari Bapak sudah berpulang dua-duanya. Simbah putri meninggal awal tahun 2007, lalu simbah kakung menyusul pada November 2008. Hanya satu tahun berselang, itu cukup menunjukkan bahwa simbah kakung tidak bisa hidup tanpa simbah putri. Akan tetapi, sungguh bukan itu yang akan saya paparkan. Saya rindu sosok beliau berdua.</p>
<p>Simbah putri, adalah salah satu pembela saya ketika saya bertengkar dengan ibu. Beliau selalu ada di pihak saya walau tahu sebenarnya mungkin sayalah yang bersalah. Beliau yang membersihkan rambut saya dari “getah” nangka, yang mendengarkan saya curhat tentang teman sekelas saya ketika saya masih SD, yang tehnya saya serobot ketika saya masih kecil entah usia berapa. Beliau yang rajin menyisihkan makanan dan uang untuk cucu-cucunya walau tak seberapa. Beliau yang melupakan saya ketika saudara dari jauh datang. Ah tapi itu tak jadi soal ketika saya mengingat lagi banyak hal yang beliau lakukan semasa hidupnya. “janganku seger tho? (sayurku segar kan?)” kata beliau dulu tiap kali saya makan di rumahnya. Rumah simbah hanya di belakang rumah saya, tapi itu jadi pelarian paling manjur kalau saya ada perdebatan dengan bapak ibu.</p>
<p>Simbah kakung memiliki cerita yang lain lagi. Beliau adalah sosok yang lebih banyak diam dengan pembawaan yang tenang. Simbah kakung selalu menyempatkan menyapa setiap tamu yang datang ke rumah kami, entah itu tamu bapak, atau teman-teman saya. Semenjak simbah putri sakit, simbah kakung tidak pernah jauh dari sisi simbah putri. Menemani beliau siang malam, menyuapi simbah putri makan, mengajak bercerita, dan membantu dalam banyak hal. Ketika simbah putri berpulang, simbah kakung terlihat tabah di depan anak-anaknya, namun dalam hati beliau, hanya beliau yang tahu. Hari-hari setelahnya simbah kakung tidak banyak beraktivitas, hanya di rumah menunggu rumah dan mengerjakan hal di rumah yang masih mampu beliau lakukan. Tempat favorit beliau adalah pojok timur teras depan rumah. Beliau sering duduk di sana, dan menyapa tetangga yang lewat di jalan depan rumah. Salah satu tetangga saya bahkan tidak berani lagi lewat depan rumah kami sendirian karena trauma dan terbayang-bayang simbah kakung. Pagi hari sebelum beliau meninggal, simbah kakung sempat menyapanya. Tujuh hari setelah simbah kakung meninggal, ketika saya melihat teras depan, saya merasa masih menemukan simbah duduk disana, melepas keberangkatan saya untuk ke jogja.</p>
<p>16 agustus besok adalah 1000 hari meninggalnya simbah kakung. Mungkin ini berkontribusi dalam muncul rindu ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/narinawati.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/narinawati.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/narinawati.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/narinawati.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/narinawati.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/narinawati.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/narinawati.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/narinawati.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/narinawati.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/narinawati.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/narinawati.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/narinawati.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/narinawati.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/narinawati.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=161&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://narinawati.wordpress.com/2011/11/16/rindu-simbah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7ffa6f7b82deb5bb2f75e22eb29d9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">narinawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bau Tanah</title>
		<link>http://narinawati.wordpress.com/2011/11/16/bau-tanah/</link>
		<comments>http://narinawati.wordpress.com/2011/11/16/bau-tanah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 12:06:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>narinawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://narinawati.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum tahun 2007, masjid  al Fattah kampung kami hanyalah sebuah masjid mungil. Untuk tarawih harian saja tidak memadai untuk menampung jama’ah, apalagi ketika hari raya tiba, sampai harus menutup jalan raya (wajarlah ya, dimana-mana juga gitu, he). Pada tarawih harian, paling tidak, ada satu shaf yang di halaman. Halaman yang masih belum rata. Halaman tanah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=159&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebelum tahun 2007, masjid  al Fattah kampung kami hanyalah sebuah masjid mungil. Untuk tarawih harian saja tidak memadai untuk menampung jama’ah, apalagi ketika hari raya tiba, sampai harus menutup jalan raya (wajarlah ya, dimana-mana juga gitu, he). Pada tarawih harian, paling tidak, ada satu shaf yang di halaman. Halaman yang masih belum rata. Halaman tanah beserta batu dan kerikil yang menonjol. Dan bisa dipastikan, saya adalah salah satu penghuni shaf yang berada di halaman itu, he. Salah seorang kakak pernah mengkhawatirkan keadaan tersebut,”bagaimana kalau tidak rata tanahnya? Jadinya tidak sama dong posisi sujudmu?” wallahua’lam,, lha halaman masjid kami seperti itu kondisinya.</p>
<p>Ceritanya, saya tidak lagi memiliki “teman” di rumah, salah satunya karena jarang pulang, ditambah faktor lain, teman-teman saya sudah berkeluarga atau ada juga yang merantau ke luar kota. Untuk menyiasati hal tersebut, maka saya sering berangkat terakhir ke masjid. Ketika adzan selesai dikumandangkan, saya baru beranjak. Walhasil, serambi masjid sudah penuh (ruang utama digunakan untuk jama’ah laki-laki). Jadilah saya menggenapkan shaf yang di halaman.</p>
<p>Salat di shaf halaman memang memiliki banyak resiko. Suara imam yang terkadang tidak terdengar, suara kultum yang tidak tertangkap, dan dingin angin malam yang terkadang sampai menyibakkan sajadah. Namun bagi saya itu tidak terlalu jadi masalah. Masih banyak hal lain yang membahagiakan dan patut untuk disyukuri. J</p>
<ol>
<li>Bau tanah; karena salat di halaman langsung beralaskan sajadah di atas tanah, maka bau tanah jelas tercium ketika sujud. Ada sensasi dingin, harum, dan semacam haru ketika melakukan sujud. Hari ini saya merindukan itu.</li>
<li>Beratapkan langit penuh bintang; kesulitan mendengarkan imam yang kultum, saya manfaatkan dengan menatap bintang dan menikmati angin dingin yang berhembus semilir. Terkadang saya sertakan perenungan tertentu. Dan lagi-lagi saya rindu itu. (menulis ini, saya hampir mbrebes mengingat itu)</li>
</ol>
<p>Saat ini, Alhamdulillah serambi masjid kami sudah mampu menampung jama’ah putri, sudah beratap genteng, dan berlantai keramik. Dinginnya lain, dingin keramik dan dingin angin malam (masjid kami terletak di atas bukit). Saya sangat mensyukuri keadaan masjid kami saat ini. Namun saya rindu, saya rindu masjid mungil kami dahulu, saya rindu bau tanahnya, saya rindu dingin angin malamnya, saya rindu syahdunya malam (jiahh mulai lebay). Ya Allah terimakasih atas anugerah rasa rindu ini.</p>
<p>(Kamar kolong tangga kana 5, 10.08.11)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/narinawati.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/narinawati.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/narinawati.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/narinawati.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/narinawati.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/narinawati.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/narinawati.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/narinawati.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/narinawati.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/narinawati.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/narinawati.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/narinawati.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/narinawati.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/narinawati.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=159&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://narinawati.wordpress.com/2011/11/16/bau-tanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7ffa6f7b82deb5bb2f75e22eb29d9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">narinawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AFTER SABATICAL PERIOD</title>
		<link>http://narinawati.wordpress.com/2011/11/16/after-sabatical-period/</link>
		<comments>http://narinawati.wordpress.com/2011/11/16/after-sabatical-period/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 11:57:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>narinawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://narinawati.wordpress.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Lama sekali saya tidak memposting sesuatu di blog ini. Beberapa hal cukup menyita perhatian dan salah satunya, saya tidak lagi di perpustakaan, jadi tidak bisa online sesuka hati, hehe. Padahal harga modem dah murah kan ya, saya tidak mengisi pulsa modem kecuali terpaksa harus buka email mendadak, so ekonomis sekalii. Penyelesaian Tugas Akhir Alhamdulillah tugas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=155&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lama sekali saya tidak memposting sesuatu di blog ini. Beberapa hal cukup menyita perhatian dan salah satunya, saya tidak lagi di perpustakaan, jadi tidak bisa online sesuka hati, hehe. Padahal harga modem dah murah kan ya, <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' />  saya tidak mengisi pulsa modem kecuali terpaksa harus buka email mendadak, so ekonomis sekalii.</p>
<p><strong>Penyelesaian Tugas Akhir</strong></p>
<p>Alhamdulillah tugas akhir saya akhirnya terselesaikan. Alhamdulillah, bantuan, doa, dukungan dari banyak pihak pastinya, semoga Allah membalas setiap kebaikan mereka dengan kebaikan yang lebih baik dan lebih kekal, aamiin.</p>
<p>Gara-gara tugas akhir, saya jalan-jalan keliling Jogja, berangkat dari sudut mana pulang dari sudut mana, menjelajah jalan-jalan baru di gang-gang kampong, yang jujur saja itu membuat saya ketagihan untuk mengulanginya lagi. Gara-gara tugas akhir, tiap kali lewan suatu daerah yang mungkin disana ada responden saya, dengan bangga saya bilang “di sana ada respondenku lho”. Penolakan, alamat yang tidak ketemu, telepon konfirmasi yang tidak dijawab, dan berbagai macam lika-likunya. Sebenarnya bukan hasil, tetapi prosesnya. Seperti saya mendoa, semoga seiring selesainya tugas akhir ini, tidak hanya tugas akhir saya yang hasilnya baik, semoga saya juga berproses untuk menjadi lebih baik. Apakah sekarang saya lebih baik? insyaAllah.</p>
<p><strong>Hanya perlu “Kun” untuk menjadi Sarjana</strong></p>
<p>Semoga saya tidak berlebihan. Benar-benar atas kuasa Allah saya bisa lulus sidang pendadaran dan ujian komprehensif. Hanya dengan kata “kun” dari Allah itu semua terjadi. Salah satu dosen penguji saya diganti, 2 jam menjelang ujian. Alhamdulillah diganti jadi dosen yang berhati malaikat.  =)</p>
<p>Pelajaran berharga adalah, berdoalah dengan benar, usaha dengan maksimal, dan setelahnya pasrahkan kepada Allah. Selama itu berprasangka baiklah. Karena Allah sesuai prasangka hamba-Nya.</p>
<p><strong>Satu Galau Berlalu, Disambut Galau Berikutnya</strong></p>
<p>Galau tugas akhir telah usai, disambutlah galau berikutnya. Pasca kuliah. Mau kemana? Rencana setelah ini apa? Ah ya, itu pertanyaan yang familiar. Kerja, sekolah lagi, atau menikah? Hmm,. Saya pengen tiga-tiganya, tetapi penerapannya harus disesuaikan dengan keadaan, haha.</p>
<p>Saat ini saya masih memetakan perjalanan berikutnya sekaligus strateginya, mohon doanya semoga saya dimudahkan dan dikuatkan untuk mewujudkan apa yang saya citakan. Begitu juga dengan anda.</p>
<p><strong>Mari Menggelora</strong></p>
<p>“Kekhawatiran itu seperti kursi goyang, dia memberimu kesibukan tetapi tidak membawamu kemana-mana” –Zen Al-Habsyi-</p>
<p>Yakinlah bahwa kegalauan itu sama saja dengan kegalauan. Menyibukkan kita, menyita pikiran dan perhatian kita, tetapi tidak membawa kita kemana-mana, terutama ketika kita tidak mengambil tindakan. Mengutip dari buku “<em>Tuesdays with Morrie”</em> karya Mitch Albom, lakukanlah <em>detachment</em>. Saya memahaminya sebagai lakukanlah pelepasan terhadap masalahmu, perasaanmu. Sebagai contoh demikian, ketika anda sakit hati (oopss, curcol <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ), rasanya perih teriris, makan ndak enak, aduh macam-macam lah itu. Anda tahu itu rasa sakit hati, rasakan secara mendalam, dan menangis selama anda perlukan. Akan tetapi setelah itu, melangkahlah kembali. Lakukan hal-hal yang bermanfaat. Beranilah untuk mengatakan “cukup” atas perasaan sakit hati anda.</p>
<p>Setelahnya marilah kita menggelora,, menebarkan semangat. Saya bahagia sekali ketika suatu ketika teman saya mengapresiasi semangat saya dengan berkata “aku suka sama semangatmu”. (bersyukurlah dia tidak ada ketika saya tidak bersemangat, haha).</p>
<p>Boleh saja galau, daripada tenang tetapi tidak bertumbuh sama sekali. Jadikan galaumu sebagai pemicu bahwa kita bisa untuk lebih baik lagi. Mari menggelora, getarkan dunia dengan semangat kita. Tidak ada yang salah dari bersemangat, karena hidup tidak didesain tanpa halangan dan rintangan. Meskipun banyak jalan menuju Roma, yakinlah ada satu jalan yang paling efektif dan efisien diantara pilihan jalan yang lain.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/narinawati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/narinawati.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/narinawati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/narinawati.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/narinawati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/narinawati.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/narinawati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/narinawati.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/narinawati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/narinawati.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/narinawati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/narinawati.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/narinawati.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/narinawati.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=155&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://narinawati.wordpress.com/2011/11/16/after-sabatical-period/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7ffa6f7b82deb5bb2f75e22eb29d9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">narinawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>tambahan pengetahuan</title>
		<link>http://narinawati.wordpress.com/2011/07/18/tambahan-pengetahuan/</link>
		<comments>http://narinawati.wordpress.com/2011/07/18/tambahan-pengetahuan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Jul 2011 06:40:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>narinawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://narinawati.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[ini adalah komen dari teman saya, Nova Kurniawan, atas post saya sebelum ini, disini. Rin, aku pernah nanya soal ini ke Andi Eko Saputra temen kita FEB tentang beramal dengan mengharapkan surga… dan jawabannya seperti ini… “Saya juga belum pernah mendengar atau membaca hadist semacam itu. Kalaupun ada hadist yang secara dhohir (redaksional) mengatakan demikian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=148&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ini adalah komen dari teman saya, Nova Kurniawan, atas post saya sebelum ini, <a href="http://narinawati.wordpress.com/2011/07/15/andai-bukan-karena-cinta-nya-kepadaku/">disini.</a></p>
<blockquote>
<div>
<p>Rin, aku pernah nanya soal ini ke Andi Eko Saputra temen kita FEB tentang beramal dengan mengharapkan surga… dan jawabannya seperti ini…</p>
<p>“Saya juga belum pernah mendengar atau membaca hadist semacam itu. Kalaupun ada hadist yang secara dhohir (redaksional) mengatakan demikian tadi, mungkin penafsiran yang dikehendaki bukanlah sebagaimana yang dikatakan oleh penanya. Karena apabila dimaknai dengan penafsiran yang demikian tadi,<br />
maka akan bertentangan dengan begitu banyak dalil shohih yang ada kaitannya dengan keikhlasan.<br />
Sejauh yang saya tahu, perkataan yang demikian tadi,<br />
hanyalah merupakan perkataan dari sebagaian ulama yang berpemahaman sufi / tasawuf</p>
<p>Hadist yang secara nyata membantah perkataan tersebut,<br />
salah satu di antaranya (yang sering kita dengar): “man shouma romadhona imanan wah tisaban ghufiro lahu ma taqoddama min dambih” (barangsiapa berpuasa Romadhon karena iman dan menghitung-hitung pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya di masa lalu). HR Mutafaqqun ‘alaih (Bukhari-Muslim)<br />
Kita diperintahkan untuk berpuasa romadhon (beramal sholih) dengan iman dan mengharap pahala. Sehingga tidaklah salah apabila amal sholih diniatkan untuk menggapai surga/pahala. Bahkan, demikian inilah “konsep keikhlasan” yang difahami oleh para Nabi, Rosul, dan orang2 sholih di masa itu. Bukannya seperti yang mereka (orang2 sufi ) katakan itu.</p>
<p>Dalil aqli dalam masalah itu (hanya sebagai penguat<br />
saja, bukan dalil utama):</p>
<p>Apabila dikatakan bahwa: “saya beramal sholih adalah<br />
karena cinta kepada Alloh, bukan karena mengharap surga dan takut pada neraka” (*sepintas, bagi sebagian orang, kata2 semacam ini mungkin terdengar indah, inilah salah satu wujud tipu daya syaithon. Dia menjadikan kesesatan terdengar indah oleh sebagian orang)<br />
Maka, berarti secara tersirat dia mengatakan:<br />
1 1. Dia<br />
tidak butuh pada surga Alloh dan tidak pula butuh pada perlindungan Alloh dari api neraka. Dan ini adalah suatu kesombongan.</p>
<p>2. Apabila<br />
tidak ada surga dan tidak ada pula neraka, dia akan tetap beramal sholih. à sepintas mungkin ini terdengar bagus. Namun, coba perhatikan. Dia seolah memunculkan alternative ketiadaan surga dan neraka. Padahal keduanya sudah jelas tentu ada.<br />
3. 3. Jika<br />
dia benar2 cinta kepada Alloh, maka seharusnya dia mengikuti jalannya<br />
Rasulullah SAW, bukan dengan mencari2 jalan (konsep keikhlasan) sendiri. Bukankah Alloh<br />
telah berfirman dalam QS Ali Imron 31: “qul in kuntum tuhibbunalloha fattabi’uni, yuhbib kumullohu wayaghfirlakum dzunubakum” (arti: katakanlah, jika kamu mencintai Alloh, maka ikutilah aku (Muhammad SAW); niscaya Alloh akan mencintaimu dan mengampuni dosa2mu). Sesungguhnya<br />
konsep keikhlash-an Rasulullah SAW adalah dengan mengharap surga dan takut pada neraka.</p>
<p>Adapun hadits tentang<br />
ancaman atas orang yang tidak ikhlash dalam beramal, salah satunya:</p>
<p>Dalam Kitab al-Imarah Imam Muslim meriwayatkan<br />
hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga. Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang sekiranya akan dia peroleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu sampai akhirnya aku mati syahid.’ Allah berkata, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu berperang demi mendapatkan julukan sebagai orang yang gagah berani, dan hal itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian, ada seorang lelaki yang suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta pandai membaca al-Qur’an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Di menjawab, ‘Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur’an untuk-Mu.’ Allah mengatakan, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi<br />
mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur’an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya, seorang<br />
lelaki yang Allah lapangkan untuknya harta dan Allah berikan kepadanya berbagai jenis kekayaan. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh dengan sebab amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah<br />
bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Tidak pernah aku lewatkan satu perkara pun yang Engkau sukai untuk aku berinfak kepadanya, melainkan aku pasti telah menginfakkan hartaku padanya karena-Mu.’ Allah berkata, ‘Dusta<br />
kamu. Sebenarnya kamu lakukan itu<br />
agar kamu disebut sebagai dermawan, dan hal itu telah kamu dapatkan. Kemudian orang itu pun diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim [1905], lihat Syarh Muslim [6/531-532]) Hadist saya<br />
copas dari: <a href="http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/" rel="nofollow">http://abumushlih.com/tiga-pendusta.html/</a><br />
Sebagaimana<br />
dapat kita pahami, hadist tersebut tidaklah semakna dengan yang dinyatakan oleh penanya.</p>
<p>Untuk pembahasan lain<br />
mengenai keikhlas-an silakan baca: <a href="http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2867-apakah-ikhlas-berarti-tidak-boleh-mengharap-pahala-dan-surga-.html" rel="nofollow">http://rumaysho.com/belajar-islam/aqidah/2867-apakah-ikhlas-berarti-tidak-boleh-mengharap-pahala-dan-surga-.html</a><br />
Tambahan:<br />
Pembahasan mengenai hal ini, mungkin akan<br />
mengingatkan kita pada salah satu lagu grup band “Dewa”:</p>
<p>Jika surga dan neraka tak pernah ada…<br />
Masih kah kau sujud kepadanya…</p>
<p>*ini seolah menyindir orang yang beribadah karena<br />
mengharap surga (pahala) dan takut neraka (dosa)..</p>
<p>Faham inipun akhirnya menularkan pada lirik lagu grup<br />
band lainnya (Padi):<br />
“Meskipun<br />
aku di surga mungkin aku tak bahagia, bahagiaku tak sempurna bila itu tanpamu”<br />
Ini menunjukkan betapa kesesatan telah menjadi wabah nyata, yang dilantunkan secara terselubung ke telinga2 kaum muslimin.. dan bahkan terkadang sebagian kaum muslimin pun (entah sadar/tidak) melantunkannya pula..</p>
<p>Wallohu ta’ala a’lam…”</p>
<p>Secara pribadi jujur aku jauh lebih bersemangat ketika benar2 termotivasi oleh surga rin, membayangkan detail surga dengan segala kenikmatannya, itu bener2 energi yang kuat buat mendorong kalo kita lagi jatuh atau ga semangat… Bener2 luar biasa, menggantungkan surga tepat 5cm di depan kening kita… <img src="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1305289405g" alt=":D" /></p>
<p>walaupun tentu kita juga harus yakin bahwa amal memang bukan satu2nya yang berperan memasukkan kita ke surga, tetapi atas ridho dan cinta-Nya…</p>
<p>mungkin komenku bisa jadi pembanding ya… ^^</p>
</div>
</blockquote>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/narinawati.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/narinawati.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/narinawati.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/narinawati.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/narinawati.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/narinawati.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/narinawati.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/narinawati.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/narinawati.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/narinawati.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/narinawati.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/narinawati.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/narinawati.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/narinawati.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=148&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://narinawati.wordpress.com/2011/07/18/tambahan-pengetahuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7ffa6f7b82deb5bb2f75e22eb29d9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">narinawati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif?m=1305289405g" medium="image">
			<media:title type="html">:D</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Andai bukan karena cinta-Nya kepadaku</title>
		<link>http://narinawati.wordpress.com/2011/07/15/andai-bukan-karena-cinta-nya-kepadaku/</link>
		<comments>http://narinawati.wordpress.com/2011/07/15/andai-bukan-karena-cinta-nya-kepadaku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Jul 2011 11:32:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>narinawati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://narinawati.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : M. Lili Nur Aulia dalam majalah Tarbawi edisi 240, Desember 2010. Seharusnya kita mengerti adanya perbedaan mendasar, antara bekerja dan menerima upah bekerja antara sesama manusia, dengan bekerja lalu menerima pahala antara manusia dan Allah Swt. Sebagian orang rancu menganggap beramal atau bekerja dalam hubungan antar manusia, sama dengan beramal  dalam hubungan dirinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=144&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh : M. Lili Nur Aulia</p>
<p>dalam majalah Tarbawi edisi 240, Desember 2010.</p>
<p>Seharusnya kita mengerti adanya perbedaan mendasar, antara bekerja dan menerima upah bekerja antara sesama manusia, dengan bekerja lalu menerima pahala antara manusia dan Allah Swt. Sebagian orang rancu menganggap beramal atau bekerja dalam hubungan antar manusia, sama dengan beramal  dalam hubungan dirinya dengan Allah Swt.</p>
<p>Contohnya begini. Bila ada salah seorang dari kita bekerja dan berhak mendapat upah sebuah kebun. Apakah sama kondisinya, bila salah seorang kita beramal dan berhak mendapat balasan dari Allah Swt berupa surga? Atau ungkapan sederhananya, apakah kita berhak mendapatkan balasan surga dari Allah swt karena amal-amal yang kita lakukan? Seperti kita berhak mendapatkan upah dari manusia karena pekerjaan yang kita lakukan.</p>
<p>Saudaraku,</p>
<p>Jika itu bagian dari anggapan kita, berarti kita ungkapan dalam pikiran kita adalah “Allah akan membalas pahala kepadaku, karena aku telah melakukan amal shalih sesuai perintah-Nya.” Dan bila itu yang terjadi itulah yang dikatakan mengandalkan amal, bukan mengedepankan Allah swt saat kita beramal.</p>
<p>Mari kita kaji lebih jauh masalah ini. Para salafusshalih memiliki pandangan yang begitu dalam tentang hubungan amal seseorang dengan harapan penuh kepada pahala yang akan Allah berikan kepadanya. Dalam kitab Al Hikam tulisan Ibnu Athaillah misalnya, ia mengatakan “Termasuk tanda seorang bersandar kepada amalnya, adalah sikap kurang memiliki harapan saat terpeleset dan melakukan dosa.” Ungkapan Ibnu Athaillah ini adalah anjuran agar kita benar-benar bersandar pada ridha Allah, bukan kepada pahala dan ganjaran yang Allah akan berikan atas amal yang kita lakukan itu. Shalat, puasa, shadaqah, beragam amal shalih. Kita benar-benar berharap atas kelembutan, kasih saying dan kemurahan Allah swt pada amal-amal itu sendiri.</p>
<p>Bagaimana mendudukkan logika ini secara lebih terang?</p>
<p>Syaikh Al Buthi, saat menjelaskan ungkapan Ibnu Athaillah itu menguraikan “Ketika Allah swt memerintahkan kita dengan ketaatan dan menjauhi larangan-Nya, Allah swt menolong, membantu, memfasilitasi kita melakukan itu semua. Siapa yang menjadikan kita mampu mendirikan shalat? Siapa yang menjadikan kita kuat menahan lapar dan haus saat puasa? Siapa yang melapangkan hati kita untuk bisa menerima keimanan? Siapa yang menjadikan kita mau dan sanggup melangkah lalu mendatangi masjid untuk melakukan shalat berjamaah? <strong>Allah swt</strong>. Itulah sebabnya, Allah swt berfirman <strong>“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah:”Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (Q.S Al Hujuraat : 17).</strong></p>
<p>Amal saja, bukan jaminan untuk masuk surga. Jadi, yang diminta dari kita adalah melakukan ketaatan dengan perasaan ingin mendapatkan ridha Allah dan pahala dari Allah. Mengharap kemurahan Allah, ampunan-Nya, kelembutan Allah kepada kita melaluui amal-amal shalih yang dilakukan. Ada sandaran hadits yang paling tepat untuk masalah ini. Rasulullah saw bersabda,”<strong> Amal takkan memasukkan seseorang kalian ke dalam surga.” Sahabat bertanya,”Apakah termasuk engkau ya Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab,”Termasuk aku kecuali Allah meliputiku dengan Kasih Sayang-Nya.”</strong></p>
<p>Saudaraku,</p>
<p>Salah satu ciri orang yang mengandalkan amal dalam mengerjakan ketaatan, adalah ketika ia sedikit harapannya untuk bisa mendapatkan ampunan Allah swt saat melakukan kesalahan. Itu sambungan perkataan Ibnu Athaillah ra. Artinya, ketika amal-amal yang kita lakukan sedikit, sementara kita juga melakukan dosa, hendaknya kita tetap memohon, meminta dan berharap kepada Allah swt untuk terus memberi ampunan. Tidak pesimis atas rahmat Allah swt.</p>
<p>Mari merenung saudaraku,</p>
<p>Jangan sampai kita berkhayal dengan modal amal-amal shalih yang kita lakukan di dunia ini, lalu kita berarti telah menebus harga untuk berhak masuk surga. Sebab ketika kita bersyukur secara lisan atas karunia Allah kepada kita, kita juga harus bersyukur atas nikmat Allah yang menggerakkan lisan dan hati ini untuk bersyukur. Jika kita berdiri salat malam, maka kita harus bersyukur memuji Allah yang telah menolong dan membantu kita untuk berdiri di hadapan-Nya, di tengah malam. Andai bukan karena kecintaan Allah kepada kita, andai bukan karena pertolongan Allah dan bantuan Allah kepada kita, andai bukan karena kebaikan dan keMaha-Lembutan Allah kepada kita, kita takkan bisa melakukan itu semua.</p>
<p>Saudaraku,</p>
<p>Ada kisah seorang istri shalihat di zaman salafushalih. Suatu malam, sang suami bangun tengah malam dan melihat istrinya sedang salat di salah satu sudut rumahnya. Dalam salat itu, ia mendengar ungkapan yang diucapkan istrinya saat sujud. “<strong>Ya Allah sungguh aku memohon cinta-Mu kepadaku untuk bisa membahagiakanku, menjadikan aku sehat dan menjadikan aku mulia di hadapan-Mu..</strong> dan seterusnya.</p>
<p>Sang suami heran mendengar doa ini. Ia menunggu sampai istrinya selesai salat dan memanggilnya,”mengapa engkau meminta seperti itu kepada Allah. Katakanlah “Ya Allah dengan cintaku kepada-Mu, aku memohon kepada-Mu agar membahagiakan aku, memuliakan aku, … dan seterusnya. Istrinya menjawab,” suamiku, andai bukan karena cinta-Nya kepadaku, maka aku takkan sanggup bangun di waktu seperti sekarang ini. Andai bukan karena-Nya kepadaku, aku takkan bisa berdiri di hadapan-Nya sekarang. Andai bukan karena cinta-Nya kepadaku, akupun takkan bisa berucap doa seperti tadi..”</p>
<p>Saudaraku,</p>
<p>Seperti itulah ruh dari doa yang dikisahkan Syaikh Al Buthi, bahwa salah satu yang diajarkan ayahnya dalam doa adalah dengan mengatakan, <strong>“Ya Rabb, aku bersyukur kepada-Mu, akan tetapi Engkaulah yang menginspirasikan aku untuk bersyukur kepada-Mu. Maka syukurku kepada-Mu mengharuskan aku bersyukur pula karena Engkau telah membantuku untuk bisa bersyukur kepada-Mu. Engkaulah Pencipta segala sesuatu. Engkaulah Yang Maha Lembut kepadaku di setiap keadaan..”</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/narinawati.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/narinawati.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/narinawati.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/narinawati.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/narinawati.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/narinawati.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/narinawati.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/narinawati.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/narinawati.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/narinawati.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/narinawati.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/narinawati.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/narinawati.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/narinawati.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=narinawati.wordpress.com&amp;blog=3497978&amp;post=144&amp;subd=narinawati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://narinawati.wordpress.com/2011/07/15/andai-bukan-karena-cinta-nya-kepadaku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/c7ffa6f7b82deb5bb2f75e22eb29d9ee?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">narinawati</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
